as written on; Thursday, April 30, 2009
8:32 PM | 0 comments
Be Mine Forever — 3
Blushing. Kau bisa lihat dari tingkah lakunya yang kini mulai salah tingkah—beginilah kalau habis dikerjai, sobat—dan pipinya yang jelas-jelas terlihat merah semu. Terlebih kalau kau dikerjai dengan seseorang yang kau.. sayangi, mungkin? Umm—patut dipertanyakan—status mereka apa sih sebetulnya?
Entahlah.
Dan ngomong-ngomong soal pasangan tadi, tinggal beberapa langkah lagi mereka akan berpapasan dengan Flave dan Kevin. Pandangannya sedikit teralih saat pasangan tersebut melangkah melintasi mereka. Mesra. Sangat terlihat dari gesture tubuh mereka. Sebelah tangan sang lelaki yang menggamit pinggang sang perempuan yang ramping. Selayaknya Adam dan Hawa, siapa yang tidak tahu kisah cinta mereka sih? Turun dari langit untuk memberi cinta di tempatnya berpijak saat ini. How sweet. Rasa yang tak terkalahkan oleh waktu itu dirasakan oleh pasangan tersebut. Oh—kau tahu apa? Flave merasa pasangan itu tengah melirik mereka, ketahuan dari mata biru laut sang Adam yang memicing kearahnya—seorang gadis latin bersama seorang lelaki bernama Kevin Winchester—dan menyeringai manis. Seolah sang lelaki itu menyembunyikan sesuatu dari Flave.
Tanpa sadar, pipinya memerah lagi melihat pasangan tersebut—pandangannya kini teralih pada Kevin, yang mulai..menggombal lagi. Pipinya merasakan sesuatu yang agak dingin ketika lelaki itu mulai membelai lembut pipinya. Aura musim dingin, barangkali. "Dan lihat wajahmu sekarang," —kedua bola matanya menatap teduh sang Adam yang kini tengah berada dihadapannya— "kau seperti tukang rayu sejati, kalau kau mau tahu," tangannya langsung, dengan isengnya, menggelitik pinggangnya. Oh well, biarkan suasana disini bertambah hangat, tanpa memperdulikan seluruh eksistensi yang mengelilinginya kali ini.
—I wanted more than just an ordinary life
All of my dreams seemed like castle in the sky
"Humm—mungkin aku akan kedalam," —ia melepaskan tangannya dari sang patung bergerak itu (okay, itu bercanda)— "kau juga mau mungkin?" senyumannya menipis. Pandangannya beralih kepada pasangan yang baru beberapa langkah dari mereka. Lima langkah mungkin. Ah, bukannya apa-apa, hanya saja—apakah mereka sengaja menguntit Flave sedari tadi? Entahlah. Namun, sekejap ia hanya melihat seberkas cahaya—menghilang? Bagaimana bisa? Entahlah—untuk kedua kalinya. Matanya kembali memandang bola abu milik lelaki itu. Lelaki yang bisa dibilang—sahabat atau apa? Jujur, ia masih bingung dengan status mereka yang.. kurang jelas, bisa dibilang. Janjinya saat natal kemarin pada dirinya sendiri, ia harus bicara hanya empat mata dengan Kevin. "Boleh kutanya sesuatu?" matanya mengerjap pelan ketika ia bertanya.
—In my heart I still believe
We were meant to be
Together so whatever it takes
Ragu. "Err—nanti saja. Mau pesan sesuatu tidak?" Ragu baginya menanyakan hal ini. Dan berkasan cahaya itu melenyap tanpa bekas. Ia tahu itu—ekor matanya tak bisa lepas dari pemandangan aneh itu.
OoC: Credit to 'Before Your Love' by Kelly Clarkson, and also 'Baby Come Back To Me' by Vanessa Hudgens.
Entahlah.
Dan ngomong-ngomong soal pasangan tadi, tinggal beberapa langkah lagi mereka akan berpapasan dengan Flave dan Kevin. Pandangannya sedikit teralih saat pasangan tersebut melangkah melintasi mereka. Mesra. Sangat terlihat dari gesture tubuh mereka. Sebelah tangan sang lelaki yang menggamit pinggang sang perempuan yang ramping. Selayaknya Adam dan Hawa, siapa yang tidak tahu kisah cinta mereka sih? Turun dari langit untuk memberi cinta di tempatnya berpijak saat ini. How sweet. Rasa yang tak terkalahkan oleh waktu itu dirasakan oleh pasangan tersebut. Oh—kau tahu apa? Flave merasa pasangan itu tengah melirik mereka, ketahuan dari mata biru laut sang Adam yang memicing kearahnya—seorang gadis latin bersama seorang lelaki bernama Kevin Winchester—dan menyeringai manis. Seolah sang lelaki itu menyembunyikan sesuatu dari Flave.
Tanpa sadar, pipinya memerah lagi melihat pasangan tersebut—pandangannya kini teralih pada Kevin, yang mulai..menggombal lagi. Pipinya merasakan sesuatu yang agak dingin ketika lelaki itu mulai membelai lembut pipinya. Aura musim dingin, barangkali. "Dan lihat wajahmu sekarang," —kedua bola matanya menatap teduh sang Adam yang kini tengah berada dihadapannya— "kau seperti tukang rayu sejati, kalau kau mau tahu," tangannya langsung, dengan isengnya, menggelitik pinggangnya. Oh well, biarkan suasana disini bertambah hangat, tanpa memperdulikan seluruh eksistensi yang mengelilinginya kali ini.
—I wanted more than just an ordinary life
All of my dreams seemed like castle in the sky
"Humm—mungkin aku akan kedalam," —ia melepaskan tangannya dari sang patung bergerak itu (okay, itu bercanda)— "kau juga mau mungkin?" senyumannya menipis. Pandangannya beralih kepada pasangan yang baru beberapa langkah dari mereka. Lima langkah mungkin. Ah, bukannya apa-apa, hanya saja—apakah mereka sengaja menguntit Flave sedari tadi? Entahlah. Namun, sekejap ia hanya melihat seberkas cahaya—menghilang? Bagaimana bisa? Entahlah—untuk kedua kalinya. Matanya kembali memandang bola abu milik lelaki itu. Lelaki yang bisa dibilang—sahabat atau apa? Jujur, ia masih bingung dengan status mereka yang.. kurang jelas, bisa dibilang. Janjinya saat natal kemarin pada dirinya sendiri, ia harus bicara hanya empat mata dengan Kevin. "Boleh kutanya sesuatu?" matanya mengerjap pelan ketika ia bertanya.
—In my heart I still believe
We were meant to be
Together so whatever it takes
Ragu. "Err—nanti saja. Mau pesan sesuatu tidak?" Ragu baginya menanyakan hal ini. Dan berkasan cahaya itu melenyap tanpa bekas. Ia tahu itu—ekor matanya tak bisa lepas dari pemandangan aneh itu.
OoC: Credit to 'Before Your Love' by Kelly Clarkson, and also 'Baby Come Back To Me' by Vanessa Hudgens.
Labels: flave, graduated from hogwarts, kevin, plot
as written on; Wednesday, April 29, 2009
7:19 AM | 0 comments
Feliz Navidad!
25 Desember 1980. Siang.
"Hmm.. Not bad, actually. Masakan buatanmu oke kok," pujian itu langsung terlontar dari bibir seorang laki-laki bernama Flavanno Alesando Montez ketika ia mencicipi sedikit masakan yang baru saja dibuat oleh adiknya, Flavarel Allesha Montez. Ahaha.. Ternyata Flave berbakat juga menjadi seorang juru masak. Padahal biasanya, Flave yang bersemangat mengajak Anno untuk makan diluar alih-alih memasak sendiri di rumah. Yeah, khusus Natal kali ini sih sebenarnya, ia memasak Payaya—yang biasanya terdiri dari nasi, sea food, dan daging ayam. Resepnya sendiri sih baru dikirim oleh Mom yang ternyata sudah pulang terlebih dahulu ke Spanyol. Ah, aneh rasanya tinggal berdua bersama kakak yang secara tampang agak jauh. Hahaha.. Bercanda kok. Apa rasanya seperti tinggal dengan suami sendiri ya?
Jauh amat kau memikirkan soal itu, Flavarel.
"Thanks," jawabannya simple, bukan? Well, bukannya Flave sedang irit bicara sih sebetulnya, hanya saja—apa lagi yang bisa ia katakan selain 'terima kasih' atas pujian yang diberikan kakaknya itu? Coba saja kalau kau menjawabnya dengan, 'pergi sana, aku sudah tidak sudi melihatmu lagi!'—itu kurang ajar namanya, tahu. Matanya mengerjap pelan dan menilik kearah kakaknya yang kini mulai usil mengambil satu sendok payaya yang sebetulnya belum disajikan itu. "Hoy! Tunggu dulu sambil menonton televisi, apa susahnya sih?" ujarnya dengan nada mezzosopran yang sedikit meninggi sambil menepuk pergelangan lengan atas Anno dengan agak kencang. Tahu rasa kalau merasa sedikit sakit, usil begitu. Dan lagi-lagi kakaknya hanya pasang cengiran lebar yang—rasanya—mengundang Flave untuk menabok pipinya.
Bukan menampar, tampar sama tabok itu beda.
...
Apa barangkali sama ya?
"Voy a obedecer lo que dices, querida1," balasnya dengan nada jahil sambil mengecup pipi kirinya. Ah dasar! Sumpah, rasanya ia ingin menabok pipinya sekali saja. But—err—that remind herself to a visit to the Three Broomstick some time ago, dimana ia mencium pipi kanan Kevin. Bisakah itu dianggap ciuman persahabatan? Tetapi—yeah—he called Flave as a 'darling', do you know that? And that means, laki-laki itu menganggapnya bahkan lebih dari sekedar sahabat. What else, if not a girlfriend?
"Té extrańo, Querido."
"—I miss you too, Dear."*
Ia butuh bicara hanya empat mata dengan Winchester.
*****
"Oh, hey, kemarin aku baru saja bertemu dengan teman lamaku. Kau tahu si Escàrcega yang tomboy itu kan? Ah, tujuh tahun lamanya aku tidak bertemu dengannya, dia malah kelihatan tambah cantik, seriously. Rasanya—"
"Sang-hee mau dikemanakan, mi querido hermano2?" tanyanya penasaran setelah ia menyuapi dirinya dengan satu sendok makan nasi dan daging ayam yang baru saja ia masak—beberapa menit yang lalu. Kalau dilihat-lihat, ia memasak dengan porsi tiga orang. Oh, biasalah, terkadang lelaki suka makan lebih banyak ketimbang perempuan. Ahaha.. Sengaja ia potong mengenai cerita Anno tentang kemarin ketika ia pergi ke Starbucks karena—yeah—you know what. Anno sempat naksir Sang-hee—yang notabene sahabatnya dari asrama Gryffindor—dan kini mulai berpaling ke Savana Escàrcega? Ckckck.. Dasar mata keranjang. Sekalinya yang tidak diharapkan mendatanginya, langsung berpaling ke yang lain. Ada-ada saja. "Kau bilang kau lebih menyukai gadis Asia, bagaimana sih?" Flave langsung pura-pura memasang tampang mencurigakan pada Anno. "Tapi siapa yang tahu juga kalau dia juga memiliki tampang yang lumayan? Selama tujuh tahun aku tidak bertemu dengannya semenjak lulus dari Hogwarts. Dios, terlebih lagi dia juga berasal dari Spanyol. So, bisa jadi memiliki kesukaan yang sama, rite?"
"—Lelaki itu, kalau sudah menemukan orang yang cocok dengannya, bisa jadi kalau menceritakannya kau akan menganggapnya cerewet."
Terima kasih untuk Sierra McKannon atas teorinya, kalau begitu. Hahaha..
"Lo que cada vez que usted dice, mi hermano3," ujarnya sambil menyantap kembali Payaya buatannya. Mubazir kalau tidak dinikmati. Terlebih lagi hari ini adalah hari natal. Meskipun hanya dinikmati berdua saja—uh well, natal bersama kakak yang menyebalkan rasanya menyenangkan juga, by the way—setidaknya ada makna yang terselip didalamnya, rite? Kekeluargaan, sangat dipegang teguh oleh keluarga Montez.
¡Feliz Navidad!4
————————————————————————
OoC:
1I will obey what you say, dear.
2my dearest brother
3Whatever you say, my brother.
4Merry Christmas!
*from Another Day thread.
"Hmm.. Not bad, actually. Masakan buatanmu oke kok," pujian itu langsung terlontar dari bibir seorang laki-laki bernama Flavanno Alesando Montez ketika ia mencicipi sedikit masakan yang baru saja dibuat oleh adiknya, Flavarel Allesha Montez. Ahaha.. Ternyata Flave berbakat juga menjadi seorang juru masak. Padahal biasanya, Flave yang bersemangat mengajak Anno untuk makan diluar alih-alih memasak sendiri di rumah. Yeah, khusus Natal kali ini sih sebenarnya, ia memasak Payaya—yang biasanya terdiri dari nasi, sea food, dan daging ayam. Resepnya sendiri sih baru dikirim oleh Mom yang ternyata sudah pulang terlebih dahulu ke Spanyol. Ah, aneh rasanya tinggal berdua bersama kakak yang secara tampang agak jauh. Hahaha.. Bercanda kok. Apa rasanya seperti tinggal dengan suami sendiri ya?
Jauh amat kau memikirkan soal itu, Flavarel.
"Thanks," jawabannya simple, bukan? Well, bukannya Flave sedang irit bicara sih sebetulnya, hanya saja—apa lagi yang bisa ia katakan selain 'terima kasih' atas pujian yang diberikan kakaknya itu? Coba saja kalau kau menjawabnya dengan, 'pergi sana, aku sudah tidak sudi melihatmu lagi!'—itu kurang ajar namanya, tahu. Matanya mengerjap pelan dan menilik kearah kakaknya yang kini mulai usil mengambil satu sendok payaya yang sebetulnya belum disajikan itu. "Hoy! Tunggu dulu sambil menonton televisi, apa susahnya sih?" ujarnya dengan nada mezzosopran yang sedikit meninggi sambil menepuk pergelangan lengan atas Anno dengan agak kencang. Tahu rasa kalau merasa sedikit sakit, usil begitu. Dan lagi-lagi kakaknya hanya pasang cengiran lebar yang—rasanya—mengundang Flave untuk menabok pipinya.
Bukan menampar, tampar sama tabok itu beda.
...
Apa barangkali sama ya?
"Voy a obedecer lo que dices, querida1," balasnya dengan nada jahil sambil mengecup pipi kirinya. Ah dasar! Sumpah, rasanya ia ingin menabok pipinya sekali saja. But—err—that remind herself to a visit to the Three Broomstick some time ago, dimana ia mencium pipi kanan Kevin. Bisakah itu dianggap ciuman persahabatan? Tetapi—yeah—he called Flave as a 'darling', do you know that? And that means, laki-laki itu menganggapnya bahkan lebih dari sekedar sahabat. What else, if not a girlfriend?
"Té extrańo, Querido."
"—I miss you too, Dear."*
Ia butuh bicara hanya empat mata dengan Winchester.
*****
"Oh, hey, kemarin aku baru saja bertemu dengan teman lamaku. Kau tahu si Escàrcega yang tomboy itu kan? Ah, tujuh tahun lamanya aku tidak bertemu dengannya, dia malah kelihatan tambah cantik, seriously. Rasanya—"
"Sang-hee mau dikemanakan, mi querido hermano2?" tanyanya penasaran setelah ia menyuapi dirinya dengan satu sendok makan nasi dan daging ayam yang baru saja ia masak—beberapa menit yang lalu. Kalau dilihat-lihat, ia memasak dengan porsi tiga orang. Oh, biasalah, terkadang lelaki suka makan lebih banyak ketimbang perempuan. Ahaha.. Sengaja ia potong mengenai cerita Anno tentang kemarin ketika ia pergi ke Starbucks karena—yeah—you know what. Anno sempat naksir Sang-hee—yang notabene sahabatnya dari asrama Gryffindor—dan kini mulai berpaling ke Savana Escàrcega? Ckckck.. Dasar mata keranjang. Sekalinya yang tidak diharapkan mendatanginya, langsung berpaling ke yang lain. Ada-ada saja. "Kau bilang kau lebih menyukai gadis Asia, bagaimana sih?" Flave langsung pura-pura memasang tampang mencurigakan pada Anno. "Tapi siapa yang tahu juga kalau dia juga memiliki tampang yang lumayan? Selama tujuh tahun aku tidak bertemu dengannya semenjak lulus dari Hogwarts. Dios, terlebih lagi dia juga berasal dari Spanyol. So, bisa jadi memiliki kesukaan yang sama, rite?"
"—Lelaki itu, kalau sudah menemukan orang yang cocok dengannya, bisa jadi kalau menceritakannya kau akan menganggapnya cerewet."
Terima kasih untuk Sierra McKannon atas teorinya, kalau begitu. Hahaha..
"Lo que cada vez que usted dice, mi hermano3," ujarnya sambil menyantap kembali Payaya buatannya. Mubazir kalau tidak dinikmati. Terlebih lagi hari ini adalah hari natal. Meskipun hanya dinikmati berdua saja—uh well, natal bersama kakak yang menyebalkan rasanya menyenangkan juga, by the way—setidaknya ada makna yang terselip didalamnya, rite? Kekeluargaan, sangat dipegang teguh oleh keluarga Montez.
¡Feliz Navidad!4
————————————————————————
OoC:
1I will obey what you say, dear.
2my dearest brother
3Whatever you say, my brother.
4Merry Christmas!
*from Another Day thread.
Labels: anno, flave, graduated from hogwarts, house
as written on; Tuesday, April 28, 2009
1:01 AM | 0 comments
Be Mine Forever — 2
Kau punya feeling yang buruk, dear. Tidak ada orang lain yang berlalu lalang disekitar sini. Coba lihat ke seberang dan kau akan melihat beberapa orang sedang berjalan kesana-sini. Dan kalau kau melihat ke kejauhan sana, kau bisa melihat sepasang kekasih—masih muda sih—tengah bermesraan ria sepanjang jalan. Nah, kau sudah mendapat kesimpulannya, Montez?
Dia tak punya bakat meramal dengan baik. Dammit.
But yeah, beruntung ia memiliki retina yang masih berjalan dengan baik. Ahaha.. Kau tahu maksudnya kan? Tak mungkin ia menganggap sepasang kekasih yang kira-kira sepuluh langkah lagi akan berpapasan dengan gadis Latin itu—dua orang yang sedang bertengkar. Yang perempuan—rambut pirang kecoklatan dengan manik hijau keabuan yang membuatnya menjadi tambah terlihat sangat cantik (meskipun pada kenyataan, perempuan itu memang cantik, artis mungkin?) memakai jaket tebal berwarna putih tulang yang agak sedikit kontras dengan kulitnya yang kuning langsat. Gadis Asia mungkin? Yang laki-laki—bertubuh atletis, rambut hitam cepak, memiliki warna bola mata biru laut dengan sorotan agak tajam (ia tak mengerti kenapa perempuan menyukai lelaki dengan tatapan tajam—yang menurut Flave mirip setan itu?) dan berpenampilan casual. Serba cokelat, benar-benar sangat kontras dengan kulit lelaki itu yang putih pucat.
Semacam vampire? Mungkin kau tahu artikel Daily Prophet yang membahas kerjasama Kementrian Sihir dengan kumpulan vampir yang bermarkas di Volterra, Italia—pernah membacanya kan? Itu bahkan sempat ia perbincangkan dengan beberapa orang rekan divisinya—Sierra McKannon, bukan Serafina McKelsie yang katanya sekarang mulai meniti karier sebagai model, cih. Gadis itu—yang ternyata sama-sama berasal dari Spanyol—hanya membeberkan berita tersebut, karena ia memang tahu banyak tentang kerjasama itu.
Oh well, ya sudahlah, peduli amat tentang masalah Volturi itu.
