as written on; Friday, April 3, 2009
6:32 PM | 0 comments
Still Remember You – 2
—Benarkah wajahnya terlihat murung?
Okay, seorang Leoma Leicester masih menguasai pikirannya. Itu tuh, anak Ravenclaw kelas tujuh yang nampaknya sangat nge-fans dengan Flave. Tidak tahu? Masa bodo ah. Memang seharusnya ia tidak dikenal semua orang kan? Dia itu sinting, gila, psycho! Masa kemarin saat ia berjalan menuju perpustakaan kemudian ia langsung disapa dengan pisau lipat kecil yang hampir saja melukai lehernya? Benar-benar mirip seperti adik kelasnya di Slytherin. Dia lupa namanya. Oh ya, dia kan kena penyakit pelupa stadium akhir?
“Hai Flave! Yeah, memang sore yang indah!”
Eh, ada anak yang lainnya? Rasa-rasanya ia baru saja melihat Rie, Sang-hee, dan senior Marie Ann yang ada disana. Mengapa suara itu rasanya dekat yah? Ia menolehkan kepalanya ke sudut manapun. Dan.. oh, Vionna. Anak Gryffindor seangkatannya yang—flashback?—berkenalan dengannya saat ia tengah asyiknya menulis puisi, kemudian Flave berkenalan dengannya dan satu lagi dengan.. Err, Flave lupa—lagi—namanya. Dan orangnya sekarang jarang terlihat. Kemana saja anak itu? Dan rasanya ia baru lihat Vionna juga hari ini. Gadis itu memandang kearah langit yang oranye. Sekawanan burung gagak masih saja melintas alam.
“Iya, indah sekali,”
Siapa yang bersuara sekarang? Anak Slytherin? Kalau memang begitu, lengkaplah sudah anak-anak dari empat asrama berkumpul di satu tempat yang bernama menara astronomi hanya sekedar menyaksikan sang pemberi cahaya di siang hari itu tenggelam tanpa bekas. Menunggu jam makan malam yang masih terbilang lama bagi Flave. Makan malam dengan santai, bersama teman-temannya, sedikit bercuap tentang pelajaran hari ini, bahkan terselip diantaranya tentang laki-laki tampan yang ada disini. Pentingkah topik itu? “Hai Flave, sore yang indah memang,” ujar gadis itu. Cheezta Oneilyne—hey, sekarang ada dua Chee diasramanya!—duduk diatas tembok pembatas. Komentar yang sama dengan Vionna barusan.
Ia hanya tersenyum sedikit. Kebiasaan Flave yang jarang sekali ia lakukan. Padahal biasanya Flave tersenyum manis meskipun ada ruang kelam dihatinya. Masa seorang Flavarel Montez yang dikenal murah senyum sekarang jadi ogah-ogahan untuk tersenyum? Ia bisa menunduk. Hampir menitikkan air mata karena seorang laki-laki psycho yang dengan terpaksa harus dijodohkan dengannya. Benar-benar sial kau, Flave. Sangat sial. “Eh Flave, kemari!” ajak Chee untuk duduk disampingnya. Wow, pegal juga kakinya setelah tadi sempat terjatuh. Untung tidak sampai terguling dan membuatnya gegar otak, kemudian dirawat di St. Mungo. Kalau misalnya begitu, berarti sialnya sudah dua kali lipat.
“Sejak kapan disini, Chee? Mengapa aku baru melihatmu ya?” sahutnya sambil duduk disebelahnya. Ia mengenakan sweater kuning genjreng. Kedinginan, eh? Yeah, Flave juga merasakan begitu sih. Meskipun menggunakan jaket tipis berwarna biru tua yang ia anggap dapat menghangatkannya, tapi tetap saja.. Begitulah. Tidak ada kata yang lain lagi. “Mereka kenapa?” tanya Chee menunjuk duo Ravenclaw yang menempati tempat ini terlebih dahulu. Flave sendiri tidak tahu mengapa mereka hanya berdua saja. Obrolan privasi, mungkin. “Entahlah,” ujarnya mengangkat bahu. Tapi, ia menanyakan itu kepada siapa? Atau malah Flave sendiri kege-eran?