Lagi-lagi ia celingukan melihat sekitar jalanan Crimmscott yang oh-my-God-tempat-ini-bahkan-mirip-kuburan ini. Hanya ada satu bus yang lewat di jalan itu dan beberapa sepeda antik berkeliaran disana. Dirinya mencurigai seseorang yang ada di bus itu sedang memperhatikannya. Uh yeah, kau kepedean, Flave. Dan ia sampai lupa kalau ia mau memesan sesuatu di dalam. Nanti saja, toh tadi juga pelayannya datang dan ia menolaknya dengan halus—hanya dengan kata-kata seperti, "Urm.. Nanti saja, aku sedang menunggu seseorang," yang sebenarnya—alasan itu terlalu dibuat-buat. Hey, Flavarel Montez, kau datang kesini sendirian, dengan tujuan menikmati teh yang dihidangkan disini sendirian. Sejak kapan kau menunggu seseorang—kecuali barusan ada orang yang menghubungimu entah itu kakakmu atau Sierra yang ingin menemanimu di tempat seperti ini—itu merupakan alasan yang—aneh. Apapunlah yang bisa kau sebut.
"Ehm, maaf, Nona. Sepertinya Anda menempati tempat saya."
Nah kan, bahkan kau menempati tempat orang lain—meskipun tidak ada sesuatu yang menjadi ciri kalau meja yang ia tempati saat itu reserved. Tanpa banyak basa-basi, ia langsung bangkit dari tempat duduknya. "Sorry kalau aku menempati tempatmu," ujarnya tanpa menoleh sedikitpun ke belakang. Well, sepertinya setelah ia pergi dari tempat duduk ini, ia akan langsung memesan dan mencari tempat duduk yang lainnya. Kau memang bodoh, Montez. Dan sekarang, ia baru mengalihkan pandangannya terhadap orang tersebut. Kau tahu siapa dia?
"Kau?" senyuman sumringah langsung mengembang. Dijahili itu—malah membuatnya merasa aneh. Ingin tertawa, tapi ia tahan. Buat apa coba?
Dia tak punya bakat meramal dengan baik. Dammit.
But yeah, beruntung ia memiliki retina yang masih berjalan dengan baik. Ahaha.. Kau tahu maksudnya kan? Tak mungkin ia menganggap sepasang kekasih yang kira-kira sepuluh langkah lagi akan berpapasan dengan gadis Latin itu—dua orang yang sedang bertengkar. Yang perempuan—rambut pirang kecoklatan dengan manik hijau keabuan yang membuatnya menjadi tambah terlihat sangat cantik (meskipun pada kenyataan, perempuan itu memang cantik, artis mungkin?) memakai jaket tebal berwarna putih tulang yang agak sedikit kontras dengan kulitnya yang kuning langsat. Gadis Asia mungkin? Yang laki-laki—bertubuh atletis, rambut hitam cepak, memiliki warna bola mata biru laut dengan sorotan agak tajam (ia tak mengerti kenapa perempuan menyukai lelaki dengan tatapan tajam—yang menurut Flave mirip setan itu?) dan berpenampilan casual. Serba cokelat, benar-benar sangat kontras dengan kulit lelaki itu yang putih pucat.
Semacam vampire? Mungkin kau tahu artikel Daily Prophet yang membahas kerjasama Kementrian Sihir dengan kumpulan vampir yang bermarkas di Volterra, Italia—pernah membacanya kan? Itu bahkan sempat ia perbincangkan dengan beberapa orang rekan divisinya—Sierra McKannon, bukan Serafina McKelsie yang katanya sekarang mulai meniti karier sebagai model, cih. Gadis itu—yang ternyata sama-sama berasal dari Spanyol—hanya membeberkan berita tersebut, karena ia memang tahu banyak tentang kerjasama itu.
Oh well, ya sudahlah, peduli amat tentang masalah Volturi itu.
Lagi-lagi ia celingukan melihat sekitar jalanan Crimmscott yang oh-my-God-tempat-ini-bahkan-mirip-kuburan ini. Hanya ada satu bus yang lewat di jalan itu dan beberapa sepeda antik berkeliaran disana. Dirinya mencurigai seseorang yang ada di bus itu sedang memperhatikannya. Uh yeah, kau kepedean, Flave. Dan ia sampai lupa kalau ia mau memesan sesuatu di dalam. Nanti saja, toh tadi juga pelayannya datang dan ia menolaknya dengan halus—hanya dengan kata-kata seperti, "Urm.. Nanti saja, aku sedang menunggu seseorang," yang sebenarnya—alasan itu terlalu dibuat-buat. Hey, Flavarel Montez, kau datang kesini sendirian, dengan tujuan menikmati teh yang dihidangkan disini sendirian. Sejak kapan kau menunggu seseorang—kecuali barusan ada orang yang menghubungimu entah itu kakakmu atau Sierra yang ingin menemanimu di tempat seperti ini—itu merupakan alasan yang—aneh. Apapunlah yang bisa kau sebut.
"Ehm, maaf, Nona. Sepertinya Anda menempati tempat saya."
Nah kan, bahkan kau menempati tempat orang lain—meskipun tidak ada sesuatu yang menjadi ciri kalau meja yang ia tempati saat itu reserved. Tanpa banyak basa-basi, ia langsung bangkit dari tempat duduknya. "Sorry kalau aku menempati tempatmu," ujarnya tanpa menoleh sedikitpun ke belakang. Well, sepertinya setelah ia pergi dari tempat duduk ini, ia akan langsung memesan dan mencari tempat duduk yang lainnya. Kau memang bodoh, Montez. Dan sekarang, ia baru mengalihkan pandangannya terhadap orang tersebut. Kau tahu siapa dia?
"Kau?" senyuman sumringah langsung mengembang. Dijahili itu—malah membuatnya merasa aneh. Ingin tertawa, tapi ia tahan. Buat apa coba?
Labels: flave, graduated from hogwarts, kevin, plot
12:58 AM | 0 comments
Be Mine Forever — 1
Plot again—bersama Chajar =)) Dan untuk kesekian kalinya, gw menjadi thread starter di thread yang bersetting di The Windmill Tea Company ini. Eh, tapi serius loh tempat ini ada di Inggris. Tadinya, pengen settingnya di Starbucks =)) Oh, well, jadi kebanyakan ngomong yang engga-engga disini. Pokoknya tunggu deh sampe inti ceritanya—nanti barangkali—nongol *kedip-kedip*
Kesampingkan sejenak semua hal yang mungkin terjadi di Kementrian Sihir—terlebih lagi divisinya sedang mengalami kesibukkan luar biasa—dan beri waktu untuk Flave beristirahat.
Yeah, istirahat. Lepaskan semua penat yang memenuhi seluruh syaraf otakmu dan nikmati udara segar diluar sana—meskipun kau sendiri tahu kalau jalanan London kini agak sedikit tercemar oleh polusi udara yang diakibatkan kendaraan-kendaraan bermotor. Uh oh, dan sejak kapan kau menjadi pengamat lingkungan—Flavarel Allesha Montez? Barangkali sejak dirinya lulus dari Hogwarts—yang menurutnya udaranya cukup bersih—dan kini harus menghadapi banyak waktunya di Kementrian dan dunia Muggle, jadi ia banyak-banyak membandingkan dunia Muggle dengan dunia sihir sana—yang sebetulnya keadaannya sedang sangat terancam dengan adanya You-Know-Who. Ah sudahlah, yang seperti itu jangan dibahas lagi. Kau tahu sendiri kan kalau Flave ingin bersantai sejenak?
Ngomong-ngomong, akhir musim dingin seperti ini kenapa cuacanya agak tidak mendukung ya? Oh, dear, lama-lama kau dipindahkan juga ke Divisi Cuaca. Well, sebenarnya bagaimana Flave tidak bisa mengalihkan pandangannya ke jalanan Crimscott yang agak mulai sepi. Terlihat dari iris cokelatnya, hanya ada satu mobil yang melintas di jalan itu dan kemudian beberapa pejalan kaki. Kedua tangannya berusaha kembali merapatkan jaket tebal warna hitamnya dan merapikan rambutnya yang kini malah agak sedikit lurus. Hmm.. Padahal sewaktu kemarin rambutnya masih biasa saja, tuh, bergelombang dan agak berantakan. Oh, jangan bilang kalau kemarin-kemarin ia sempat memakeover dirinya agar terlihat lebih feminin.
Flave itu—semi-tomboy.
Ia tidak pernah suka make-up sebetulnya. Pantas saja kalau wajahnya bahkan tidak terlalu kotor. Hanya saja mungkin karena pernikahan Potter dan Evans dua tahun—atau tiga sih?—lalu yang mengharuskan ia memakai make-up—tipis, by the way, bayangkan Flave datang dengan dandanan menor dia bakal ditertawai seharian. Hmm.. Ngomong-ngomong soal itu, ia jadi keingatan Sang-hee. Bukannya apa-apa. Kakaknya yang super bawel minta ampun itu katanya mulai naksir Sang-hee. Tapi entahlah bagi perempuan Korea itu sendiri. Dan sekarangpun, kakaknya sedang berjalan-jalan lagi keliling dunia. Tujuannya? Mencari pacar. Gila kan? Sangat.
Bahkan selain itu sebetulnya ia sangat tidak suka memakai perhiasan.
Lah loh, kenapa juga ia masih memakai kalung pemberian entah-dari-siapa itu?
Entahlah, aku suka saja dengan kalung ini.
The Windmill Tea Company, bukan perusahaan teh sih sebetulnya, hanya sebuah kedai teh bernuansa klasik yang sering dikunjungi oleh Mom akhir-akhir ini. Katanya sih, Earl Grey Tea-nya lumayan enak. Ah, coba sajalah. Ia langsung mengambil kursi yang sudah disediakan di luar kedai. Sepertinya asik menikmati teh diluar ketimbang didalam.
Entah kenapa sepertinya ia mendengar suara langkah kaki mendekat padanya. Hanya perasaan atau.. Apa?
Kesampingkan sejenak semua hal yang mungkin terjadi di Kementrian Sihir—terlebih lagi divisinya sedang mengalami kesibukkan luar biasa—dan beri waktu untuk Flave beristirahat.
Yeah, istirahat. Lepaskan semua penat yang memenuhi seluruh syaraf otakmu dan nikmati udara segar diluar sana—meskipun kau sendiri tahu kalau jalanan London kini agak sedikit tercemar oleh polusi udara yang diakibatkan kendaraan-kendaraan bermotor. Uh oh, dan sejak kapan kau menjadi pengamat lingkungan—Flavarel Allesha Montez? Barangkali sejak dirinya lulus dari Hogwarts—yang menurutnya udaranya cukup bersih—dan kini harus menghadapi banyak waktunya di Kementrian dan dunia Muggle, jadi ia banyak-banyak membandingkan dunia Muggle dengan dunia sihir sana—yang sebetulnya keadaannya sedang sangat terancam dengan adanya You-Know-Who. Ah sudahlah, yang seperti itu jangan dibahas lagi. Kau tahu sendiri kan kalau Flave ingin bersantai sejenak?
Ngomong-ngomong, akhir musim dingin seperti ini kenapa cuacanya agak tidak mendukung ya? Oh, dear, lama-lama kau dipindahkan juga ke Divisi Cuaca. Well, sebenarnya bagaimana Flave tidak bisa mengalihkan pandangannya ke jalanan Crimscott yang agak mulai sepi. Terlihat dari iris cokelatnya, hanya ada satu mobil yang melintas di jalan itu dan kemudian beberapa pejalan kaki. Kedua tangannya berusaha kembali merapatkan jaket tebal warna hitamnya dan merapikan rambutnya yang kini malah agak sedikit lurus. Hmm.. Padahal sewaktu kemarin rambutnya masih biasa saja, tuh, bergelombang dan agak berantakan. Oh, jangan bilang kalau kemarin-kemarin ia sempat memakeover dirinya agar terlihat lebih feminin.
Flave itu—semi-tomboy.
Ia tidak pernah suka make-up sebetulnya. Pantas saja kalau wajahnya bahkan tidak terlalu kotor. Hanya saja mungkin karena pernikahan Potter dan Evans dua tahun—atau tiga sih?—lalu yang mengharuskan ia memakai make-up—tipis, by the way, bayangkan Flave datang dengan dandanan menor dia bakal ditertawai seharian. Hmm.. Ngomong-ngomong soal itu, ia jadi keingatan Sang-hee. Bukannya apa-apa. Kakaknya yang super bawel minta ampun itu katanya mulai naksir Sang-hee. Tapi entahlah bagi perempuan Korea itu sendiri. Dan sekarangpun, kakaknya sedang berjalan-jalan lagi keliling dunia. Tujuannya? Mencari pacar. Gila kan? Sangat.
Bahkan selain itu sebetulnya ia sangat tidak suka memakai perhiasan.
Lah loh, kenapa juga ia masih memakai kalung pemberian entah-dari-siapa itu?
Entahlah, aku suka saja dengan kalung ini.
The Windmill Tea Company, bukan perusahaan teh sih sebetulnya, hanya sebuah kedai teh bernuansa klasik yang sering dikunjungi oleh Mom akhir-akhir ini. Katanya sih, Earl Grey Tea-nya lumayan enak. Ah, coba sajalah. Ia langsung mengambil kursi yang sudah disediakan di luar kedai. Sepertinya asik menikmati teh diluar ketimbang didalam.
Entah kenapa sepertinya ia mendengar suara langkah kaki mendekat padanya. Hanya perasaan atau.. Apa?
Labels: flave, graduated from hogwarts, kevin, plot
12:53 AM | 0 comments
Spain is falling in love with Korea (?)
"Yeah! Hari ini pulang ke Chelsea!"
"Anno! Jangan berlebihan kau! Kalau kau sudah punya pacar, tahu rasa deh!"
"Eh, by the way, kau sendiri sudah punya pacar belum?"
(menggeleng dengan ragu) "Kau sendiri?"
"Nampaknya aku ingin memacari temanmu itu.."
"Teman yang mana?"
"Waktu kemarin itu loh! Aku mengantarmu dan temanmu ke pernikahan Potter—" (menggaruk bagian belakang kepalanya)
(matanya membelalak, seakan tak percaya) "SANG-HEE!?"
Giliran Mom yang mengendarai mobil Toyota Corona keluaran terbaru menuju Chelsea. Setidaknya villa milik mereka tidak disewakan lagi untuk sementara waktu. Barangkali sampai Flave mengikuti pelatihan—yeah, kau tahu sendiri kan kalau setelah lulus dari Hogwarts ia akan bersekolah lagi di Pusat Pelatihan Sihir?—dan sampai Anno mendapatkan pacar. OMG, asal kalian tahu saja, Anno bahkan sudah berkepala dua dan belum punya pacar. Sementara Flave sendiri—err—masa pendekatan dengan.. Yeah, kau tahu siapa itu dia kan? Bukan Dia-yang-lebih-baik-tidak-usah-punya-nama-deh itu, for your information.
Masalah siapa yang ingin dipacari oleh Anno saat di Guoman Tower, sungguh diluar dugaannya. Flave tidak percaya akan hal itu sebelumnya. Park Sang-hee, gadis Korea yang berasrama Gryffindor yang lumayan dekat dengannya itu, bersanding dengan Flavanno Montez.. Sama dengan—entahlah. Memikirkannya saja pasti sudah kelewat aneh. Memang sih, gadis Korea yang satu itu terlihat sangat cantik. Tapi kalau bersama dengan Anno yang ketampanannya dibawah standar itu—"Sorry bro', terkadang adikmu ini minta dihajar, memang,"—rasanya.. Luar biasa (tidak) mungkin!—"Oke, bro'. Hajar saja adikmu ini sekarang juga." Memasuki wilayah Fulham, Flave langsung ingin berbicara pada kakaknya yang satu itu yang kebetulan saja sedang duduk di sebelahnya—di jok belakang, by the way. Di depan? Ada Flavena yang memaksakan dirinya untuk berkunjung ke Chelsea meskipun kondisi tubuhnya kurang meyakinkan bagi kembarannya sendiri.
"So, kau benar-benar serius ingin memacari Sang-hee?" ujarnya dengan nada datar dengan tatapan memandang jendela disebelah kanannya. Vena yang sedari tadi hanya duduk terdiam, kini nampaknya menoleh kearah saudara kembarnya itu. "Who's Sang-hee, by the way?" suara lirih itu terdengar dari gadis berkulit agak pucat itu. Gadis berbalut jaket tebal itu langsung tersenyum ringkih pada Flave. "Teman satu angkatan. Tampaknya kakak kita yang satu ini senang dengan perempuan Asia.." ia mengedipkan mata kirinya pada Anno yang pura-pura tidak mendengar perkataan Flave barusan. "Uhuk!—Haha.." Vena tertawa kecil yang diawali dengan batuk. Yang penting jangan sampai dirinya langsung jatuh pingsan.
Ngomong-ngomong, cuacanya mendung.
*****
Ruang tengah yang bersebelahan dengan kamar Flave. Ia baru saja mengirim surat untuk Sang-hee supaya ia mampir ke villanya. Kau tahu kenapa? Sebenarnya karena bujukan dari Anno yang ingin bertemu lagi dengan Sang-hee untuk kedua kalinya. Ah dasar, ada-ada saja kakaknya yang satu itu. Flave jadi bingung sendiri, serius. Apa Anno mengidap penyakit semacam love at the first sight sehingga ia sampai cinta mati—serius, itu berlebihan sekali—pada Sang-hee? Who knows?
Tunggu, ROFL itu apa? Rolling on the Floor?
"Puas kau sekarang, eh?" ujar Flave ketus pada Anno yang diam-diam memperhatikan di belakangnya. Huh, hanya karena ia akan menulis surat untuk Sang-hee saja, mukanya sampai mesem-mesem tidak jelas layaknya orang gila. Dan Anno hanya mengangguk puas sambil mengacak-acak rambut adiknya itu. Vena yang melihat itu dari kejauhan hanya tersenyum meringkih—lagi—sambil mendorong kursi rodanya menuju mereka berdua. "Kalian mirip anak kecil, sungguh," gumamnya datar dengan sorot tajam pada mereka berdua. "TIDAK! DIA YANG MIRIP ANAK KECIL!" jawab mereka berdua serempak. Sepertinya hampir membuat Mom yang sedang memasak di dapur hampir merasa jantungan mendengar teriakan tersebut.
Keluarga yang bahagia—tepatnya terlalu bahagia.
"Outstanding untukmu, Flavarel! Wakakakakak!!"
"Serius, kau ingin memacari Sang-hee?"
(mesem-mesem) "Of course, kenapa tidak? Mumpung orangnya cantik begitu.."
"Dasar kau, mementingkan kecantikan saja. Payah."
"Aku yakin anaknya pasti sangat periang sekali. Aku memang suka cewek seperti itu kok!" (nyengir lebar)
"Kalau kubilang dia sudah punya pacar, bagaimana?"
"Pacar? Siapa namanya!? Kau tahu tidak?"
(memandang ragu pada Anno) "Alaistair kalau tidak salah."
"..."
"Kenapa memangnya, huh?"
"AKU SANGAT YAKIN AKU AKAN MENDAPATKAN GADIS ITU!" (tersenyum seperti setan)
"Kau.. Berlebihan!"
"Anno! Jangan berlebihan kau! Kalau kau sudah punya pacar, tahu rasa deh!"
"Eh, by the way, kau sendiri sudah punya pacar belum?"
(menggeleng dengan ragu) "Kau sendiri?"
"Nampaknya aku ingin memacari temanmu itu.."
"Teman yang mana?"
"Waktu kemarin itu loh! Aku mengantarmu dan temanmu ke pernikahan Potter—" (menggaruk bagian belakang kepalanya)
(matanya membelalak, seakan tak percaya) "SANG-HEE!?"
Giliran Mom yang mengendarai mobil Toyota Corona keluaran terbaru menuju Chelsea. Setidaknya villa milik mereka tidak disewakan lagi untuk sementara waktu. Barangkali sampai Flave mengikuti pelatihan—yeah, kau tahu sendiri kan kalau setelah lulus dari Hogwarts ia akan bersekolah lagi di Pusat Pelatihan Sihir?—dan sampai Anno mendapatkan pacar. OMG, asal kalian tahu saja, Anno bahkan sudah berkepala dua dan belum punya pacar. Sementara Flave sendiri—err—masa pendekatan dengan.. Yeah, kau tahu siapa itu dia kan? Bukan Dia-yang-lebih-baik-tidak-usah-punya-nama-deh itu, for your information.
Masalah siapa yang ingin dipacari oleh Anno saat di Guoman Tower, sungguh diluar dugaannya. Flave tidak percaya akan hal itu sebelumnya. Park Sang-hee, gadis Korea yang berasrama Gryffindor yang lumayan dekat dengannya itu, bersanding dengan Flavanno Montez.. Sama dengan—entahlah. Memikirkannya saja pasti sudah kelewat aneh. Memang sih, gadis Korea yang satu itu terlihat sangat cantik. Tapi kalau bersama dengan Anno yang ketampanannya dibawah standar itu—"Sorry bro', terkadang adikmu ini minta dihajar, memang,"—rasanya.. Luar biasa (tidak) mungkin!—"Oke, bro'. Hajar saja adikmu ini sekarang juga." Memasuki wilayah Fulham, Flave langsung ingin berbicara pada kakaknya yang satu itu yang kebetulan saja sedang duduk di sebelahnya—di jok belakang, by the way. Di depan? Ada Flavena yang memaksakan dirinya untuk berkunjung ke Chelsea meskipun kondisi tubuhnya kurang meyakinkan bagi kembarannya sendiri.
"So, kau benar-benar serius ingin memacari Sang-hee?" ujarnya dengan nada datar dengan tatapan memandang jendela disebelah kanannya. Vena yang sedari tadi hanya duduk terdiam, kini nampaknya menoleh kearah saudara kembarnya itu. "Who's Sang-hee, by the way?" suara lirih itu terdengar dari gadis berkulit agak pucat itu. Gadis berbalut jaket tebal itu langsung tersenyum ringkih pada Flave. "Teman satu angkatan. Tampaknya kakak kita yang satu ini senang dengan perempuan Asia.." ia mengedipkan mata kirinya pada Anno yang pura-pura tidak mendengar perkataan Flave barusan. "Uhuk!—Haha.." Vena tertawa kecil yang diawali dengan batuk. Yang penting jangan sampai dirinya langsung jatuh pingsan.
Ngomong-ngomong, cuacanya mendung.
*****
Ruang tengah yang bersebelahan dengan kamar Flave. Ia baru saja mengirim surat untuk Sang-hee supaya ia mampir ke villanya. Kau tahu kenapa? Sebenarnya karena bujukan dari Anno yang ingin bertemu lagi dengan Sang-hee untuk kedua kalinya. Ah dasar, ada-ada saja kakaknya yang satu itu. Flave jadi bingung sendiri, serius. Apa Anno mengidap penyakit semacam love at the first sight sehingga ia sampai cinta mati—serius, itu berlebihan sekali—pada Sang-hee? Who knows?
Dear Sang-hee, wherever you are (hehe..),
Long time no chat, sista'! Hehe.. How are you today? Are you okay? How about your 'complicated' relationship with Alaistair? (Well, sebenarnya itu pertanyaan dari kakakku. Cemburu, sepertinya) Okay, cukup dengan basa-basinya. Ah ya, you're invited to my villa! Haha.. Seriously, aku ingin kau datang ke rumahku. Karena.. Kau akan tahu sendiri alasannya.Because i need you, Sang-hee!Hmph, itu kakakmu yang menulis dengan asal-asalan. Okay, see ya'!
Regards,
Flavarel Montezfeaturing her brother. Wakakakak..
P. S.: Dios, kemampuan bahasa Spanyolku menurun. ROFL.
Tunggu, ROFL itu apa? Rolling on the Floor?
"Puas kau sekarang, eh?" ujar Flave ketus pada Anno yang diam-diam memperhatikan di belakangnya. Huh, hanya karena ia akan menulis surat untuk Sang-hee saja, mukanya sampai mesem-mesem tidak jelas layaknya orang gila. Dan Anno hanya mengangguk puas sambil mengacak-acak rambut adiknya itu. Vena yang melihat itu dari kejauhan hanya tersenyum meringkih—lagi—sambil mendorong kursi rodanya menuju mereka berdua. "Kalian mirip anak kecil, sungguh," gumamnya datar dengan sorot tajam pada mereka berdua. "TIDAK! DIA YANG MIRIP ANAK KECIL!" jawab mereka berdua serempak. Sepertinya hampir membuat Mom yang sedang memasak di dapur hampir merasa jantungan mendengar teriakan tersebut.
Keluarga yang bahagia—tepatnya terlalu bahagia.
"Outstanding untukmu, Flavarel! Wakakakakak!!"
"Serius, kau ingin memacari Sang-hee?"
(mesem-mesem) "Of course, kenapa tidak? Mumpung orangnya cantik begitu.."
"Dasar kau, mementingkan kecantikan saja. Payah."
"Aku yakin anaknya pasti sangat periang sekali. Aku memang suka cewek seperti itu kok!" (nyengir lebar)
"Kalau kubilang dia sudah punya pacar, bagaimana?"
"Pacar? Siapa namanya!? Kau tahu tidak?"
(memandang ragu pada Anno) "Alaistair kalau tidak salah."
"..."
"Kenapa memangnya, huh?"
"AKU SANGAT YAKIN AKU AKAN MENDAPATKAN GADIS ITU!" (tersenyum seperti setan)
"Kau.. Berlebihan!"
Labels: anno, flave, graduated from hogwarts, house
12:47 AM | 0 comments
Estoy pensando en eso
12 Desember 1980. Sore menjelang malam.
"Belakangan ini kau selalu menyinggungku soal pacar. Ada apa memangnya?" hanya itu kata-kata yang terlontar dari mulut Flave. Beberapa hari ini—setelah akhirnya Anno berpikiran kalau mengharapkan Sang-hee sama saja dengan sia-sia—kakaknya yang satu itu selalu menanyakan tentang pacar. Oh well, memang apa gunanya pacar sih bagi Flave dan juga Anno? Lain orang lain jawaban, rite? Flave, yang hanya memakai t-shirt biru muda polos—ah kebetulan saja didalam villa ini hangat—dan celana training berwarna putih itu, menyenderkan dirinya ke tembok ruang tengah yang merupakan ruangan favoritnya. Yeah, barangkali selain karena jaraknya yang dekat dengan kamar tempat ini juga nyaman dan hangat daripada ruangan lain. Mata cokelat pekatnya memandang kearah mata hazel kakaknya yang penampilannya kali ini agak berantakan. Dasar laki-laki.
"Flavarel, dear, kau sudah tujuh belas tahun kemudian juga sudah lulus Hogwarts dan kau belum punya pacar?" —berdehem sebentar sambil tersenyum agak mengejek— "kau aneh, Flavarel." Dan selesailah sudah kalimatnya yang satu itu. Memang ada benarnya juga sih perkataan Anno barusan. Dia sudah lulus dari Hogwarts. Dia sudah tujuh belas tahun dan tak ada salahnya untuk merasakan yang namanya indahnya pacaran sebelum akhirnya menikah. Ahaha.. Berlebihan kau, Flave. "Memangnya kau sendiri sudah punya pacar?" —okelah, Anno. Untuk urusan pesona dalam mencari pacar, kau memang juaranya, bro'— "Kau sendiri juga sering menanyakan tentang.." dan bibirnya keburu tertutup oleh jari telunjuk milik kakaknya.
Flave segera beranjak dari tempat itu. Berusaha keluar dari situasi yang membuatnya jengah. Kakaknya terlalu banyak bertanya, apalagi masalah pacar. Mau dicarikan sekalian? Berjalan menuju dapur yang jaraknya hanya sekitar lima langkah dari ruang tengah tersebut. Alih-alih mengeluarkan diri dari situasi seperti itu, ia mengambil beberapa biskuit buatan rumah yang baru saja dibuat oleh Mom. Oh, where's her mom right now? Pergi lagi bersama Flavena-kah? "Lulus Hogwarts satu perempuan sudah kugaet, kau tahu?" Anno yang kini mengikutinya—meskipun Flave membelakanginya, sekali lagi kukatakan, mencoba menghindar dari pertanyaan-pertanyaan konyolnya—dan membelai sayang rambut Flave yang sedikit acak-acakan itu. Flave masih saja membuatkan kopi cappuccino—homemade selalu yang terbaik, you know?—untuk dirinya sendiri. "Oh, I see.." —aku bahkan tidak tahu ya, kalau ternyata selama kau di Hogwarts memiliki banyak gaetan, ujarnya dalam hati.
"Jadi jawab pertanyaanku," —jeda sebentar, menepuk kedua bahu Flave dari belakang— "kau sudah punya pacar?"
"..."
"Hmm?"
"Aku tidak yakin jawabannya benar, Anno."
"Jadi kau sudah punya pacar apa belum, huh?"
Oke, pertanyaan yang sangat susah dijawab sebetulnya. Kau tahu sendiri kan kalau akhir-akhir ini kedekatannya dengan Kevin Winchester.. Err—bisa dikatakan melebihi kedekatan sebagai teman. Ah ya, kau mengerti maksudnya kan? Tapi, Flave bisa saja menepis itu semua. Ia bisa saja berteriak kalau ia belum punya pasangan kekasih seperti beberapa teman seangkatan lainnya. Mizu dengan Haruhi, Cheezta dengan Ardith—si Tuan sok Terhormat itu (masih ingat juga dengan panggilan itu waktu tahun kedua), Yusuke—yang masih amnesia sepertinya—dengan Rei, Lulu dengan Stanley, dan yang lainnya tidak Flave ketahui. Salahkan dia yang jarang mendengar gosip dari Serafina McKelsie yang tukang gosip paling terkenal seantero Hogwarts. Oh ya, kembali ke persoalan. Ia bisa saja menganggap dirinya tidak sedang dekat dengan lelaki manapun, tapi kedekatannya dengan Kevin bisa terbaca dengan jelas. Terlebih saat reuni dadakan di Diagon Alley.
Oke, cukup.
"Belum, sepertinya,"
Kebohongan terbesarmu, Flavarel Allesha Montez, pada kakakmu sendiri.
"Belakangan ini kau selalu menyinggungku soal pacar. Ada apa memangnya?" hanya itu kata-kata yang terlontar dari mulut Flave. Beberapa hari ini—setelah akhirnya Anno berpikiran kalau mengharapkan Sang-hee sama saja dengan sia-sia—kakaknya yang satu itu selalu menanyakan tentang pacar. Oh well, memang apa gunanya pacar sih bagi Flave dan juga Anno? Lain orang lain jawaban, rite? Flave, yang hanya memakai t-shirt biru muda polos—ah kebetulan saja didalam villa ini hangat—dan celana training berwarna putih itu, menyenderkan dirinya ke tembok ruang tengah yang merupakan ruangan favoritnya. Yeah, barangkali selain karena jaraknya yang dekat dengan kamar tempat ini juga nyaman dan hangat daripada ruangan lain. Mata cokelat pekatnya memandang kearah mata hazel kakaknya yang penampilannya kali ini agak berantakan. Dasar laki-laki.
"Flavarel, dear, kau sudah tujuh belas tahun kemudian juga sudah lulus Hogwarts dan kau belum punya pacar?" —berdehem sebentar sambil tersenyum agak mengejek— "kau aneh, Flavarel." Dan selesailah sudah kalimatnya yang satu itu. Memang ada benarnya juga sih perkataan Anno barusan. Dia sudah lulus dari Hogwarts. Dia sudah tujuh belas tahun dan tak ada salahnya untuk merasakan yang namanya indahnya pacaran sebelum akhirnya menikah. Ahaha.. Berlebihan kau, Flave. "Memangnya kau sendiri sudah punya pacar?" —okelah, Anno. Untuk urusan pesona dalam mencari pacar, kau memang juaranya, bro'— "Kau sendiri juga sering menanyakan tentang.." dan bibirnya keburu tertutup oleh jari telunjuk milik kakaknya.
Flave segera beranjak dari tempat itu. Berusaha keluar dari situasi yang membuatnya jengah. Kakaknya terlalu banyak bertanya, apalagi masalah pacar. Mau dicarikan sekalian? Berjalan menuju dapur yang jaraknya hanya sekitar lima langkah dari ruang tengah tersebut. Alih-alih mengeluarkan diri dari situasi seperti itu, ia mengambil beberapa biskuit buatan rumah yang baru saja dibuat oleh Mom. Oh, where's her mom right now? Pergi lagi bersama Flavena-kah? "Lulus Hogwarts satu perempuan sudah kugaet, kau tahu?" Anno yang kini mengikutinya—meskipun Flave membelakanginya, sekali lagi kukatakan, mencoba menghindar dari pertanyaan-pertanyaan konyolnya—dan membelai sayang rambut Flave yang sedikit acak-acakan itu. Flave masih saja membuatkan kopi cappuccino—homemade selalu yang terbaik, you know?—untuk dirinya sendiri. "Oh, I see.." —aku bahkan tidak tahu ya, kalau ternyata selama kau di Hogwarts memiliki banyak gaetan, ujarnya dalam hati.
"Jadi jawab pertanyaanku," —jeda sebentar, menepuk kedua bahu Flave dari belakang— "kau sudah punya pacar?"
"..."
"Hmm?"
"Aku tidak yakin jawabannya benar, Anno."
"Jadi kau sudah punya pacar apa belum, huh?"
Oke, pertanyaan yang sangat susah dijawab sebetulnya. Kau tahu sendiri kan kalau akhir-akhir ini kedekatannya dengan Kevin Winchester.. Err—bisa dikatakan melebihi kedekatan sebagai teman. Ah ya, kau mengerti maksudnya kan? Tapi, Flave bisa saja menepis itu semua. Ia bisa saja berteriak kalau ia belum punya pasangan kekasih seperti beberapa teman seangkatan lainnya. Mizu dengan Haruhi, Cheezta dengan Ardith—si Tuan sok Terhormat itu (masih ingat juga dengan panggilan itu waktu tahun kedua), Yusuke—yang masih amnesia sepertinya—dengan Rei, Lulu dengan Stanley, dan yang lainnya tidak Flave ketahui. Salahkan dia yang jarang mendengar gosip dari Serafina McKelsie yang tukang gosip paling terkenal seantero Hogwarts. Oh ya, kembali ke persoalan. Ia bisa saja menganggap dirinya tidak sedang dekat dengan lelaki manapun, tapi kedekatannya dengan Kevin bisa terbaca dengan jelas. Terlebih saat reuni dadakan di Diagon Alley.
Oke, cukup.
"Belum, sepertinya,"
Kebohongan terbesarmu, Flavarel Allesha Montez, pada kakakmu sendiri.
Labels: flave, graduated from hogwarts, house
as written on; Friday, April 24, 2009
2:44 AM | 0 comments
Another Day — 2
"Hmm.. I see," hanya kata-kata itu yang ia ucapkan untuk menanggapi perkataan Mizu. Tapi mungkin barangkali beberapa orang juga akan datang menghampiri tempat ini, terutama yang sudah lulus dari Hogwarts—sama seperti waktu di Diagon Alley tahun lalu. Mengulang perkenalan lah—didasari dari Francis yang mengajak mereka mengulang kembali perkenalan sekaligus berusaha agar Yusuke 'keluar' dari amnesianya—pokoknya sampai jalanan yang seharusnya dipenuhi oleh anak-anak calon murid sekolah yang dikepalai oleh Profesor Dumbledore malah menjadi tambah ramai. Nostalgila, ahahahaha..
"Té extrańo—"
Suara itu, bohong kalau dia lupa siapa pemilik suara itu. Ia langsung menolehkan kepalanya menuju lelaki tersebut. Kau tahu siapa dia kan?
"—Querido."
Lelaki rambut ikal berwarna cokelat itu—Kevin. Winchester.
"Belakangan ini kau selalu menyinggungku soal pacar. Ada apa memangnya?"
(tersenyum jahil) "Flavarel, dear, kau sudah tujuh belas tahun kemudian juga sudah lulus Hogwarts dan kau belum punya pacar?"
"Eh? Memangnya kau sendiri sudah punya pacar? Kau sendiri juga sering menanyakan tentang—" (mencibir)
"Woohoo. Jangan salah. Lulus Hogwarts satu perempuan sudah kugaet, kau tahu?"
"Oh, I see.."
"Jadi jawab pertanyaanku," (menepuk kedua bahu Flave) "kau sudah punya pacar?"
"..."
"Hmm?"
"Aku tidak yakin jawabannya benar, Anno."
Jujur sejujur-jujurnya, ia bahkan bingung mau menjawab apa. Flave hanya tersenyum kecil dan malah mencubit pipinya—seolah dia adalah bayi. "Haruskah kubilang kalau kau memang gombal?" ia langsung terkekeh kecil tanpa memperdulikan respon balik dari pria tersebut. Haruskah Flave menyebutnya sebagai pacar, padahal—kalau menurut Flave sendiri—mereka belum resmi berpacaran? "But I miss you too," —tak ada angin tak ada hujan, ia mengecup pipi kanan Kevin— "Dear.." Ia tidak mau disebut orang yang mengumbar kemesraan di tempat umum. Jadi, ya, wajar saja kalau kecupan itu tak berlangsung lama. Pipinya mendadak langsung menjadi merah semu.
Dan membicarakan topik yang diangkat oleh senior Goldwin barusan, nampaknya itu membuat beberapa orang—maksudnya beberapa orang angkatannya dan angkatan sebelumnya berdatangan, meskipun ia sendiri tahu kalau itu memang kebetulan. Kebetulan yang terjadi dua kali. Senior Recha McFadden—mantan ketua Charm and Spell club dan alumni Slytherin—baru saja menawarkan semua orang lulusan Hogwarts itu (termasuk dirinya sendiri, of course) untuk duduk. Yeah, mengapa sedari tadi kita hanya berdiri saja, padahal mungkin beberapa orang pegal untuk berdiri dalam jangka waktu yang agak lama. Mulai banyak lagi yang berdatangan. Cheezta, Lulu, Yusuke, Rei, dan Stan. Duo pasangan incest dari Gryffindor. Stan dan Lulu, juga Yusuke dan Rei. Lucu rasanya melihat mereka berdua saling berdekatan satu sama lain. Haha.. Ngomong apalagi kau ini, Flave?
Ia menoleh kepada seseorang yang menyahut keras tepat dibelakangnya.
Bernadette? Orang yang pernah ia temui di pelataran Albert Memorial itu?
Ia hanya menoleh sebentar sampai ia merasa kalau ia sedang dilirik oleh Cheezta. Karena kedekatannya dengan Kevin, hm? "Hai Cheezta," sapanya sambil menepuk bahu teman sekamarnya selama tujuh tahun itu. Flave tak akan pernah lupa dengan masa-masa mereka bersama itu. Melirik sedikit kearah Kevin yang bertemu Cheezta yang notabene adalah sahabatnya. Flave langsung mengalihkan perhatiannya ketika senior McFadden menanyakan tentang Phillipe Blanche kepada Lulu. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan oleh seniornya itu—sangat terbaca dari matanya. "Ada masalah dengan Blanche?" tanyanya dengan nada penasaran. Oke, sebut ia sok kenal sok dekat. Tapi, bagi Flave, seluruh anak yang tergabung dalam angkatannya adalah temannya juga.
"Jadi kau sudah punya pacar apa belum, huh?"
(menunduk sambil tersenyum malu) "Belum, sepertinya.."
Jadi kau anggap Kevin itu siapa, huh? Sekedar teman?
"Té extrańo—"
Suara itu, bohong kalau dia lupa siapa pemilik suara itu. Ia langsung menolehkan kepalanya menuju lelaki tersebut. Kau tahu siapa dia kan?
"—Querido."
Lelaki rambut ikal berwarna cokelat itu—Kevin. Winchester.
"Belakangan ini kau selalu menyinggungku soal pacar. Ada apa memangnya?"