Ada yang datang lagi. Seorang anak laki-laki—Ravenclaw. Bagus, biarlah Ravenclaw menguasai tempat ini. Silahkan, Flave jadi tidak betah berada disini. Tapi, ada laki-laki lain yang datang. Ia menyapa Cheezta disebelahnya. Dari suaranya.. Err, Azrael—prefek baru Hufflepuff? Well, that’s so awesome melihat teman-temannya baru diangkat menjadi prefek. Tidakkah ia melihat dirinya disebelah Cheezta? “Azrael—“ sapanya sambil mengangkat tangan kanannya agak tinggi. “—Dasar kau tidak menyapaku tadi!” mimik wajahnya seketika berubah menjadi cemberut. Jadi, ia sudah lupa padanya ya? “Just kidding.. Hehe..”
Okay, seorang Leoma Leicester masih menguasai pikirannya. Itu tuh, anak Ravenclaw kelas tujuh yang nampaknya sangat nge-fans dengan Flave. Tidak tahu? Masa bodo ah. Memang seharusnya ia tidak dikenal semua orang kan? Dia itu sinting, gila, psycho! Masa kemarin saat ia berjalan menuju perpustakaan kemudian ia langsung disapa dengan pisau lipat kecil yang hampir saja melukai lehernya? Benar-benar mirip seperti adik kelasnya di Slytherin. Dia lupa namanya. Oh ya, dia kan kena penyakit pelupa stadium akhir?
“Hai Flave! Yeah, memang sore yang indah!”
Eh, ada anak yang lainnya? Rasa-rasanya ia baru saja melihat Rie, Sang-hee, dan senior Marie Ann yang ada disana. Mengapa suara itu rasanya dekat yah? Ia menolehkan kepalanya ke sudut manapun. Dan.. oh, Vionna. Anak Gryffindor seangkatannya yang—flashback?—berkenalan dengannya saat ia tengah asyiknya menulis puisi, kemudian Flave berkenalan dengannya dan satu lagi dengan.. Err, Flave lupa—lagi—namanya. Dan orangnya sekarang jarang terlihat. Kemana saja anak itu? Dan rasanya ia baru lihat Vionna juga hari ini. Gadis itu memandang kearah langit yang oranye. Sekawanan burung gagak masih saja melintas alam.
“Iya, indah sekali,”
Siapa yang bersuara sekarang? Anak Slytherin? Kalau memang begitu, lengkaplah sudah anak-anak dari empat asrama berkumpul di satu tempat yang bernama menara astronomi hanya sekedar menyaksikan sang pemberi cahaya di siang hari itu tenggelam tanpa bekas. Menunggu jam makan malam yang masih terbilang lama bagi Flave. Makan malam dengan santai, bersama teman-temannya, sedikit bercuap tentang pelajaran hari ini, bahkan terselip diantaranya tentang laki-laki tampan yang ada disini. Pentingkah topik itu? “Hai Flave, sore yang indah memang,” ujar gadis itu. Cheezta Oneilyne—hey, sekarang ada dua Chee diasramanya!—duduk diatas tembok pembatas. Komentar yang sama dengan Vionna barusan.
Ia hanya tersenyum sedikit. Kebiasaan Flave yang jarang sekali ia lakukan. Padahal biasanya Flave tersenyum manis meskipun ada ruang kelam dihatinya. Masa seorang Flavarel Montez yang dikenal murah senyum sekarang jadi ogah-ogahan untuk tersenyum? Ia bisa menunduk. Hampir menitikkan air mata karena seorang laki-laki psycho yang dengan terpaksa harus dijodohkan dengannya. Benar-benar sial kau, Flave. Sangat sial. “Eh Flave, kemari!” ajak Chee untuk duduk disampingnya. Wow, pegal juga kakinya setelah tadi sempat terjatuh. Untung tidak sampai terguling dan membuatnya gegar otak, kemudian dirawat di St. Mungo. Kalau misalnya begitu, berarti sialnya sudah dua kali lipat.