(tersenyum jahil) "Flavarel, dear, kau sudah tujuh belas tahun kemudian juga sudah lulus Hogwarts dan kau belum punya pacar?"
"Eh? Memangnya kau sendiri sudah punya pacar? Kau sendiri juga sering menanyakan tentang—" (mencibir)
"Woohoo. Jangan salah. Lulus Hogwarts satu perempuan sudah kugaet, kau tahu?"
"Oh, I see.."
"Jadi jawab pertanyaanku," (menepuk kedua bahu Flave) "kau sudah punya pacar?"
"..."
"Hmm?"
"Aku tidak yakin jawabannya benar, Anno."
Jujur sejujur-jujurnya, ia bahkan bingung mau menjawab apa. Flave hanya tersenyum kecil dan malah mencubit pipinya—seolah dia adalah bayi. "Haruskah kubilang kalau kau memang gombal?" ia langsung terkekeh kecil tanpa memperdulikan respon balik dari pria tersebut. Haruskah Flave menyebutnya sebagai pacar, padahal—kalau menurut Flave sendiri—mereka belum resmi berpacaran? "But I miss you too," —tak ada angin tak ada hujan, ia mengecup pipi kanan Kevin— "Dear.." Ia tidak mau disebut orang yang mengumbar kemesraan di tempat umum. Jadi, ya, wajar saja kalau kecupan itu tak berlangsung lama. Pipinya mendadak langsung menjadi merah semu.
Dan membicarakan topik yang diangkat oleh senior Goldwin barusan, nampaknya itu membuat beberapa orang—maksudnya beberapa orang angkatannya dan angkatan sebelumnya berdatangan, meskipun ia sendiri tahu kalau itu memang kebetulan. Kebetulan yang terjadi dua kali. Senior Recha McFadden—mantan ketua Charm and Spell club dan alumni Slytherin—baru saja menawarkan semua orang lulusan Hogwarts itu (termasuk dirinya sendiri, of course) untuk duduk. Yeah, mengapa sedari tadi kita hanya berdiri saja, padahal mungkin beberapa orang pegal untuk berdiri dalam jangka waktu yang agak lama. Mulai banyak lagi yang berdatangan. Cheezta, Lulu, Yusuke, Rei, dan Stan. Duo pasangan incest dari Gryffindor. Stan dan Lulu, juga Yusuke dan Rei. Lucu rasanya melihat mereka berdua saling berdekatan satu sama lain. Haha.. Ngomong apalagi kau ini, Flave?
Ia menoleh kepada seseorang yang menyahut keras tepat dibelakangnya.
Bernadette? Orang yang pernah ia temui di pelataran Albert Memorial itu?
Ia hanya menoleh sebentar sampai ia merasa kalau ia sedang dilirik oleh Cheezta. Karena kedekatannya dengan Kevin, hm? "Hai Cheezta," sapanya sambil menepuk bahu teman sekamarnya selama tujuh tahun itu. Flave tak akan pernah lupa dengan masa-masa mereka bersama itu. Melirik sedikit kearah Kevin yang bertemu Cheezta yang notabene adalah sahabatnya. Flave langsung mengalihkan perhatiannya ketika senior McFadden menanyakan tentang Phillipe Blanche kepada Lulu. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan oleh seniornya itu—sangat terbaca dari matanya. "Ada masalah dengan Blanche?" tanyanya dengan nada penasaran. Oke, sebut ia sok kenal sok dekat. Tapi, bagi Flave, seluruh anak yang tergabung dalam angkatannya adalah temannya juga.
"Jadi kau sudah punya pacar apa belum, huh?"
(menunduk sambil tersenyum malu) "Belum, sepertinya.."
Jadi kau anggap Kevin itu siapa, huh? Sekedar teman?
Labels: flave, graduated from hogwarts, reunion
2:39 AM | 0 comments
Another Day — 1
Eaaa~ =)) Reuni dadakan lagi yang kini diadakan di Three Broomstick. Ah, many thanks buat Mizu yang udah bikin thread ini sehingga akhirnya gw ada kerjaan juga (baca: ngerepp as Flave yang notabene adalah siswa PPS 1980) dan melupakan sejenak dua anak yang nyangsang di tahun pertama. Haha.. *digapruk*
Apa kabarnya Hogwarts sekarang ya? Masih baik-baik saja seperti dulukah?
Segala macam pertanyaan mengenai Hogwarts beserta seluruh keajaiban yang termasuk didalamnya langsung mendadak muncul di benak Flave. Jujur, Flave kangen dengan Hogwarts. Ah iya, sampai lupa. Sekarang musim dingin, dan biasanya murid-murid kelas tiga keatas selalu mengunjungi Hogsmeade, desa penyihir yang terkenal itu. Kenapa ia tidak kesana saja sekarang? Beruntunglah Flave yang sudah lulus, kini bisa memanfaatkan kemampuannya untuk berapparate kesana kemari—ke beberapa tempat tertentu. Gila saja kalau kau berapparate ke tempat umum yang dikunjungi banyak Muggle, dan kau penyihir sendirian? Tindakan yang keterlaluan itu namanya.
POP!
"Jangan lupa titipkan pesanku pada—eh?" suara Anno masih terngiang-ngiang di telinganya, seperti seekor nyamuk yang mendengung persis di telinganya, mengganggu pendengaran saja. Flave sudah tahu kok apa yang akan ia katakan selanjutnya. Euh, dasar kakaknya sekarang mulai berkelakuan manja pada adiknya sendiri. Maklum sajalah,orang yang dilanda mabuk asmara—kata-kata macam apa pula itu?
*****
High Street, Hogsmeade.
Rasa-rasanya Hogsmeade tidak pernah sesepi ini. Sejauh yang Flave tahu, tempat ini biasanya ramai oleh anak-anak Hogwarts kelas tiga keatas untuk mengikuti kunjungan ke desa ini. Apa mungkin karena takut terjadinya penyerangan tiba-tiba dari antek Dia-yang-tidak-boleh-disebut-namanya yang menamakan dirinya Pelahap Maut—kenapa tidak ada Pelahap Hidup saja? Kalau Flave sih ya pelahap makanan; ah meracau saja kau, Flave. Oke, kembali ke permasalahan. Flave yang kini mulai melepaskan tudung capuchon biru tuanya—kalau dilihat dari jauh seperti warna hitam, hanya membisu melihat situasi kondisi tempat tersebut. Iris coklatnya—dengan mudahnya—menangkap apa yang ia lihat. Sepi, seriusan. Jejak langkah kaki yang hanya beberapa sangat terlihat, padahal hari itu tidak bersalju. Atau barusan bersalju, tapi saat Flave datang tidak bersalju lagi?
Let's go around theworld Hogsmeade!
The Three Broomstick. Jujur, sepertinya sekalipun ia belum berkunjung kesana. Ah payahnya Flave ini, betul tidak? Sering ke Hogsmeade tetapi belum pernah sekalipun mengunjungi tempat minum paling nyaman tersebut. Ah ya, berterima kasihlah kepada Madam Rosmerta—empunya tempat tersebut, barangkali—yang membuat suasana tempat itu bisa dibilang sangat nyaman oleh beberapa orang yang pernah kesana.
Masuk saja, Flave, dan nikmati sendiri kenyamanan yang ditawarkan The Three Broomstick.
Dentingan lonceng terdengar mendengung di telinganya. Ya Tuhan, apa ini memang bunyinya seperti itu, atau telinga Flave yang sedang mengalami kelainan kecil? Entahlah, yang jelas nanti bisa diatasi dengan sendirinya. Sama sepinya dengan keadaan di luar sana. Hanya saja ada beberapa pengunjung yang datang kesitu. Flave jadi berpikir, apakah mulai tahun ini tidak akan ada lagi kunjungan ke Hogsmeade? Sayang sekali padahal, Flave ingin sekali bereuni lagi dengan anak-anak musang. Haha.. Terutama—Flave yakin semua musang juga sangat ingin bertemu dengan remaja tersebut—Balin Al-Kazaf, pemimpin Bayi Musang—Bamus—yang merangkap Prefek dan Kapten Quidditch. Hahaha.. Memang kebanggaan Hufflepuff sih dia itu.
"Kok—kayaknya kenal kamu, deh? Hoh? Halo Paman Dumbledore... rambut Anda kenapa jadi hitam begini? Pakai obat anti-keriput darima—na?"
Eh? Jadi Dumbledore ada disini juga? Terlebih lagi, kepala sekolah itu mulai menyemir rambutnya?
"Apa yang kau lakukan—Miss Kurata? dan kau Miss Winterfield?? kenapa kalian disini?"
Err—reuni kecil-kecilan lagi seperti yang terjadi di Diagon Alley tahun lalu? Penasaran, ia segera ikut dalam kerubungan orang tersebut. Hey, itu.. Mizu, senior Naoko, senior Evania, senior Arzu, dan Madam Poppy. Ah senangnya bisa bertemu mereka lagi. "Hai semua," —ia tersenyum ramah ketika ia bergabung dengan kerubungan tersebut, sangat Huffle sekali— "reuni kecil-kecilan—lagi?" tanyanya penasaran.
Setidaknya disini tidak membuat Counterphobianya muncul lagi. Haha..
Apa kabarnya Hogwarts sekarang ya? Masih baik-baik saja seperti dulukah?
Segala macam pertanyaan mengenai Hogwarts beserta seluruh keajaiban yang termasuk didalamnya langsung mendadak muncul di benak Flave. Jujur, Flave kangen dengan Hogwarts. Ah iya, sampai lupa. Sekarang musim dingin, dan biasanya murid-murid kelas tiga keatas selalu mengunjungi Hogsmeade, desa penyihir yang terkenal itu. Kenapa ia tidak kesana saja sekarang? Beruntunglah Flave yang sudah lulus, kini bisa memanfaatkan kemampuannya untuk berapparate kesana kemari—ke beberapa tempat tertentu. Gila saja kalau kau berapparate ke tempat umum yang dikunjungi banyak Muggle, dan kau penyihir sendirian? Tindakan yang keterlaluan itu namanya.
POP!
"Jangan lupa titipkan pesanku pada—eh?" suara Anno masih terngiang-ngiang di telinganya, seperti seekor nyamuk yang mendengung persis di telinganya, mengganggu pendengaran saja. Flave sudah tahu kok apa yang akan ia katakan selanjutnya. Euh, dasar kakaknya sekarang mulai berkelakuan manja pada adiknya sendiri. Maklum sajalah,orang yang dilanda mabuk asmara—kata-kata macam apa pula itu?
*****
High Street, Hogsmeade.
Rasa-rasanya Hogsmeade tidak pernah sesepi ini. Sejauh yang Flave tahu, tempat ini biasanya ramai oleh anak-anak Hogwarts kelas tiga keatas untuk mengikuti kunjungan ke desa ini. Apa mungkin karena takut terjadinya penyerangan tiba-tiba dari antek Dia-yang-tidak-boleh-disebut-namanya yang menamakan dirinya Pelahap Maut—kenapa tidak ada Pelahap Hidup saja? Kalau Flave sih ya pelahap makanan; ah meracau saja kau, Flave. Oke, kembali ke permasalahan. Flave yang kini mulai melepaskan tudung capuchon biru tuanya—kalau dilihat dari jauh seperti warna hitam, hanya membisu melihat situasi kondisi tempat tersebut. Iris coklatnya—dengan mudahnya—menangkap apa yang ia lihat. Sepi, seriusan. Jejak langkah kaki yang hanya beberapa sangat terlihat, padahal hari itu tidak bersalju. Atau barusan bersalju, tapi saat Flave datang tidak bersalju lagi?
Let's go around the
The Three Broomstick. Jujur, sepertinya sekalipun ia belum berkunjung kesana. Ah payahnya Flave ini, betul tidak? Sering ke Hogsmeade tetapi belum pernah sekalipun mengunjungi tempat minum paling nyaman tersebut. Ah ya, berterima kasihlah kepada Madam Rosmerta—empunya tempat tersebut, barangkali—yang membuat suasana tempat itu bisa dibilang sangat nyaman oleh beberapa orang yang pernah kesana.
Masuk saja, Flave, dan nikmati sendiri kenyamanan yang ditawarkan The Three Broomstick.
Dentingan lonceng terdengar mendengung di telinganya. Ya Tuhan, apa ini memang bunyinya seperti itu, atau telinga Flave yang sedang mengalami kelainan kecil? Entahlah, yang jelas nanti bisa diatasi dengan sendirinya. Sama sepinya dengan keadaan di luar sana. Hanya saja ada beberapa pengunjung yang datang kesitu. Flave jadi berpikir, apakah mulai tahun ini tidak akan ada lagi kunjungan ke Hogsmeade? Sayang sekali padahal, Flave ingin sekali bereuni lagi dengan anak-anak musang. Haha.. Terutama—Flave yakin semua musang juga sangat ingin bertemu dengan remaja tersebut—Balin Al-Kazaf, pemimpin Bayi Musang—Bamus—yang merangkap Prefek dan Kapten Quidditch. Hahaha.. Memang kebanggaan Hufflepuff sih dia itu.
"Kok—kayaknya kenal kamu, deh? Hoh? Halo Paman Dumbledore... rambut Anda kenapa jadi hitam begini? Pakai obat anti-keriput darima—na?"
Eh? Jadi Dumbledore ada disini juga? Terlebih lagi, kepala sekolah itu mulai menyemir rambutnya?
"Apa yang kau lakukan—Miss Kurata? dan kau Miss Winterfield?? kenapa kalian disini?"
Err—reuni kecil-kecilan lagi seperti yang terjadi di Diagon Alley tahun lalu? Penasaran, ia segera ikut dalam kerubungan orang tersebut. Hey, itu.. Mizu, senior Naoko, senior Evania, senior Arzu, dan Madam Poppy. Ah senangnya bisa bertemu mereka lagi. "Hai semua," —ia tersenyum ramah ketika ia bergabung dengan kerubungan tersebut, sangat Huffle sekali— "reuni kecil-kecilan—lagi?" tanyanya penasaran.
Setidaknya disini tidak membuat Counterphobianya muncul lagi. Haha..
Labels: flave, graduated from hogwarts, reunion
2:36 AM | 0 comments
Hello, You Found Me — 2
Jadi, apa yang akan dia lakukan disini?
Tidak ada.
...
Tidak ada. Lagipula untuk apa dia datang kesini? Menunggu Winchester datang mengagetkannya dan kemudian mengecup keningnya, yang pada akhirnya pertemuan itu berubah menjadi sebuah kencan, sepertinya bukan hal yang mungkin ia lakukan pada saat itu. Dan bisa dibilang, ia akan sangat ge-er kalo memang itulah yang terjadi dalam beberapa detik nanti. Matanya masih terpaku pada Albert Memorial. Menatapnya dengan tatapan kosong, pikirannya pergi ke lain tujuan. Padahal kenapa tadi dia tidak ikut dengan Anno saja, pergi ke cafetaria dekat Diana Memorial Playground dan menikmati udara siang menjelang sore bersama kakaknya sambil barangkali menyeruput teh kesukaannya. Yeah, kadang otaknya tidak bisa diajak berkompromi seperti itu. So, jangan salahkan Flave.
"Hi..." sapa seseorang. Suaranya terdengar familiar, tapi sebetulnya ia tidak yakin kalau ia sangat mengenal suara itu. But, hey, suara itu mirip seperti.. "Kev—" okay, ia sangat mengharapkan orang itu datang; terlanjur kangen. "—senior Alfa?" volume suaranya sedikit diperbesar. Tidak ia sangka kalau seniornya akan berkunjung kesini juga. Diluar dugaan; sangat. Seorang dari beberapa senior Hufflepuff yang jarang sekali ia temui, sejak dirinya bertemu dengan senior Alfa di—err, dia lupa. Barangkali waktu pesta awal tahun ajaran sehabis ia mengikuti seleksi asrama yangditayangkan secara live dihadapan semua murid-murid Hogwarts. Seperti seseorang yang sedang diadili di sebuah kantor pengadilan atau apapun itu namanya.. Oh, maaf saja kalau berlebihan. "Apa kabar, emm—Senior?" basa-basi yang basi.
Wajar kan menanyakan kabar kepada orang yang sepertinya sudah sangat jarang ia temui itu?
Yeah, tapi basi.
Untuk membuka topik, bukan masalah kan? Lagipula, buat apa juga langsung menanyakan tentang para antek Dia-yang-lebih-baik-tidak-usah-punya-nama-deh (versi Flave) yang sedang—berjaya?
...
Flave wins the competitions. Bahkan pertanyaan seputar itupun tidak pernah terlintas dalam pikirannya sama sekali. Serius. Matanya yang sedari tadi berputar tidak jelas—yang barangkali menyebabkan senior Alfa menganggap Flave mengidap penyakit mata yang kritis sehingga membutuhkan perawatan dari dokter yang berpengalaman barangkali selama satu abad (berlebihan, lagi)—kini hanya mengerling sebentar pada orang yang sedang duduk di bangku panjang yang berjarak.. Dekat lah. Perlu diberitahu secara spesifik berapa jarak antara dirinya dengan bangku tersebut? Ribet. Oke, kembali membahas orang itu. Yeah, orang itu yang sedang duduk di sebuah bangku panjang yang tidak Flave sadari sebelumnya sambil melihat sebuah buku—kalau di Hogwarts, barangkali inilah tipe anak Ravenclaw—dan langsung menegakkan kepalanya.
Satu orang lagi yang ia kenal di Hogwarts. "Bernadette?"
Sok kenal sok dekat—
—dan satu lagi—
—Flave bagaikan perawan di sarang penyamun.
Tidak ada.
...
Tidak ada. Lagipula untuk apa dia datang kesini? Menunggu Winchester datang mengagetkannya dan kemudian mengecup keningnya, yang pada akhirnya pertemuan itu berubah menjadi sebuah kencan, sepertinya bukan hal yang mungkin ia lakukan pada saat itu. Dan bisa dibilang, ia akan sangat ge-er kalo memang itulah yang terjadi dalam beberapa detik nanti. Matanya masih terpaku pada Albert Memorial. Menatapnya dengan tatapan kosong, pikirannya pergi ke lain tujuan. Padahal kenapa tadi dia tidak ikut dengan Anno saja, pergi ke cafetaria dekat Diana Memorial Playground dan menikmati udara siang menjelang sore bersama kakaknya sambil barangkali menyeruput teh kesukaannya. Yeah, kadang otaknya tidak bisa diajak berkompromi seperti itu. So, jangan salahkan Flave.
"Hi..." sapa seseorang. Suaranya terdengar familiar, tapi sebetulnya ia tidak yakin kalau ia sangat mengenal suara itu. But, hey, suara itu mirip seperti.. "Kev—" okay, ia sangat mengharapkan orang itu datang; terlanjur kangen. "—senior Alfa?" volume suaranya sedikit diperbesar. Tidak ia sangka kalau seniornya akan berkunjung kesini juga. Diluar dugaan; sangat. Seorang dari beberapa senior Hufflepuff yang jarang sekali ia temui, sejak dirinya bertemu dengan senior Alfa di—err, dia lupa. Barangkali waktu pesta awal tahun ajaran sehabis ia mengikuti seleksi asrama yangditayangkan secara live dihadapan semua murid-murid Hogwarts. Seperti seseorang yang sedang diadili di sebuah kantor pengadilan atau apapun itu namanya.. Oh, maaf saja kalau berlebihan. "Apa kabar, emm—Senior?" basa-basi yang basi.
Wajar kan menanyakan kabar kepada orang yang sepertinya sudah sangat jarang ia temui itu?
Yeah, tapi basi.
Untuk membuka topik, bukan masalah kan? Lagipula, buat apa juga langsung menanyakan tentang para antek Dia-yang-lebih-baik-tidak-usah-punya-nama-deh (versi Flave) yang sedang—berjaya?
...
Flave wins the competitions. Bahkan pertanyaan seputar itupun tidak pernah terlintas dalam pikirannya sama sekali. Serius. Matanya yang sedari tadi berputar tidak jelas—yang barangkali menyebabkan senior Alfa menganggap Flave mengidap penyakit mata yang kritis sehingga membutuhkan perawatan dari dokter yang berpengalaman barangkali selama satu abad (berlebihan, lagi)—kini hanya mengerling sebentar pada orang yang sedang duduk di bangku panjang yang berjarak.. Dekat lah. Perlu diberitahu secara spesifik berapa jarak antara dirinya dengan bangku tersebut? Ribet. Oke, kembali membahas orang itu. Yeah, orang itu yang sedang duduk di sebuah bangku panjang yang tidak Flave sadari sebelumnya sambil melihat sebuah buku—kalau di Hogwarts, barangkali inilah tipe anak Ravenclaw—dan langsung menegakkan kepalanya.
Satu orang lagi yang ia kenal di Hogwarts. "Bernadette?"
Sok kenal sok dekat—
—dan satu lagi—
—Flave bagaikan perawan di sarang penyamun.
Labels: flave, graduated from hogwarts, little reunion
2:30 AM | 0 comments
Hello, You Found Me — 1
Guoman Tower (formally Tower Thistle), St Katherine's Way, City of London, E1W 1LD
"Jadi, Flavarel, tidak apa-apa kan kita menginap disini untuk sementara?" suara lembut itu menggetarkan gendang telinga Flave. Gadis berusia delapan belas tahun itu hanya bisa mengangguk pelan dan tersenyum manis pada Mom. Sebenarnya, Flave bisa saja langsung pulang ke villanya di Chelsea. Hanya saja dengan alasan klasik dari Mom—disewakan, yeah, bukan masalah kan?—mereka bertiga (Mom, Anno, dan Flave) akhirnya memutuskan untuk menginap di hotel bintang empat. Wow.. Dekat dengan London Bridge pula. Sangat dekat malahan, kau hanya bisa berjalan dua menit untuk sampai di London Bridge dan menikmati pemandangan dermaga St. Katharine yang indah. Cepat-cepat ia melangkah menuju kamar yang sudah dipesan oleh Mom. Barusan kata Mom, mereka akan jalan-jalan berkeliling daerah London.
Bersama kakak laki-lakinya yang super menyebalkan, Anno. Naik mobil pribadinya, tentu saja. Kenapa tidak Apparate saja sekalian? Toh, mereka sama-sama bersekolah di Hogwarts ini, kok!
"So, kemana temanmu yang di Hogwarts itu? Err—siapa sih namanya?"
Kakaknya tiba-tiba membuka pembicaraan dengan menanyakan teman Flave. Teman Hogwarts yang mana? Rasa-rasanya Flave punya banyak teman di sekolah lamanya itu, meski tidak terlalu sering bersosialisasi. Dan rasanya.. Anno belum pernah bertemu dengan siapapun temannya yang satu sekolah dengannya itu. "Yang mana—awas!" Flave sedikit mengagetkan kakaknya yang sedang menyetir itu. Bagaimana tidak coba? Anno terlihat tidak terlalu konsentrasi menyetir sampai hampir menyerempet bus nomor 10 dengan tujuan Hammersmith – Kings Cross. Fiuh. "Sudah kubilang kan? Kalau kau masih capek, kenapa juga harus mengantarku ke Kensington?" kini Flave menggerutu pada kakaknya. Tatapannya masih lurus kedepan, takut kejadian itu terulang lagi. "Hampir saja.." gumam Anno. Ah, dasar tidak nyambung! Ditanya malah menjawab yang aneh-aneh.
Kensington Garden
Ah, sampai juga di tempat ini. Flave langsung menarik nafas panjang ketika ia turun dari mobil kakaknya yang hampir menyerempet bus itu. Begitu pula dengan Anno yang dengan jahilnya mengikuti setiap gerak-gerik yang Flave lakukan. Mengetahui itu, ia langsung melirik tajam kearah Anno. Oh well, mari kita lupakan soal mobil-yang-hampir-menyerempet-bus-yang-menuju-King's-Cross tadi. Anno yang tadi mengandeng tangan Flave—bisa dikatakan seperti orang yang berpacaran—langsung pergi menuju cafe yang terletak didekat Diana Memorial Playground. Ah, ya sudahlah.
Sementara Flave hanya melangkah pelan menuju Albert Memorial yang katanya terdapat berbagai macam patung yang menarik. Langkahnya semakin pelan ketika ia mengingat pertemuan terakhirnya dengan seluruh keluarga besar Hufflepuff. Yeah, seperti yang kukatakan sebelumnya, terlalu berat untuk meninggalkan mereka. Mereka memang sudah menjadi keluarga kedua bagi Flave. Keluarga dimana mereka berbagi suka dan duka. Hmm.. Yeah, walau bagaimanapun, hari itu akan datang juga. Mungkin perasaan Flave akan sama dengan para seniornya yang terlebih dahulu meninggalkan Hogwarts. Apa mungkin perasaan itu langsung hilang begitu saja?
Ia berharap ada seseorang yang datang kesini. Semoga saja.. dia yang datang.
Ngomong-ngomong, pertanyaan yang tadi Flave tanyakan belum dijawab juga oleh Anno. Sial.
"Jadi, Flavarel, tidak apa-apa kan kita menginap disini untuk sementara?" suara lembut itu menggetarkan gendang telinga Flave. Gadis berusia delapan belas tahun itu hanya bisa mengangguk pelan dan tersenyum manis pada Mom. Sebenarnya, Flave bisa saja langsung pulang ke villanya di Chelsea. Hanya saja dengan alasan klasik dari Mom—disewakan, yeah, bukan masalah kan?—mereka bertiga (Mom, Anno, dan Flave) akhirnya memutuskan untuk menginap di hotel bintang empat. Wow.. Dekat dengan London Bridge pula. Sangat dekat malahan, kau hanya bisa berjalan dua menit untuk sampai di London Bridge dan menikmati pemandangan dermaga St. Katharine yang indah. Cepat-cepat ia melangkah menuju kamar yang sudah dipesan oleh Mom. Barusan kata Mom, mereka akan jalan-jalan berkeliling daerah London.
Bersama kakak laki-lakinya yang super menyebalkan, Anno. Naik mobil pribadinya, tentu saja. Kenapa tidak Apparate saja sekalian? Toh, mereka sama-sama bersekolah di Hogwarts ini, kok!
"So, kemana temanmu yang di Hogwarts itu? Err—siapa sih namanya?"
Kakaknya tiba-tiba membuka pembicaraan dengan menanyakan teman Flave. Teman Hogwarts yang mana? Rasa-rasanya Flave punya banyak teman di sekolah lamanya itu, meski tidak terlalu sering bersosialisasi. Dan rasanya.. Anno belum pernah bertemu dengan siapapun temannya yang satu sekolah dengannya itu. "Yang mana—awas!" Flave sedikit mengagetkan kakaknya yang sedang menyetir itu. Bagaimana tidak coba? Anno terlihat tidak terlalu konsentrasi menyetir sampai hampir menyerempet bus nomor 10 dengan tujuan Hammersmith – Kings Cross. Fiuh. "Sudah kubilang kan? Kalau kau masih capek, kenapa juga harus mengantarku ke Kensington?" kini Flave menggerutu pada kakaknya. Tatapannya masih lurus kedepan, takut kejadian itu terulang lagi. "Hampir saja.." gumam Anno. Ah, dasar tidak nyambung! Ditanya malah menjawab yang aneh-aneh.
Kensington Garden
Ah, sampai juga di tempat ini. Flave langsung menarik nafas panjang ketika ia turun dari mobil kakaknya yang hampir menyerempet bus itu. Begitu pula dengan Anno yang dengan jahilnya mengikuti setiap gerak-gerik yang Flave lakukan. Mengetahui itu, ia langsung melirik tajam kearah Anno. Oh well, mari kita lupakan soal mobil-yang-hampir-menyerempet-bus-yang-menuju-King's-Cross tadi. Anno yang tadi mengandeng tangan Flave—bisa dikatakan seperti orang yang berpacaran—langsung pergi menuju cafe yang terletak didekat Diana Memorial Playground. Ah, ya sudahlah.
Sementara Flave hanya melangkah pelan menuju Albert Memorial yang katanya terdapat berbagai macam patung yang menarik. Langkahnya semakin pelan ketika ia mengingat pertemuan terakhirnya dengan seluruh keluarga besar Hufflepuff. Yeah, seperti yang kukatakan sebelumnya, terlalu berat untuk meninggalkan mereka. Mereka memang sudah menjadi keluarga kedua bagi Flave. Keluarga dimana mereka berbagi suka dan duka. Hmm.. Yeah, walau bagaimanapun, hari itu akan datang juga. Mungkin perasaan Flave akan sama dengan para seniornya yang terlebih dahulu meninggalkan Hogwarts. Apa mungkin perasaan itu langsung hilang begitu saja?
Ia berharap ada seseorang yang datang kesini. Semoga saja.. dia yang datang.
Ngomong-ngomong, pertanyaan yang tadi Flave tanyakan belum dijawab juga oleh Anno. Sial.
Labels: flave, graduated from hogwarts, little reunion
as written on; Friday, April 3, 2009
6:44 PM | 0 comments
We're All In This Together – 5
Memangnya Flave mau menganggap Elel sebagai mantan pacarnya? Bahkan, kalau perlu, Flave bisa saja mengatakan kalau ia tidak kenal sama sekali dengan Leoma Leicester.
Stop about him.
Makanya tadi Flave menyebut statusnya sebagai high quality jomblo yang limited edition, karena sebenarnya ia sangat ingin melupakan perjodohan yang akhirnya batal juga itu. Ia sempat tertawa kecil ketika mendengar Cheezta terbahak-bahak mendengar kata limited edition dari mulutnya. Apa katanya? Dimusiumkan? Wogh, memangnya Flave bisa dimusiumkan ya? Tidak bisa diproduksi lagi? Ya ampun, memangnya Flave diciptakan berapa kali sih oleh Tuhan? Ada-ada saja deh. Dasar. Sepertinya Cheezta mau ditimpuk dengan tumpukan buku oleh Flave, mungkin ya? “Hahaha.. Aku ini memang limited edition, tapi tidak bisa dimusiumkan. Nanti kalau aku dimusiumkan, nanti kalian kangen sama aku.. Hayoo~” ujarnya. Sebenarnya Flave ingin mengejar Cheezta. Mau menjitak kepalanya. Haha.. Berasa anak tahun pertama lagi..
Suasana di Diagon Alley makin lama makin terik dan padat. Jujur, Flave tidak membayangkan sebelumnya kalau reuni dadakan seperti ini saja bisa membuat jalanan itu tampak padat. Flave sedikit bingung ketika Mizu mengatakan kalau ia sedang didekati dengan seorang murid Gryffindor yang katanya seangkatan dengan kita—dalam artian Flave dan yang sedang berkumpul disitu. Wow, benarkah? Bahkan Flave tidak merasa didekati oleh siapapun setelah putus dari Elel. “Maksudmu—” baru saja mau meneruskan kata-katanya, Mizu sudah menyebut nama belakang orang yang dekat dengannya itu. “Winchester, kan?” Flave langsung terkejut setengah mati. Flave memang sedang dekat dengan Kevin akhir-akhir ini. Bukan berarti kalau dekat selalu dikait-kaitkan dengan pacaran kan? Cheezta pun malah terbatuk-batuk kecil dibelakangnya. Ya ampun, Mizu dan Cheezta sepertinya salah sangka nih. “Dekat sebagai teman. Tidak lebih. Ya kan, Kevin?” katanya sambil menepuk bahu Kevin. Memang benar kan Flave dan Kevin hanya dekat sebagai teman—tidak lebih? Kecuali kalau Kevin menganggapnya sebagai pacar, itu lain lagi ceritanya.
PLAK!
Flave tidak menampar Kevin kok! Berani sumpah! Ia hanya menepuk bahu temannya, tidak sampai menamparnya. Memangnya ada alasan apa sampai Flave mau menampar Kevin? Ia pun mengalihkan pandangan kepada Flitchley dan Mendez. Nah! Kalau tidak salah Mendez itu yang mengambil Froggy milik Alya waktu tahun pertamanya disini. Lalu, kenapa Flitchley malah menampar Mendez coba? Hanya karena penampilannya yang terbilang lebay itukah? Ya ampun, lebay banget deh. Kemudian Mizu langsung mengusap lembut pipi Mendez. Wah, sepertinya ada yang dilanda kasmaran nih. Ah sudahlah. Oh ya, sepertinya orang yang ditunggu oleh Aurora tadi telah datang tuh. Yap, Azrael Hazzelnuts—prefek Hufflepuff tahun ketujuh. Ia sempat menabrak Ann dan memanggilnya.. Rooster? Aneh. Mereka masih bermusuhan atau bagaimana? Entahlah. “Emm—hai juga Azrael. Masih bermusuhan dengan—” sapanya sambil menunjuk Ann. Yaaa.. Kalau Flave sebut ia dengan sebutan Rooster, nanti Ann malah tersinggung.
Aurora langsung menjelaskan apa yang terjadi disini setelah diminta oleh Azrael. Ya ya ya, pasangan yang sangat serasi. Kemudian ada yang datang lagi. Destiny McLight dengan summer dressnya yang sangat cantik. Menanyakan hal yang sama—malah membuatnya semakin antusias ingin menjawabnya. Semakin banyak yang seangkatannya datang kesini, semakin antusias Flave menjawab pertanyaan mereka. Terlalu senang sepertinya. “Mengulang-perkenalan, Destiny. Yaa.. Sekalian membantu Yusuke sembuh dari amnesianya,” Flave mengulang sedikit kata-kata Cheezta tadi pada Destiny. “Ah ya, seperti kata Aurora dan Cheezta tadi, yang belum mengulang-perkenalan, ayo berkenalan lagi!” serunya sambil menyengir lebar. Namun, mendadak ia merubah mimiknya menjadi agak sedikit muram.
Cengiran lebar itu mengingatkannya pada Nano.
Stop about him.
Makanya tadi Flave menyebut statusnya sebagai high quality jomblo yang limited edition, karena sebenarnya ia sangat ingin melupakan perjodohan yang akhirnya batal juga itu. Ia sempat tertawa kecil ketika mendengar Cheezta terbahak-bahak mendengar kata limited edition dari mulutnya. Apa katanya? Dimusiumkan? Wogh, memangnya Flave bisa dimusiumkan ya? Tidak bisa diproduksi lagi? Ya ampun, memangnya Flave diciptakan berapa kali sih oleh Tuhan? Ada-ada saja deh. Dasar. Sepertinya Cheezta mau ditimpuk dengan tumpukan buku oleh Flave, mungkin ya? “Hahaha.. Aku ini memang limited edition, tapi tidak bisa dimusiumkan. Nanti kalau aku dimusiumkan, nanti kalian kangen sama aku.. Hayoo~” ujarnya. Sebenarnya Flave ingin mengejar Cheezta. Mau menjitak kepalanya. Haha.. Berasa anak tahun pertama lagi..
Suasana di Diagon Alley makin lama makin terik dan padat. Jujur, Flave tidak membayangkan sebelumnya kalau reuni dadakan seperti ini saja bisa membuat jalanan itu tampak padat. Flave sedikit bingung ketika Mizu mengatakan kalau ia sedang didekati dengan seorang murid Gryffindor yang katanya seangkatan dengan kita—dalam artian Flave dan yang sedang berkumpul disitu. Wow, benarkah? Bahkan Flave tidak merasa didekati oleh siapapun setelah putus dari Elel. “Maksudmu—” baru saja mau meneruskan kata-katanya, Mizu sudah menyebut nama belakang orang yang dekat dengannya itu. “Winchester, kan?” Flave langsung terkejut setengah mati. Flave memang sedang dekat dengan Kevin akhir-akhir ini. Bukan berarti kalau dekat selalu dikait-kaitkan dengan pacaran kan? Cheezta pun malah terbatuk-batuk kecil dibelakangnya. Ya ampun, Mizu dan Cheezta sepertinya salah sangka nih. “Dekat sebagai teman. Tidak lebih. Ya kan, Kevin?” katanya sambil menepuk bahu Kevin. Memang benar kan Flave dan Kevin hanya dekat sebagai teman—tidak lebih? Kecuali kalau Kevin menganggapnya sebagai pacar, itu lain lagi ceritanya.
PLAK!
Flave tidak menampar Kevin kok! Berani sumpah! Ia hanya menepuk bahu temannya, tidak sampai menamparnya. Memangnya ada alasan apa sampai Flave mau menampar Kevin? Ia pun mengalihkan pandangan kepada Flitchley dan Mendez. Nah! Kalau tidak salah Mendez itu yang mengambil Froggy milik Alya waktu tahun pertamanya disini. Lalu, kenapa Flitchley malah menampar Mendez coba? Hanya karena penampilannya yang terbilang lebay itukah? Ya ampun, lebay banget deh. Kemudian Mizu langsung mengusap lembut pipi Mendez. Wah, sepertinya ada yang dilanda kasmaran nih. Ah sudahlah. Oh ya, sepertinya orang yang ditunggu oleh Aurora tadi telah datang tuh. Yap, Azrael Hazzelnuts—prefek Hufflepuff tahun ketujuh. Ia sempat menabrak Ann dan memanggilnya.. Rooster? Aneh. Mereka masih bermusuhan atau bagaimana? Entahlah. “Emm—hai juga Azrael. Masih bermusuhan dengan—” sapanya sambil menunjuk Ann. Yaaa.. Kalau Flave sebut ia dengan sebutan Rooster, nanti Ann malah tersinggung.
Aurora langsung menjelaskan apa yang terjadi disini setelah diminta oleh Azrael. Ya ya ya, pasangan yang sangat serasi. Kemudian ada yang datang lagi. Destiny McLight dengan summer dressnya yang sangat cantik. Menanyakan hal yang sama—malah membuatnya semakin antusias ingin menjawabnya. Semakin banyak yang seangkatannya datang kesini, semakin antusias Flave menjawab pertanyaan mereka. Terlalu senang sepertinya. “Mengulang-perkenalan, Destiny. Yaa.. Sekalian membantu Yusuke sembuh dari amnesianya,” Flave mengulang sedikit kata-kata Cheezta tadi pada Destiny. “Ah ya, seperti kata Aurora dan Cheezta tadi, yang belum mengulang-perkenalan, ayo berkenalan lagi!” serunya sambil menyengir lebar. Namun, mendadak ia merubah mimiknya menjadi agak sedikit muram.
Cengiran lebar itu mengingatkannya pada Nano.
6:41 PM | 0 comments
We're All In This Together – 4
Kenapa baru sekarang kita dipertemukan?
Flave hanya mengangguk sepersekian detik—mengiyakan pernyataan Cheezta tadi. Status murid NEWT mungkin tidak akan terulang lagi—tapi entahlah untuk anak yang tinggal kelas. Semoga Flave lulus tahun ini dan menyongsong masa depan yang cerah—meskipun suatu saat bisa saja gelap. Kau tahu sendiri kan kalau You-Know-Who dikabarkan sedang berkeliaran kesana kemari? Oh ya, kita disini bukan untuk membahas bangkitnya You-Know-Who dan semua pengikutnya yang—kalian harus tetap waspada—mungkin saja ada di sekitar kita. Oke, ini malah jadi meracau begini.. Back to topic, berarti kalau sudah menyandang status murid NEWT—tahun depan kita semua sudah lulus kan? Mungkin tak ada lagi acara reunian seperti ini—
—Flave ingin seperti ini terus jadinya—
—berkumpul bersama di tempat yang tidak terduga.
Dan tawa Flave meledak lagi ketika mendengar Cheezta sedikit menggodanya. Ya ampun.. Lagipula, untuk apa yah Flave mengatakan statusnya sebagai high quality jomblo—daripada membicarakan status murid NEWT yang kesannya agak kaku begitulah—harusnya sih looking for a relationship atau mungkin love adventurer—jah, ini kenapa malah membicarakan status sih? Haha.. “Maklum, Chee. Aku ini kan limited edition—hahaha—bercanda kok!!” ujarnya menepuk pundak Chee. Inginnya sih sekalian menggetok kepalanya. Tapi, memangnya disini ada palu yang bisa dipakai untuk menggetok kepalanya? Sepersekian detik kemudian, satu orang lagi mulai menyapa dan sekaligus memperkenalkan diri.