“Sejak kapan disini, Chee? Mengapa aku baru melihatmu ya?” sahutnya sambil duduk disebelahnya. Ia mengenakan sweater kuning genjreng. Kedinginan, eh? Yeah, Flave juga merasakan begitu sih. Meskipun menggunakan jaket tipis berwarna biru tua yang ia anggap dapat menghangatkannya, tapi tetap saja.. Begitulah. Tidak ada kata yang lain lagi. “Mereka kenapa?” tanya Chee menunjuk duo Ravenclaw yang menempati tempat ini terlebih dahulu. Flave sendiri tidak tahu mengapa mereka hanya berdua saja. Obrolan privasi, mungkin. “Entahlah,” ujarnya mengangkat bahu. Tapi, ia menanyakan itu kepada siapa? Atau malah Flave sendiri kege-eran?
Ada yang datang lagi. Seorang anak laki-laki—Ravenclaw. Bagus, biarlah Ravenclaw menguasai tempat ini. Silahkan, Flave jadi tidak betah berada disini. Tapi, ada laki-laki lain yang datang. Ia menyapa Cheezta disebelahnya. Dari suaranya.. Err, Azrael—prefek baru Hufflepuff? Well, that’s so awesome melihat teman-temannya baru diangkat menjadi prefek. Tidakkah ia melihat dirinya disebelah Cheezta? “Azrael—“ sapanya sambil mengangkat tangan kanannya agak tinggi. “—Dasar kau tidak menyapaku tadi!” mimik wajahnya seketika berubah menjadi cemberut. Jadi, ia sudah lupa padanya ya? “Just kidding.. Hehe..”
6:30 PM | 0 comments
Still Remember You – 1
—Mimpi itu pun berubah menjadi sangat buruk.
Flave seperti tak ada cara untuk mengakali agar mimpi buruk itu tidak terus menghantuinya. Sore itu memang bukan waktunya untuk tidur agar paginya tidak seburuk tadi. Tapi, sejak pelajaran selesai, ia langsung bergegas ke asramanya dan tidur sejenak di kamarnya. Rambutnya yang hitam—entah kenapa rambutnya langsung berubah dari warna coklat ke warna hitam—dikuncir kuda seperti biasanya. Dan saat terlelap untuk beberapa saat, otaknya kembali mengulang kembali apa yang ia anggap mimpi buruknya itu. Dan saat mencoba untuk membaca ulang buku pelajaran Transfigurasinya—sejak kapan Flave serajin ini?—setidaknya untuk mengakali tadi, bayangan itu langsung melintas dihadapannya. Benar mimpi buruk!
—Ia melenggang menuju menara.
Entah apalah tujuannya. Apakah ia hanya sekedar ingin mengintip teriknya matahari sebelum terbenam atau apalah—yang jelas tak ada hubungannya dengan pelajaran Astronomi—yang dapat membuat penatnya sedikit hilang. Mungkin saja ia bisa bertemu teman-temannya yang ada di asrama Gryffindor dan Ravenclaw secara tak sengaja, kemudian mengobrol sampai agak larut, dan kembali ke asrama masing-masing dengan perasaan lega. Puluhan anak tangga ia lewati dengan santai. Walau bayangan itu menemaninya setiap saat, ia pura-pura tak peduli. Sempat terpeleset di lantai empat, tapi itu tidak menjadi penghalangnya untuk segera kesana.
—Siapa disitu?
Sampailah ia di menara astronomi—Hell, kenapa kesini-sini juga?—dan ia melihat langit senja yang enggan tenggelam sebelum waktunya. Sempat ia mendengar suara burung-burung gagak yang berseru dan berterbangan menuju barat, menghadap matahari. Wew, tidak silau kali ya matanya? Langkahnya mulai pelan. Well, ada orang juga disana. Park Sang-hee dari Gryffindor—ia pernah satu kelompok dengannya saat kelas dua. Sudah berapa kali kukatakan, eh?—yang kelihatannya tadi datang dengan tergesa-gesa, ada Rie Ueshima dari Ravenclaw—ia pernah berkenalan dengannya di Hogwarts Express—dan juga.. Senior Marie Ann—ia sempat cemburu dengannya. Tahu kenapa?—Wow, ramai juga ya? Padahal tidak janjian sebelumnya.
“Wew, sore yang indah,” ujarnya pada mereka bertiga. Entahlah, apa mereka akan merespon kata-katanya tadi. Masa bodo ah. Nyatanya, Flave sudah menyapa mereka kan?