“Kevin Winchester, Gryffindor tahun ketujuh—nice to meet you—all,”
Akhirnya datang juga! Sebenarnya Flave juga mengharapkan Kevin dan yang lainnya yang pernah berkenalan di tempat ini untuk datang kesini. “Tidak pernah sebagus ini, kau tahu?” ujar Flave meninju pergelangan lengan atas Kevin dengan pelan. Dan bicara soal status lagi, harusnya tadi Flave bilang kalau ia sedang berstatus HTS alias—kau tahu sendirilah. Ah, tapi konyol juga kalau Flave bilang begitu. Bisa-bisa ia diteror oleh teman-temannya yang ada disini. Haha.. Bercanda kok. “Musim panas tidak pernah sebagus ini, lho, menurutku. Kalau kau sendiri?” kini Flave membalikkan pertanyaan itu kepada Kevin. Yeah, siapa tahu kalau musim panasnya juga sama seperti Flave. Tidak pernah sebagus hari ini.
Ah, ada lagi yang datang. Kali ini Stanley—oke oke, panggilannya Stan kan?—yang datang. Menanyakan tentang reuni. Yay, kira-kira ada berapa orang lagi yang akan menanyakan hal seperti itu? Tapi, Cheezy duluan yang menjawab. “Yap, Stan. Reuni kecil-kecilan dan bukan akal-akalan Lulu—oh ya, kalau kalian mau—kenapa kita tidak merayakan reuni lagi di kastil? Ada yang keberatan?” kini Flave malah asal bicara. Tapi ide yang bagus juga sih—ya karena kau tahu sendiri kan kalau tahun ini adalah tahun terakhir Flave dan teman-teman seangkatannya di Hogwarts. Dan Flave akan selalu kangen pada mereka semua, tanpa terkecuali—mungkin. Dan ada satu orang lagi yang datang ke kerumunan anak-anak kelas tujuh ini—Yusuke Sawada. Yang ia kenal—umm, kalau tidak salah waktu itu ada Flave, Yusuke, Andrea, Rei, Arc, dan Todd—dan seingatnya ada orang lain yang juga ikut dalam insiden itu—waktu di penginapan—ada Boggart dikamar Todd.
Yap, mulai ada lagi ingatan masa lalu yang kini melayang-layang diotak Flave. “Terlalu langka dan terlalu sulit untuk dilupakan tentunya, Yusuke. Flavarel Montez, Hufflepuff tahun ketujuh. Apa perlu aku menyebutkan statusku tadi? Haha..” Yeah, meskipun tadi Yusuke bilang kalau ia tidak bisa mengingat mereka semua, mungkin ia bakal ingat dengan nama Flave. Kau tahu sendiri kan kalau mendiang Nano juga masuk Gryffindor? Kemudian Ann membalas sapaannya tadi. “Ah entahlah. Mungkin kita berdua memang jarang kelihatan sekarang. Haha..” katanya sambil mengedipkan matanya. Dan barusan dia menawarkan keripik ya? “Kebetulan ada makanan. Boleh minta yah?” sama semangatnya dengan Aurora—mengambil beberapa keripik dan langsung memasukkannya kedalam mulut. “Emm—yeah, kau sakit, Ann?” ujarnya sama simpatinya dengan Aurora.
“Ngomong-ngomong nih, Aurora. Kenapa kau tak langsung Accio saja Azrael. Siapa tahu dia sedang menganggur menunggumu datang padanya,” ujarnya pada Aurora dengan mengedipkan sebelah matanya. Ahaha.. Siapa tahu sih Azrael sudah menunggu Aurora daritadi. Terkadang, Flave suka manyun sendiri melihat teman seangkatannya sudah memiliki pacar—contoh saja Aurora dengan Azzie juga Lulu dengan Stan. Bahkan katanya Cheezta sudah jadian—atau tunangan sih?—dengan Ardith ya? Iya, tahu kan laki-laki yang sukses membuat Flave sedikit geram dengan kelakuannya di kelompok ramuan—yang menulis laporan yang benar-benar melenceng itu lho. Ahaha.. Toh ia sudah melupakannya.
Bahkan seorang Leoma Leicester pun tidak pernah Flave anggap sebagai pacar. Ralat—mantan pacar.
6:40 PM | 0 comments
We're All In This Together – 3
“Haha.. Memang betul sih apa kata Lulu dan Mizu. Dan padahal tadinya aku disini sendirian..” ujar Flave mengakui. Memang sih, harus diakui kalau reuni ‘dadakan’ seperti ini justru jauh lebih menyenangkan dibandingkan reuni yang biasa. Padahal kalau dipikir-pikir, tempat ini memang tempat nostalgia paling menyenangkan dari tempat manapun. Yeah, terlebih di tahun pertamanya berbelanja di Diagon Alley. Terlalu banyak kejadian menarik yang Flave dapatkan dimasa-masa itu. Saat perkenalan dijalanan seperti ini dan juga saat bertemu ketika sedang berbelanja. Ah, Flave lupa siapa anak pertama yang mengajaknya berkenalan. Hehe..
“Oh ya, kalau kau masih belum tahu juga namaku—” katanya dengan sedikit menggodai Francis. “—Flavarel Montez, Hufflepuff tahun ketujuh, dan kemungkinan sedang berstatus high quality jomblo,” katanya menahan ketawa sambil menjabat tangan Francis. Seperti kata Lulu tadi, mereka—dan juga termasuk Flave—sedang bermain ‘mengulang-perkenalan’ yang benar-benar semakin membuatnya ingin kembali ke masa lalu—saat Flave masih berstatus calon murid Hogwarts—dan kembali merasakan keceriaan yang dulu pernah terjadi. Dan ia semakin mengingat Nano yang—err—kau tahu sendiri lah. Ada disana. “Haha.. Yang terakhir tadi cuma bercanda kok.. Hahaha..” dan kini Flave tak bisa menahan ketawanya lebih lama.
Hei, ada Annabelle. Dan tadi katanya ia menabrak Lulu? Dios míos, makin banyak saja kejadian lucu yang terekam diotak Flave. “Hei Ann! Kemana saja?” ujarnya sedikit bersemangat. Bagaimana tidak bersemangat ketika kau bertemu dengan hampir seluruh teman-temanmu yang sudah lama tidak bertemu—yang palingan hanya bertemu pada saat tertentu, tidak seperti sekarang ini? Sama bersemangatnya dengan Lulu yang mengulang kembali perkenalannya. Flave hanya cekikikan sendiri melihatnya. Kemudian disusul dengan Mizu. Sumpah deh, Flave merasa jadi anak umur sebelas tahun lagi. Haruskah ia bilang sekarang kalau ini semua karena Francis yang membuat Flave serasa anak kecil lagi?
“Oke oke, sekarang giliranku, ya? Flavarel Montez, Hufflepuff tahun ketujuh, berstatus high quality jomblo, dan kalau berminat silahkan datangi aku ke ruang bawah tanah. Hahaha.. Salam kenal semua!” sekali lagi tawa Flave mulai meledak. Tidak terlalu meledak sekali sih. Tapi rasanya mungkin lebih dari senang saja.
“Oh ya, kalau kau masih belum tahu juga namaku—” katanya dengan sedikit menggodai Francis. “—Flavarel Montez, Hufflepuff tahun ketujuh, dan kemungkinan sedang berstatus high quality jomblo,” katanya menahan ketawa sambil menjabat tangan Francis. Seperti kata Lulu tadi, mereka—dan juga termasuk Flave—sedang bermain ‘mengulang-perkenalan’ yang benar-benar semakin membuatnya ingin kembali ke masa lalu—saat Flave masih berstatus calon murid Hogwarts—dan kembali merasakan keceriaan yang dulu pernah terjadi. Dan ia semakin mengingat Nano yang—err—kau tahu sendiri lah. Ada disana. “Haha.. Yang terakhir tadi cuma bercanda kok.. Hahaha..” dan kini Flave tak bisa menahan ketawanya lebih lama.
Hei, ada Annabelle. Dan tadi katanya ia menabrak Lulu? Dios míos, makin banyak saja kejadian lucu yang terekam diotak Flave. “Hei Ann! Kemana saja?” ujarnya sedikit bersemangat. Bagaimana tidak bersemangat ketika kau bertemu dengan hampir seluruh teman-temanmu yang sudah lama tidak bertemu—yang palingan hanya bertemu pada saat tertentu, tidak seperti sekarang ini? Sama bersemangatnya dengan Lulu yang mengulang kembali perkenalannya. Flave hanya cekikikan sendiri melihatnya. Kemudian disusul dengan Mizu. Sumpah deh, Flave merasa jadi anak umur sebelas tahun lagi. Haruskah ia bilang sekarang kalau ini semua karena Francis yang membuat Flave serasa anak kecil lagi?
“Oke oke, sekarang giliranku, ya? Flavarel Montez, Hufflepuff tahun ketujuh, berstatus high quality jomblo, dan kalau berminat silahkan datangi aku ke ruang bawah tanah. Hahaha.. Salam kenal semua!” sekali lagi tawa Flave mulai meledak. Tidak terlalu meledak sekali sih. Tapi rasanya mungkin lebih dari senang saja.
6:38 PM | 0 comments
We're All In This Together – 2
Flave masih ingat ketika dirinya tersandung sesuatu sehingga membuat kakinya sedikit luka. Yeah, ia masih agak sedikit geli mengingat masa lalunya disini. Err—apalagi yah? Flave lupa—ya memang lah. Flave sudah berumur hampir delapan belas tahun dan kejadian itupun terjadi di tahun pertamanya—waktu Flave masih sebelas tahun—jadinya ia tidak terlalu mengingat banyak. Orang-orang disekitarnya pun meliriknya dengan tatapan ‘awas, disini ada orang gila berkeliaran’ dan Flave tak terlalu peduli akan hal itu. Untung saja Flave tidak tertawa gegulingan disini—bisa-bisa ia langsung dibawa ke St. Mungo.
Dan—for your information—ia bahkan jadi lupa tujuannya kesini. Kenangan-kenangan semasa tahun pertamanya begitu terasa memenuhi pikirannya kali ini. Berkenalan dan segala macam kejadian setelahnya membuat Flave ingin kembali ke—kalau tidak salah—enam tahun yang lalu. Dimana anak-anak seangkatannya—meskipun tidak semuanya sih—berkumpul dan berkenalan satu sama lain.
"FLAVAREL MONTEZ! HAI!"
Seseorang menyapanya dengan suara yang agak sedikit kencang. Lorainne Ziegmowit—yang biasa dipanggil Lulu. “Hei Lulu!!” balasnya dengan agak bersemangat. Kapan lagi bisa bertemu dengannya selain di kastil Hogwarts—terlebih dijalanan yang padat dengan penyihir ini—dan kegelian sendiri mengingat masa lalu yang begitu ceria, hm? "Sedang apa di sini? Menunggu orang?" tanyanya. Kalau tidak salah ia terakhir melihat batang hidung Lulu waktu kelas PTIH. Lulu berpasangan dengan Stan—laki-laki yang kalau tidak salah pernah ia kenal disini juga—dan mereka berdua tampak sangat dekat. “Err—tidak kok. Aku kesini untuk membeli beberapa bu—”
“Flave, Lulu. Kabar baik?”
"Hi, all! Aku ikutan yaa.. Jarang-jarang kan kita berkumpul seperti ini."
“—ku. Hai Mizu! Hai Natt!” sapanya ramah. Yeah, datang lagi teman satu angkatannya—dan satu asrama pula!—dan siapa sangka pertemuan yang tidak terduga namun menyenangkan ini membuat jalanan Diagon Alley benar-benar penuh oleh kumpulan manusia! “Kabar baik dan yeah—sepertinya kita memang jarang berkumpul seperti ini,” ujarnya mengaku. Kalau tidak salah, terakhir kali ia berkumpul dengan teman seangkatannya hanya saat di kastil—di menara astronomi tepatnya—di tahun kelimanya. Lebih mengesankan lagi, mereka—termasuk Flave—berkumpul disaat matahari terbenam. Udara musim dingin malah membuat pertemuan itu menjadi semakin hangat. Nah, sekarang siapa lagi yang akan datang?
“Hey—aku ada permintaan—itupun jika kalian tidak keberatan, tapi aku berharap kalian tidak keberatan. Karena aku tahu kalian pasti tidak keberatan.” Francis MacManus! Laki-laki yang seasrama dengannya itu sudah lama tidak muncul! Dan apa tadi katanya? Ingin berteman? Nah lho—memangnya dia pikir selama ini dia tidak punya teman? “Maksudku, aku hanya ingin menikmati tahun terakhir kita di Hogwarts. Hanya itu. Kalian jarang sekali bertemu denganku—” lanjutnya yang langsung disambung lagi. Ngomong-ngomong soal tahun terakhir, Flave jadi berniat mengadakan reunian lagi di kastil nanti. Tapi, entahlah. Apakah mereka juga mau mengadakannya? Kemudian, satu hal yang membuat Flave sedikit tersentak adalah—ia mengenalkan diri lagi.. “Kau sudah tahu namaku, kan?” ujarnya dengan sedikit terkekeh.
Ayo yang lainnya, datang lagi!
“Sorry kalau aku terjatuh! Hai Lulu, Montez, Winterfield, ehmmm... Macmanus?!” sapa seseorang. Suaranya cempreng—dugaannya benar juga—milik Clara Flitchley yang centil minta ampun itu. “Hai juga Clara..” kini Flave menyapanya dengan sedikit enggan. Err—entahlah. "Hai, senang melihat kalian semua disini baik-baik saja," kemudian seseorang merangkul pundaknya. Yeay! Cheezta juga ada disini! “Hai juga Chee! Yeah, kapan lagi bisa berkumpul disini, eh?” ujarnya setengah bercanda. Ingin rasanya menoyor kepala teman sekamarnya itu sekarang.
Ngomong-ngomong lagi, kemana Kevin?
Dan—for your information—ia bahkan jadi lupa tujuannya kesini. Kenangan-kenangan semasa tahun pertamanya begitu terasa memenuhi pikirannya kali ini. Berkenalan dan segala macam kejadian setelahnya membuat Flave ingin kembali ke—kalau tidak salah—enam tahun yang lalu. Dimana anak-anak seangkatannya—meskipun tidak semuanya sih—berkumpul dan berkenalan satu sama lain.
"FLAVAREL MONTEZ! HAI!"
Seseorang menyapanya dengan suara yang agak sedikit kencang. Lorainne Ziegmowit—yang biasa dipanggil Lulu. “Hei Lulu!!” balasnya dengan agak bersemangat. Kapan lagi bisa bertemu dengannya selain di kastil Hogwarts—terlebih dijalanan yang padat dengan penyihir ini—dan kegelian sendiri mengingat masa lalu yang begitu ceria, hm? "Sedang apa di sini? Menunggu orang?" tanyanya. Kalau tidak salah ia terakhir melihat batang hidung Lulu waktu kelas PTIH. Lulu berpasangan dengan Stan—laki-laki yang kalau tidak salah pernah ia kenal disini juga—dan mereka berdua tampak sangat dekat. “Err—tidak kok. Aku kesini untuk membeli beberapa bu—”
“Flave, Lulu. Kabar baik?”
"Hi, all! Aku ikutan yaa.. Jarang-jarang kan kita berkumpul seperti ini."
“—ku. Hai Mizu! Hai Natt!” sapanya ramah. Yeah, datang lagi teman satu angkatannya—dan satu asrama pula!—dan siapa sangka pertemuan yang tidak terduga namun menyenangkan ini membuat jalanan Diagon Alley benar-benar penuh oleh kumpulan manusia! “Kabar baik dan yeah—sepertinya kita memang jarang berkumpul seperti ini,” ujarnya mengaku. Kalau tidak salah, terakhir kali ia berkumpul dengan teman seangkatannya hanya saat di kastil—di menara astronomi tepatnya—di tahun kelimanya. Lebih mengesankan lagi, mereka—termasuk Flave—berkumpul disaat matahari terbenam. Udara musim dingin malah membuat pertemuan itu menjadi semakin hangat. Nah, sekarang siapa lagi yang akan datang?
“Hey—aku ada permintaan—itupun jika kalian tidak keberatan, tapi aku berharap kalian tidak keberatan. Karena aku tahu kalian pasti tidak keberatan.” Francis MacManus! Laki-laki yang seasrama dengannya itu sudah lama tidak muncul! Dan apa tadi katanya? Ingin berteman? Nah lho—memangnya dia pikir selama ini dia tidak punya teman? “Maksudku, aku hanya ingin menikmati tahun terakhir kita di Hogwarts. Hanya itu. Kalian jarang sekali bertemu denganku—” lanjutnya yang langsung disambung lagi. Ngomong-ngomong soal tahun terakhir, Flave jadi berniat mengadakan reunian lagi di kastil nanti. Tapi, entahlah. Apakah mereka juga mau mengadakannya? Kemudian, satu hal yang membuat Flave sedikit tersentak adalah—ia mengenalkan diri lagi.. “Kau sudah tahu namaku, kan?” ujarnya dengan sedikit terkekeh.
Ayo yang lainnya, datang lagi!
“Sorry kalau aku terjatuh! Hai Lulu, Montez, Winterfield, ehmmm... Macmanus?!” sapa seseorang. Suaranya cempreng—dugaannya benar juga—milik Clara Flitchley yang centil minta ampun itu. “Hai juga Clara..” kini Flave menyapanya dengan sedikit enggan. Err—entahlah. "Hai, senang melihat kalian semua disini baik-baik saja," kemudian seseorang merangkul pundaknya. Yeay! Cheezta juga ada disini! “Hai juga Chee! Yeah, kapan lagi bisa berkumpul disini, eh?” ujarnya setengah bercanda. Ingin rasanya menoyor kepala teman sekamarnya itu sekarang.
Ngomong-ngomong lagi, kemana Kevin?
6:35 PM | 0 comments
We're All In This Together – 1
Tret ini gw bikin setelah gw sempet melihat sedikit tret yang Flave ikutin waktu mau masuk Hogwarts. Jadi, ya sebagai kenang-kenangan gitu lah. Sekalian mau merayakan satu tahun RPG untuk anak-anak term dua termasuk gw sendiri. Haha.. Enjoy aja dah.
“Varel, boleh aku mengatakan sesuatu?” ujarnya dengan suara rendah. Siapa yang menyangka jika saat Nano turun dari kereta Hogwarts Express di Stasiun King’s Cross ia langsung terbaring tak berdaya. Pingsan. Mungkin karena kelelahan. Entahlah apa yang membuat Nano langsung pingsan, namun beruntung Flave ada disampingnya. Sebenarnya sudah sejak pertemuannya di Aula Besar batang hidung Nano tidak muncul lagi dihadapan Flave. Dia yang suka menungguinya di ruang bawah tanah hanya untuk dipeluk atau sedikit dimanjakan—well, bagaimanapun janji yang pernah ditulis oleh Flave dalam suratnya haruslah ditepati.
“Apa saja, Nano dear..” Flave hanya menatap adik kecilnya itu dalam. Adik kecil yang kini terbaring di sebuah rumah sakit didaerah Fulham—membuat mereka setidaknya kembali sebentar ke villa Montez di Chelsea. “Aku tak mau kembali lagi ke Hogwarts—” gumamnya pelan yang kemudian terputus sejenak karena batuk. Perasaan baru kali ini Nano sakit parah. Mungkin karena lingkungan Hogwarts yang terlalu tertutup dan udaranya yang terlalu menusuk—Nano tidak bisa beradaptasi secara cepat dengan lingkungan Hogwarts. “—tapi aku mau tidur dulu, yah?”
Siapa juga yang menyangka kalau itu akan menjadi percakapan terakhirnya dengan Nano—sebelum ia beristirahat untuk selama-lamanya—dan Flave akhirnya kini bisa menyesal. Kenapa juga ia terlalu malas menemuinya setiap sore di ruang bawah tanah—tepatnya didepan pintu asrama Hufflepuff—hanya untuk mengobrol sebentar. Oh, Dios mío.. Flave pikir apakah tidak terlalu cepat untuk meninggalkan Nano di usia muda? Apa kau tidak berpikir kalau seorang anak dua belas tahun seperti Nano harus meninggal dunia? Oke, sekarang pikiran Flave sudah mulai kacau. Ia terlalu memikirkan Nano sejak obrolan terakhirnya itu. Dan untungnya sekarang ia telah merelakan dia pergi. Kemudian, ia mengingat pesan terakhir dari Nano—
“Varel, jangan suka menangis lagi yah..”
—dan Flave sebenarnya ingin menangis. Tapi apa ia mau menangis didepan banyak orang seperti ini?
Well, for your information, Flave sekarang berada diantara kerumunan penyihir senior dan para calon murid tahun pertama Hogwarts. Yeah, dimana lagi kalau bukan di Diagon Alley. Tempat orang-orang berbelanja segala sesuatu yang berbau sihir—lengkap dengan toko lelucon dan toko es krim. Flave masih berjalan perlahan menyusuri jalanan yang padat dengan orang itu. Nyatanya, menurut Flave, tempat ini makin ramai dari tahun ke tahun. Ah, apakah ini hanya perasaannya saja atau bukan yah? Habisnya Flave sudah agak jarang datang kesini lagi. Dan tahun ini ia sengaja datang kesini hanya untuk membeli beberapa barang. T-shirt hijau muda yang ditutup dengan jaket tipis berwarna putih dan celana panjang berwarna putih setidaknya membuat Flave sedikit nyaman berada disini hari ini.
And the nostalgia started from here..
Masih ingatkah kau dengan kepolosan Flave di tahun pertamanya ia menginjakkan kaki di jalanan Diagon Alley? Flave yang polos dan ceroboh. Kakinya penuh dengan lecet karena terlalu sering terjatuh—sebagian besar sih karena tersandung sesuatu, sayang memang karena dulu Flave agak ceroboh dalam berjalan—dan yang jijik dengan hal-hal yang aneh. Termasuk kodok, eh? Ia jadi ingat waktu kodok milik Sabrena Alya mau dicuri oleh anak lain—Dios, Flave lupa siapa yang mencurinya—saat Flave memulai perkenalan dengan banyak anak. Yeah, seperti tadi yang sudah kubilang, dia sudah hampir lupa dengan kejadian itu. Flave jadi merasa geli sendiri mengingat tahun pertamanya yang cukup menggembirakan. Lucu memang..
Kini, Flave menunggu yang lainnya.
“Varel, boleh aku mengatakan sesuatu?” ujarnya dengan suara rendah. Siapa yang menyangka jika saat Nano turun dari kereta Hogwarts Express di Stasiun King’s Cross ia langsung terbaring tak berdaya. Pingsan. Mungkin karena kelelahan. Entahlah apa yang membuat Nano langsung pingsan, namun beruntung Flave ada disampingnya. Sebenarnya sudah sejak pertemuannya di Aula Besar batang hidung Nano tidak muncul lagi dihadapan Flave. Dia yang suka menungguinya di ruang bawah tanah hanya untuk dipeluk atau sedikit dimanjakan—well, bagaimanapun janji yang pernah ditulis oleh Flave dalam suratnya haruslah ditepati.
“Apa saja, Nano dear..” Flave hanya menatap adik kecilnya itu dalam. Adik kecil yang kini terbaring di sebuah rumah sakit didaerah Fulham—membuat mereka setidaknya kembali sebentar ke villa Montez di Chelsea. “Aku tak mau kembali lagi ke Hogwarts—” gumamnya pelan yang kemudian terputus sejenak karena batuk. Perasaan baru kali ini Nano sakit parah. Mungkin karena lingkungan Hogwarts yang terlalu tertutup dan udaranya yang terlalu menusuk—Nano tidak bisa beradaptasi secara cepat dengan lingkungan Hogwarts. “—tapi aku mau tidur dulu, yah?”
Siapa juga yang menyangka kalau itu akan menjadi percakapan terakhirnya dengan Nano—sebelum ia beristirahat untuk selama-lamanya—dan Flave akhirnya kini bisa menyesal. Kenapa juga ia terlalu malas menemuinya setiap sore di ruang bawah tanah—tepatnya didepan pintu asrama Hufflepuff—hanya untuk mengobrol sebentar. Oh, Dios mío.. Flave pikir apakah tidak terlalu cepat untuk meninggalkan Nano di usia muda? Apa kau tidak berpikir kalau seorang anak dua belas tahun seperti Nano harus meninggal dunia? Oke, sekarang pikiran Flave sudah mulai kacau. Ia terlalu memikirkan Nano sejak obrolan terakhirnya itu. Dan untungnya sekarang ia telah merelakan dia pergi. Kemudian, ia mengingat pesan terakhir dari Nano—
“Varel, jangan suka menangis lagi yah..”
—dan Flave sebenarnya ingin menangis. Tapi apa ia mau menangis didepan banyak orang seperti ini?
Well, for your information, Flave sekarang berada diantara kerumunan penyihir senior dan para calon murid tahun pertama Hogwarts. Yeah, dimana lagi kalau bukan di Diagon Alley. Tempat orang-orang berbelanja segala sesuatu yang berbau sihir—lengkap dengan toko lelucon dan toko es krim. Flave masih berjalan perlahan menyusuri jalanan yang padat dengan orang itu. Nyatanya, menurut Flave, tempat ini makin ramai dari tahun ke tahun. Ah, apakah ini hanya perasaannya saja atau bukan yah? Habisnya Flave sudah agak jarang datang kesini lagi. Dan tahun ini ia sengaja datang kesini hanya untuk membeli beberapa barang. T-shirt hijau muda yang ditutup dengan jaket tipis berwarna putih dan celana panjang berwarna putih setidaknya membuat Flave sedikit nyaman berada disini hari ini.
And the nostalgia started from here..
Masih ingatkah kau dengan kepolosan Flave di tahun pertamanya ia menginjakkan kaki di jalanan Diagon Alley? Flave yang polos dan ceroboh. Kakinya penuh dengan lecet karena terlalu sering terjatuh—sebagian besar sih karena tersandung sesuatu, sayang memang karena dulu Flave agak ceroboh dalam berjalan—dan yang jijik dengan hal-hal yang aneh. Termasuk kodok, eh? Ia jadi ingat waktu kodok milik Sabrena Alya mau dicuri oleh anak lain—Dios, Flave lupa siapa yang mencurinya—saat Flave memulai perkenalan dengan banyak anak. Yeah, seperti tadi yang sudah kubilang, dia sudah hampir lupa dengan kejadian itu. Flave jadi merasa geli sendiri mengingat tahun pertamanya yang cukup menggembirakan. Lucu memang..
Kini, Flave menunggu yang lainnya.
6:32 PM | 0 comments
Still Remember You – 2
—Benarkah wajahnya terlihat murung?
Okay, seorang Leoma Leicester masih menguasai pikirannya. Itu tuh, anak Ravenclaw kelas tujuh yang nampaknya sangat nge-fans dengan Flave. Tidak tahu? Masa bodo ah. Memang seharusnya ia tidak dikenal semua orang kan? Dia itu sinting, gila, psycho! Masa kemarin saat ia berjalan menuju perpustakaan kemudian ia langsung disapa dengan pisau lipat kecil yang hampir saja melukai lehernya? Benar-benar mirip seperti adik kelasnya di Slytherin. Dia lupa namanya. Oh ya, dia kan kena penyakit pelupa stadium akhir?
“Hai Flave! Yeah, memang sore yang indah!”
Eh, ada anak yang lainnya? Rasa-rasanya ia baru saja melihat Rie, Sang-hee, dan senior Marie Ann yang ada disana. Mengapa suara itu rasanya dekat yah? Ia menolehkan kepalanya ke sudut manapun. Dan.. oh, Vionna. Anak Gryffindor seangkatannya yang—flashback?—berkenalan dengannya saat ia tengah asyiknya menulis puisi, kemudian Flave berkenalan dengannya dan satu lagi dengan.. Err, Flave lupa—lagi—namanya. Dan orangnya sekarang jarang terlihat. Kemana saja anak itu? Dan rasanya ia baru lihat Vionna juga hari ini. Gadis itu memandang kearah langit yang oranye. Sekawanan burung gagak masih saja melintas alam.
“Iya, indah sekali,”
Siapa yang bersuara sekarang? Anak Slytherin? Kalau memang begitu, lengkaplah sudah anak-anak dari empat asrama berkumpul di satu tempat yang bernama menara astronomi hanya sekedar menyaksikan sang pemberi cahaya di siang hari itu tenggelam tanpa bekas. Menunggu jam makan malam yang masih terbilang lama bagi Flave. Makan malam dengan santai, bersama teman-temannya, sedikit bercuap tentang pelajaran hari ini, bahkan terselip diantaranya tentang laki-laki tampan yang ada disini. Pentingkah topik itu? “Hai Flave, sore yang indah memang,” ujar gadis itu. Cheezta Oneilyne—hey, sekarang ada dua Chee diasramanya!—duduk diatas tembok pembatas. Komentar yang sama dengan Vionna barusan.
Ia hanya tersenyum sedikit. Kebiasaan Flave yang jarang sekali ia lakukan. Padahal biasanya Flave tersenyum manis meskipun ada ruang kelam dihatinya. Masa seorang Flavarel Montez yang dikenal murah senyum sekarang jadi ogah-ogahan untuk tersenyum? Ia bisa menunduk. Hampir menitikkan air mata karena seorang laki-laki psycho yang dengan terpaksa harus dijodohkan dengannya. Benar-benar sial kau, Flave. Sangat sial. “Eh Flave, kemari!” ajak Chee untuk duduk disampingnya. Wow, pegal juga kakinya setelah tadi sempat terjatuh. Untung tidak sampai terguling dan membuatnya gegar otak, kemudian dirawat di St. Mungo. Kalau misalnya begitu, berarti sialnya sudah dua kali lipat.
“Sejak kapan disini, Chee? Mengapa aku baru melihatmu ya?” sahutnya sambil duduk disebelahnya. Ia mengenakan sweater kuning genjreng. Kedinginan, eh? Yeah, Flave juga merasakan begitu sih. Meskipun menggunakan jaket tipis berwarna biru tua yang ia anggap dapat menghangatkannya, tapi tetap saja.. Begitulah. Tidak ada kata yang lain lagi. “Mereka kenapa?” tanya Chee menunjuk duo Ravenclaw yang menempati tempat ini terlebih dahulu. Flave sendiri tidak tahu mengapa mereka hanya berdua saja. Obrolan privasi, mungkin. “Entahlah,” ujarnya mengangkat bahu. Tapi, ia menanyakan itu kepada siapa? Atau malah Flave sendiri kege-eran?
Ada yang datang lagi. Seorang anak laki-laki—Ravenclaw. Bagus, biarlah Ravenclaw menguasai tempat ini. Silahkan, Flave jadi tidak betah berada disini. Tapi, ada laki-laki lain yang datang. Ia menyapa Cheezta disebelahnya. Dari suaranya.. Err, Azrael—prefek baru Hufflepuff? Well, that’s so awesome melihat teman-temannya baru diangkat menjadi prefek. Tidakkah ia melihat dirinya disebelah Cheezta? “Azrael—“ sapanya sambil mengangkat tangan kanannya agak tinggi. “—Dasar kau tidak menyapaku tadi!” mimik wajahnya seketika berubah menjadi cemberut. Jadi, ia sudah lupa padanya ya? “Just kidding.. Hehe..”
Okay, seorang Leoma Leicester masih menguasai pikirannya. Itu tuh, anak Ravenclaw kelas tujuh yang nampaknya sangat nge-fans dengan Flave. Tidak tahu? Masa bodo ah. Memang seharusnya ia tidak dikenal semua orang kan? Dia itu sinting, gila, psycho! Masa kemarin saat ia berjalan menuju perpustakaan kemudian ia langsung disapa dengan pisau lipat kecil yang hampir saja melukai lehernya? Benar-benar mirip seperti adik kelasnya di Slytherin. Dia lupa namanya. Oh ya, dia kan kena penyakit pelupa stadium akhir?
“Hai Flave! Yeah, memang sore yang indah!”
Eh, ada anak yang lainnya? Rasa-rasanya ia baru saja melihat Rie, Sang-hee, dan senior Marie Ann yang ada disana. Mengapa suara itu rasanya dekat yah? Ia menolehkan kepalanya ke sudut manapun. Dan.. oh, Vionna. Anak Gryffindor seangkatannya yang—flashback?—berkenalan dengannya saat ia tengah asyiknya menulis puisi, kemudian Flave berkenalan dengannya dan satu lagi dengan.. Err, Flave lupa—lagi—namanya. Dan orangnya sekarang jarang terlihat. Kemana saja anak itu? Dan rasanya ia baru lihat Vionna juga hari ini. Gadis itu memandang kearah langit yang oranye. Sekawanan burung gagak masih saja melintas alam.
“Iya, indah sekali,”
Siapa yang bersuara sekarang? Anak Slytherin? Kalau memang begitu, lengkaplah sudah anak-anak dari empat asrama berkumpul di satu tempat yang bernama menara astronomi hanya sekedar menyaksikan sang pemberi cahaya di siang hari itu tenggelam tanpa bekas. Menunggu jam makan malam yang masih terbilang lama bagi Flave. Makan malam dengan santai, bersama teman-temannya, sedikit bercuap tentang pelajaran hari ini, bahkan terselip diantaranya tentang laki-laki tampan yang ada disini. Pentingkah topik itu? “Hai Flave, sore yang indah memang,” ujar gadis itu. Cheezta Oneilyne—hey, sekarang ada dua Chee diasramanya!—duduk diatas tembok pembatas. Komentar yang sama dengan Vionna barusan.
Ia hanya tersenyum sedikit. Kebiasaan Flave yang jarang sekali ia lakukan. Padahal biasanya Flave tersenyum manis meskipun ada ruang kelam dihatinya. Masa seorang Flavarel Montez yang dikenal murah senyum sekarang jadi ogah-ogahan untuk tersenyum? Ia bisa menunduk. Hampir menitikkan air mata karena seorang laki-laki psycho yang dengan terpaksa harus dijodohkan dengannya. Benar-benar sial kau, Flave. Sangat sial. “Eh Flave, kemari!” ajak Chee untuk duduk disampingnya. Wow, pegal juga kakinya setelah tadi sempat terjatuh. Untung tidak sampai terguling dan membuatnya gegar otak, kemudian dirawat di St. Mungo. Kalau misalnya begitu, berarti sialnya sudah dua kali lipat.
“Sejak kapan disini, Chee? Mengapa aku baru melihatmu ya?” sahutnya sambil duduk disebelahnya. Ia mengenakan sweater kuning genjreng. Kedinginan, eh? Yeah, Flave juga merasakan begitu sih. Meskipun menggunakan jaket tipis berwarna biru tua yang ia anggap dapat menghangatkannya, tapi tetap saja.. Begitulah. Tidak ada kata yang lain lagi. “Mereka kenapa?” tanya Chee menunjuk duo Ravenclaw yang menempati tempat ini terlebih dahulu. Flave sendiri tidak tahu mengapa mereka hanya berdua saja. Obrolan privasi, mungkin. “Entahlah,” ujarnya mengangkat bahu. Tapi, ia menanyakan itu kepada siapa? Atau malah Flave sendiri kege-eran?
Ada yang datang lagi. Seorang anak laki-laki—Ravenclaw. Bagus, biarlah Ravenclaw menguasai tempat ini. Silahkan, Flave jadi tidak betah berada disini. Tapi, ada laki-laki lain yang datang. Ia menyapa Cheezta disebelahnya. Dari suaranya.. Err, Azrael—prefek baru Hufflepuff? Well, that’s so awesome melihat teman-temannya baru diangkat menjadi prefek. Tidakkah ia melihat dirinya disebelah Cheezta? “Azrael—“ sapanya sambil mengangkat tangan kanannya agak tinggi. “—Dasar kau tidak menyapaku tadi!” mimik wajahnya seketika berubah menjadi cemberut. Jadi, ia sudah lupa padanya ya? “Just kidding.. Hehe..”
6:30 PM | 0 comments
Still Remember You – 1
—Mimpi itu pun berubah menjadi sangat buruk.
Flave seperti tak ada cara untuk mengakali agar mimpi buruk itu tidak terus menghantuinya. Sore itu memang bukan waktunya untuk tidur agar paginya tidak seburuk tadi. Tapi, sejak pelajaran selesai, ia langsung bergegas ke asramanya dan tidur sejenak di kamarnya. Rambutnya yang hitam—entah kenapa rambutnya langsung berubah dari warna coklat ke warna hitam—dikuncir kuda seperti biasanya. Dan saat terlelap untuk beberapa saat, otaknya kembali mengulang kembali apa yang ia anggap mimpi buruknya itu. Dan saat mencoba untuk membaca ulang buku pelajaran Transfigurasinya—sejak kapan Flave serajin ini?—setidaknya untuk mengakali tadi, bayangan itu langsung melintas dihadapannya. Benar mimpi buruk!
—Ia melenggang menuju menara.
Entah apalah tujuannya. Apakah ia hanya sekedar ingin mengintip teriknya matahari sebelum terbenam atau apalah—yang jelas tak ada hubungannya dengan pelajaran Astronomi—yang dapat membuat penatnya sedikit hilang. Mungkin saja ia bisa bertemu teman-temannya yang ada di asrama Gryffindor dan Ravenclaw secara tak sengaja, kemudian mengobrol sampai agak larut, dan kembali ke asrama masing-masing dengan perasaan lega. Puluhan anak tangga ia lewati dengan santai. Walau bayangan itu menemaninya setiap saat, ia pura-pura tak peduli. Sempat terpeleset di lantai empat, tapi itu tidak menjadi penghalangnya untuk segera kesana.
—Siapa disitu?
Sampailah ia di menara astronomi—Hell, kenapa kesini-sini juga?—dan ia melihat langit senja yang enggan tenggelam sebelum waktunya. Sempat ia mendengar suara burung-burung gagak yang berseru dan berterbangan menuju barat, menghadap matahari. Wew, tidak silau kali ya matanya? Langkahnya mulai pelan. Well, ada orang juga disana. Park Sang-hee dari Gryffindor—ia pernah satu kelompok dengannya saat kelas dua. Sudah berapa kali kukatakan, eh?—yang kelihatannya tadi datang dengan tergesa-gesa, ada Rie Ueshima dari Ravenclaw—ia pernah berkenalan dengannya di Hogwarts Express—dan juga.. Senior Marie Ann—ia sempat cemburu dengannya. Tahu kenapa?—Wow, ramai juga ya? Padahal tidak janjian sebelumnya.
“Wew, sore yang indah,” ujarnya pada mereka bertiga. Entahlah, apa mereka akan merespon kata-katanya tadi. Masa bodo ah. Nyatanya, Flave sudah menyapa mereka kan?
Ia menilik jauh keluar sana. Memandang sang raja siang yang akan digantikan posisinya sementara oleh sang dewi malam. Melihat gumpalan awan yang mulai memudar, dan yang nanti akan berubah menjadi berjuta-juta cahaya yang—kata profesor Sinistra—akan membentuk konstelasinya sendiri. Benar tidak sih? Cerdas juga Flave ini. Yap, Flave berusaha mati-matian untuk mendapat nilai yang baik saat ujian OWL nanti. Parah jika kau menyelewengkan itu dan melanjutkan cumbuanmu dengan seseorang yang menyayangimu. Okay, okay, Atsuko masih membayanginya, tapi laki-laki itu lebih menguasai pikirannya sekarang. Perjodohan tanpa keputusannya itu—mimpi buruknya.
—Yang ingin ia batalkan. Secepatnya.