Ia menilik jauh keluar sana. Memandang sang raja siang yang akan digantikan posisinya sementara oleh sang dewi malam. Melihat gumpalan awan yang mulai memudar, dan yang nanti akan berubah menjadi berjuta-juta cahaya yang—kata profesor Sinistra—akan membentuk konstelasinya sendiri. Benar tidak sih? Cerdas juga Flave ini. Yap, Flave berusaha mati-matian untuk mendapat nilai yang baik saat ujian OWL nanti. Parah jika kau menyelewengkan itu dan melanjutkan cumbuanmu dengan seseorang yang menyayangimu. Okay, okay, Atsuko masih membayanginya, tapi laki-laki itu lebih menguasai pikirannya sekarang. Perjodohan tanpa keputusannya itu—mimpi buruknya.
—Yang ingin ia batalkan. Secepatnya.
Flave seperti tak ada cara untuk mengakali agar mimpi buruk itu tidak terus menghantuinya. Sore itu memang bukan waktunya untuk tidur agar paginya tidak seburuk tadi. Tapi, sejak pelajaran selesai, ia langsung bergegas ke asramanya dan tidur sejenak di kamarnya. Rambutnya yang hitam—entah kenapa rambutnya langsung berubah dari warna coklat ke warna hitam—dikuncir kuda seperti biasanya. Dan saat terlelap untuk beberapa saat, otaknya kembali mengulang kembali apa yang ia anggap mimpi buruknya itu. Dan saat mencoba untuk membaca ulang buku pelajaran Transfigurasinya—sejak kapan Flave serajin ini?—setidaknya untuk mengakali tadi, bayangan itu langsung melintas dihadapannya. Benar mimpi buruk!
—Ia melenggang menuju menara.
Entah apalah tujuannya. Apakah ia hanya sekedar ingin mengintip teriknya matahari sebelum terbenam atau apalah—yang jelas tak ada hubungannya dengan pelajaran Astronomi—yang dapat membuat penatnya sedikit hilang. Mungkin saja ia bisa bertemu teman-temannya yang ada di asrama Gryffindor dan Ravenclaw secara tak sengaja, kemudian mengobrol sampai agak larut, dan kembali ke asrama masing-masing dengan perasaan lega. Puluhan anak tangga ia lewati dengan santai. Walau bayangan itu menemaninya setiap saat, ia pura-pura tak peduli. Sempat terpeleset di lantai empat, tapi itu tidak menjadi penghalangnya untuk segera kesana.
—Siapa disitu?
Sampailah ia di menara astronomi—Hell, kenapa kesini-sini juga?—dan ia melihat langit senja yang enggan tenggelam sebelum waktunya. Sempat ia mendengar suara burung-burung gagak yang berseru dan berterbangan menuju barat, menghadap matahari. Wew, tidak silau kali ya matanya? Langkahnya mulai pelan. Well, ada orang juga disana. Park Sang-hee dari Gryffindor—ia pernah satu kelompok dengannya saat kelas dua. Sudah berapa kali kukatakan, eh?—yang kelihatannya tadi datang dengan tergesa-gesa, ada Rie Ueshima dari Ravenclaw—ia pernah berkenalan dengannya di Hogwarts Express—dan juga.. Senior Marie Ann—ia sempat cemburu dengannya. Tahu kenapa?—Wow, ramai juga ya? Padahal tidak janjian sebelumnya.
“Wew, sore yang indah,” ujarnya pada mereka bertiga. Entahlah, apa mereka akan merespon kata-katanya tadi. Masa bodo ah. Nyatanya, Flave sudah menyapa mereka kan?
Ia menilik jauh keluar sana. Memandang sang raja siang yang akan digantikan posisinya sementara oleh sang dewi malam. Melihat gumpalan awan yang mulai memudar, dan yang nanti akan berubah menjadi berjuta-juta cahaya yang—kata profesor Sinistra—akan membentuk konstelasinya sendiri. Benar tidak sih? Cerdas juga Flave ini. Yap, Flave berusaha mati-matian untuk mendapat nilai yang baik saat ujian OWL nanti. Parah jika kau menyelewengkan itu dan melanjutkan cumbuanmu dengan seseorang yang menyayangimu. Okay, okay, Atsuko masih membayanginya, tapi laki-laki itu lebih menguasai pikirannya sekarang. Perjodohan tanpa keputusannya itu—mimpi buruknya.
—Yang ingin ia batalkan. Secepatnya.