Flave seperti tak ada cara untuk mengakali agar mimpi buruk itu tidak terus menghantuinya. Sore itu memang bukan waktunya untuk tidur agar paginya tidak seburuk tadi. Tapi, sejak pelajaran selesai, ia langsung bergegas ke asramanya dan tidur sejenak di kamarnya. Rambutnya yang hitam—entah kenapa rambutnya langsung berubah dari warna coklat ke warna hitam—dikuncir kuda seperti biasanya. Dan saat terlelap untuk beberapa saat, otaknya kembali mengulang kembali apa yang ia anggap mimpi buruknya itu. Dan saat mencoba untuk membaca ulang buku pelajaran Transfigurasinya—sejak kapan Flave serajin ini?—setidaknya untuk mengakali tadi, bayangan itu langsung melintas dihadapannya. Benar mimpi buruk!
—Ia melenggang menuju menara.
Entah apalah tujuannya. Apakah ia hanya sekedar ingin mengintip teriknya matahari sebelum terbenam atau apalah—yang jelas tak ada hubungannya dengan pelajaran Astronomi—yang dapat membuat penatnya sedikit hilang. Mungkin saja ia bisa bertemu teman-temannya yang ada di asrama Gryffindor dan Ravenclaw secara tak sengaja, kemudian mengobrol sampai agak larut, dan kembali ke asrama masing-masing dengan perasaan lega. Puluhan anak tangga ia lewati dengan santai. Walau bayangan itu menemaninya setiap saat, ia pura-pura tak peduli. Sempat terpeleset di lantai empat, tapi itu tidak menjadi penghalangnya untuk segera kesana.
—Siapa disitu?
Sampailah ia di menara astronomi—Hell, kenapa kesini-sini juga?—dan ia melihat langit senja yang enggan tenggelam sebelum waktunya. Sempat ia mendengar suara burung-burung gagak yang berseru dan berterbangan menuju barat, menghadap matahari. Wew, tidak silau kali ya matanya? Langkahnya mulai pelan. Well, ada orang juga disana. Park Sang-hee dari Gryffindor—ia pernah satu kelompok dengannya saat kelas dua. Sudah berapa kali kukatakan, eh?—yang kelihatannya tadi datang dengan tergesa-gesa, ada Rie Ueshima dari Ravenclaw—ia pernah berkenalan dengannya di Hogwarts Express—dan juga.. Senior Marie Ann—ia sempat cemburu dengannya. Tahu kenapa?—Wow, ramai juga ya? Padahal tidak janjian sebelumnya.
“Wew, sore yang indah,” ujarnya pada mereka bertiga. Entahlah, apa mereka akan merespon kata-katanya tadi. Masa bodo ah. Nyatanya, Flave sudah menyapa mereka kan?
Ia menilik jauh keluar sana. Memandang sang raja siang yang akan digantikan posisinya sementara oleh sang dewi malam. Melihat gumpalan awan yang mulai memudar, dan yang nanti akan berubah menjadi berjuta-juta cahaya yang—kata profesor Sinistra—akan membentuk konstelasinya sendiri. Benar tidak sih? Cerdas juga Flave ini. Yap, Flave berusaha mati-matian untuk mendapat nilai yang baik saat ujian OWL nanti. Parah jika kau menyelewengkan itu dan melanjutkan cumbuanmu dengan seseorang yang menyayangimu. Okay, okay, Atsuko masih membayanginya, tapi laki-laki itu lebih menguasai pikirannya sekarang. Perjodohan tanpa keputusannya itu—mimpi buruknya.
—Yang ingin ia batalkan. Secepatnya.
6:27 PM | 0 comments
Battle Royale – 2
Seandainya Nano kesini membawa chocochip cookies itu lagi.
Sebetulnya ia tak mengerti kenapa seluruh anak-anak Hufflepuff didatangkan kesini. Dan—yeah—tanpa anak-anak asrama lain yang mengganggu. Flave merapatkan kembali jaket tebal yang ia pakai saat ini. Sedikit kedinginan karena udara yang tak berbentuk itu seperti terserap kedalam jaket tebal yang kalau dipakai akan terasa hangat dan jika dipakai pada musim panas artinya kau telah menurunkan berat badan dengan cara kampungan—bahasa bagusnya apa yah? Ah, whatever. Sebenarnya bahasa apapun tidak perlu dibahas secara rumit kan? Nah nah nah, sekarang tubuh Flave sedikit menggigil. Entah kenapa—apa mungkin karena angin yang menerpa tubuhnya agak kencang atau bagaimana yah. Pokoknya begitu deh. Dan apa benar yah kalau badan Flave sedang panas dingin?
Who knows?
Flave melirik sedikit kearah Mizu ketika ia hendak mengganti bajunya yang ia pakai dengan seragam Quidditch lengkap. Kapan sih Flave membeli perlengkapan Quidditch selengkap dia ataupun senior Mobbrenette—yang memang sudah memakai seragam Quidditch dari asrama—yang merupakan pemain Quidditch andalan Hufflepuff? Tidak pernah. Sama sekali tidak pernah. So, kalau Flave disuruh bermain hari ini, masa ia harus pakai baju yang ia pakai sekarang? Oh ya, sampai lupa. Dia menyimpan baju andalannya—di asrama tapinya. O'ow. Sepertinya Flave hanya akan menjadi supporter bagi tim Hufflepuff senior—kelas 5, 6, dan 7 kalau tidak salah—dan hanya akan berteriak kencang kalau timnya memperoleh angka. Bagi penggemar fanatik Quidditch, mungkin ia bakal terjun bebas ke tanah lapangan Quidditch begitu timnya memenangkan pertandingan ataupun Piala Quidditch.
Rapat dimulai dengan pertanyaan dari Mizu. Dan dijawab secara panjang lebar oleh adik kelasnya, Lynette Verity. Ah ya, anak itu memang hebat—pikir Flave barusan ketika gadis berambut pirang itu menentukan posisi pemain kepada para anggota tim Hufflepuff senior. Yeah, Hufflepuff senior versus Hufflepuff junior rasanya bakal menarik. Quidditch pula. Dan beruntungnya, Lynette tidak menyebut nama Flave dalam posisi manapun! Yes! Dan kemungkinan besarnya sih ia akan menjadi pemain cadangan. Tidak masalah sih—tapi masalahnya, Flave tidak terlalu mahir menaiki sapu terbang. Apalagi dengan kecepatan tinggi seperti mobil sihir manapun. “Yeah. Ide yang bagus, Verity. Jadinya aku hanya akan menjadi pemain cadangan disini,” ujarnya menepuk pelan bahu Lynette. Sebenarnya sih ya, kata-kata itu lebih tepat untuk diucapkan pada dirinya sendiri, lho. Benar deh. Serius.
Seandainya ada seseorang yang membawakannya coklat hangat sekarang—
—mungkin Flave tak akan pernah merasa seaneh begini.
Sebetulnya ia tak mengerti kenapa seluruh anak-anak Hufflepuff didatangkan kesini. Dan—yeah—tanpa anak-anak asrama lain yang mengganggu. Flave merapatkan kembali jaket tebal yang ia pakai saat ini. Sedikit kedinginan karena udara yang tak berbentuk itu seperti terserap kedalam jaket tebal yang kalau dipakai akan terasa hangat dan jika dipakai pada musim panas artinya kau telah menurunkan berat badan dengan cara kampungan—bahasa bagusnya apa yah? Ah, whatever. Sebenarnya bahasa apapun tidak perlu dibahas secara rumit kan? Nah nah nah, sekarang tubuh Flave sedikit menggigil. Entah kenapa—apa mungkin karena angin yang menerpa tubuhnya agak kencang atau bagaimana yah. Pokoknya begitu deh. Dan apa benar yah kalau badan Flave sedang panas dingin?
Who knows?
Flave melirik sedikit kearah Mizu ketika ia hendak mengganti bajunya yang ia pakai dengan seragam Quidditch lengkap. Kapan sih Flave membeli perlengkapan Quidditch selengkap dia ataupun senior Mobbrenette—yang memang sudah memakai seragam Quidditch dari asrama—yang merupakan pemain Quidditch andalan Hufflepuff? Tidak pernah. Sama sekali tidak pernah. So, kalau Flave disuruh bermain hari ini, masa ia harus pakai baju yang ia pakai sekarang? Oh ya, sampai lupa. Dia menyimpan baju andalannya—di asrama tapinya. O'ow. Sepertinya Flave hanya akan menjadi supporter bagi tim Hufflepuff senior—kelas 5, 6, dan 7 kalau tidak salah—dan hanya akan berteriak kencang kalau timnya memperoleh angka. Bagi penggemar fanatik Quidditch, mungkin ia bakal terjun bebas ke tanah lapangan Quidditch begitu timnya memenangkan pertandingan ataupun Piala Quidditch.
Rapat dimulai dengan pertanyaan dari Mizu. Dan dijawab secara panjang lebar oleh adik kelasnya, Lynette Verity. Ah ya, anak itu memang hebat—pikir Flave barusan ketika gadis berambut pirang itu menentukan posisi pemain kepada para anggota tim Hufflepuff senior. Yeah, Hufflepuff senior versus Hufflepuff junior rasanya bakal menarik. Quidditch pula. Dan beruntungnya, Lynette tidak menyebut nama Flave dalam posisi manapun! Yes! Dan kemungkinan besarnya sih ia akan menjadi pemain cadangan. Tidak masalah sih—tapi masalahnya, Flave tidak terlalu mahir menaiki sapu terbang. Apalagi dengan kecepatan tinggi seperti mobil sihir manapun. “Yeah. Ide yang bagus, Verity. Jadinya aku hanya akan menjadi pemain cadangan disini,” ujarnya menepuk pelan bahu Lynette. Sebenarnya sih ya, kata-kata itu lebih tepat untuk diucapkan pada dirinya sendiri, lho. Benar deh. Serius.
Seandainya ada seseorang yang membawakannya coklat hangat sekarang—
—mungkin Flave tak akan pernah merasa seaneh begini.
6:25 PM | 0 comments
Battle Royale – 1
Winter 1978, 09:03 A.M.
Bersalju—kata pertama yang melintas dipikiran Flave ketika bangun tadi.
Percaya atau tidak, Flave hanya ingin bergerumul dengan selimut hangatnya ketika matanya terbuka. Sungguh, pagi ini rasanya terlalu dingin untuk seorang Flavarel Montez. Err—apa dia sedang sakit demam atau bagaimana? Tidak biasanya gadis berkulit coklat itu tidak gentar menghadapi musim salju—yeah, meskipun dinginnya bisa melebihi minus sepuluh derajat celcius. Tadinya sih Flave hampir tidak bisa terbangun dari tempat tidurnya saking dinginnya udara pagi itu. Dan itu terbukti dengan ujung jari kakinya yang hampir membeku ketika telapak kakinya menyentuh permukaan lantai kamar anak perempuan Hufflepuff kelas enam. Tubuhnya langsung mengejang seketika dan hasratnya langsung memuncak untuk menghangatkan diri di depan perapian di ruang rekreasi asrama. Sudah berapa kali Flave menggosokkan kedua telapak tangannya agar merasa hangat. Tetapi itu sama saja. Dan yang membuat Flave nekat ingin bangun pagi ini—meskipun ia juga melihat anak-anak kelas enam lainnya yang masih memberontak ketika bangun, aneh—adalah—
—sebuah surat. Tanpa tanda tangan.
Surat kaleng. Haha.. Kapan sih terakhir kali dia mendapat surat seperti ini? Oh ya, terakhir kali. Yang Flave curigai kalau pengirimnya adalah Elel. Gila saja itu anak. Sudah berapa kali Flave bilang pada laki-laki berambut gimbal itu kalau ia tidak mau diganggu barang sedetikpun dan itu percuma karena Elel terlalu sering mengirimnya surat kaleng. Tindakan bodoh, rite? Dan sekarang ada lagi. Sebenarnya Flave masih curiga kalau mantan tunangannya itu yang lagi-lagi mengirim surat yang tidak bertanda tangan itu padanya. Dan nyatanya—persepsi itu agaknya salah besar dimata Flave. Tulisannya tidak mirip dengan Elel—huruf sambung, tapi lebih mirip dengan rumput—ataupun anak buahnya yang kabarnya sedang dekat dengan Nano—rapi, namun dibawahnya seperti ada garis bawah. Pendapat bahwa si anak buah ini tidak bisa menulis dengan benar-benar rapi. Ah tolol. Dan sebenarnya itu lebih ditujukan kepada para pemain Quidditch—melihat bahwa isi surat itu dipenuhi dengan aksi-aksi yang terjadi di lapangan hijau terbuka yang ada di Hogwarts—“angin menerpa wajah kalian yang tengah melesat di atas sapu kalian, mencium aroma rumput hijau dari ketinggian yang tidak dapat dicapai dari tribun penonton, menggiring si bola merah ke salah satu tiang yang terpancang, melihat si bola hitam menghempas ganas ke arah lawan, dan si bola emas bersayap berhasil jatuh ke dalam genggaman tangan kalian,”—dan Flave bukan anggota pemain Quidditch. Ia hanya menonton sekali ketika—
—Hufflepuff kalah telak—
—oleh Slytherin. 210 – 0.
Baiklah, sebaiknya jangan mengingat itu lagi. Tentang kekalahan yang telak bagi Hufflepuff—diakhiri dengan permainan sempurna senior Pavarell—Flave agak terpukul sih. Sekaligus sedikit kecewa. Kecewa menjadi seorang Hufflepuff. He? Kecewa? Haha.. Itu bercanda kok. Sejujurnya Flave masih sangat bangga karena telah menjadi bagian dari keluarga musang yang terbilang sangat kompak ini. Flave bangga berasrama Hufflepuff—meskipun ‘bersarang’ di ruang bawah tanah—kemudian Flave bangga memiliki teman-teman yang bisa dibilang sangat tipikal Hufflepuff—baik, ramah, sopan, pekerja keras, dan segala macam—dan Flave bangga memiliki kakak serta adik kelas yang menurut Flave terbaik. Oke, cukup meracaunya. Kini Flave mengenakan jaket hitam—favoritnya sekarang—dan syal kuning pucat. Tentu saja ia memakai celana panjang hangat dan sepatu boots—berjaga-jaga kalau nanti dia bakal tergelincir saat dalam perjalanannya ke lapangan Quidditch. Arloji biru muda yang melingkar di pergelangan tangan kanannya menunjukkan waktu 09:21 A.M. yang berarti masih ada sekitar 38 menit sekian detik sampai tepat pukul sepuluh pagi—waktu yang telah ditentukan di surat itu.
Yeah, ada sekitar—hmm—sepuluh orang atau lebih yang sudah berkumpul di lapangan itu. Mizu tengah menaiki Nimbus-nya yang kata Dad sangat cocok untuk Flave kalau saja dia masuk tim Quidditch. Ah, sorry Dad. Ternyata anakmu ini tidak bernasib sama denganmu beberapa tahun yang lalu. Banyak juga adik kelas yang sudah kesini. Al-Kazaf, Verity, Syadiran, Cheryl, McCafferty—Flave pernah hampir menyebutnya koper, dan Hale berkumpul. Yang satu angkatan dengannya hanya ada Mizu—masih setia menaiki sapu terbangnya—dan Natt. Dan yang baru saja ia lihat ada senior Naoko dan senior Evania. Err—kemana para badgers yang lain? Masih bergelung di tempat tidur, eh? Dan mengutip sedikit perkataan senior Evania—katanya ada pertandingan Quidditch antara para junior dengan senior? Jadi ini maksud yang ada di surat kaleng itu ya? Pertandingan Quidditch yang entah dikoordinir oleh siapa—yang jelas sepertinya bukan dari pihak sekolah, kan?—antara Hufflepuff senior dengan Hufflepuff junior. Kedengaran seru, tapi apa Flave mau ikut bermain? Padahal ia bukan pemain Quidditch. “Hey, semua!” sapanya hangat. Seperti coklat hangat yang ia minum sebelum kesini. “Ada acara apa ini?” tanyanya pura-pura tidak tahu. Garing. Seperti chocochip cookies pemberian Nano yang masih sisa setengah.
Bersalju—kata pertama yang melintas dipikiran Flave ketika bangun tadi.
Percaya atau tidak, Flave hanya ingin bergerumul dengan selimut hangatnya ketika matanya terbuka. Sungguh, pagi ini rasanya terlalu dingin untuk seorang Flavarel Montez. Err—apa dia sedang sakit demam atau bagaimana? Tidak biasanya gadis berkulit coklat itu tidak gentar menghadapi musim salju—yeah, meskipun dinginnya bisa melebihi minus sepuluh derajat celcius. Tadinya sih Flave hampir tidak bisa terbangun dari tempat tidurnya saking dinginnya udara pagi itu. Dan itu terbukti dengan ujung jari kakinya yang hampir membeku ketika telapak kakinya menyentuh permukaan lantai kamar anak perempuan Hufflepuff kelas enam. Tubuhnya langsung mengejang seketika dan hasratnya langsung memuncak untuk menghangatkan diri di depan perapian di ruang rekreasi asrama. Sudah berapa kali Flave menggosokkan kedua telapak tangannya agar merasa hangat. Tetapi itu sama saja. Dan yang membuat Flave nekat ingin bangun pagi ini—meskipun ia juga melihat anak-anak kelas enam lainnya yang masih memberontak ketika bangun, aneh—adalah—
—sebuah surat. Tanpa tanda tangan.
Surat kaleng. Haha.. Kapan sih terakhir kali dia mendapat surat seperti ini? Oh ya, terakhir kali. Yang Flave curigai kalau pengirimnya adalah Elel. Gila saja itu anak. Sudah berapa kali Flave bilang pada laki-laki berambut gimbal itu kalau ia tidak mau diganggu barang sedetikpun dan itu percuma karena Elel terlalu sering mengirimnya surat kaleng. Tindakan bodoh, rite? Dan sekarang ada lagi. Sebenarnya Flave masih curiga kalau mantan tunangannya itu yang lagi-lagi mengirim surat yang tidak bertanda tangan itu padanya. Dan nyatanya—persepsi itu agaknya salah besar dimata Flave. Tulisannya tidak mirip dengan Elel—huruf sambung, tapi lebih mirip dengan rumput—ataupun anak buahnya yang kabarnya sedang dekat dengan Nano—rapi, namun dibawahnya seperti ada garis bawah. Pendapat bahwa si anak buah ini tidak bisa menulis dengan benar-benar rapi. Ah tolol. Dan sebenarnya itu lebih ditujukan kepada para pemain Quidditch—melihat bahwa isi surat itu dipenuhi dengan aksi-aksi yang terjadi di lapangan hijau terbuka yang ada di Hogwarts—“angin menerpa wajah kalian yang tengah melesat di atas sapu kalian, mencium aroma rumput hijau dari ketinggian yang tidak dapat dicapai dari tribun penonton, menggiring si bola merah ke salah satu tiang yang terpancang, melihat si bola hitam menghempas ganas ke arah lawan, dan si bola emas bersayap berhasil jatuh ke dalam genggaman tangan kalian,”—dan Flave bukan anggota pemain Quidditch. Ia hanya menonton sekali ketika—
—Hufflepuff kalah telak—
—oleh Slytherin. 210 – 0.
Baiklah, sebaiknya jangan mengingat itu lagi. Tentang kekalahan yang telak bagi Hufflepuff—diakhiri dengan permainan sempurna senior Pavarell—Flave agak terpukul sih. Sekaligus sedikit kecewa. Kecewa menjadi seorang Hufflepuff. He? Kecewa? Haha.. Itu bercanda kok. Sejujurnya Flave masih sangat bangga karena telah menjadi bagian dari keluarga musang yang terbilang sangat kompak ini. Flave bangga berasrama Hufflepuff—meskipun ‘bersarang’ di ruang bawah tanah—kemudian Flave bangga memiliki teman-teman yang bisa dibilang sangat tipikal Hufflepuff—baik, ramah, sopan, pekerja keras, dan segala macam—dan Flave bangga memiliki kakak serta adik kelas yang menurut Flave terbaik. Oke, cukup meracaunya. Kini Flave mengenakan jaket hitam—favoritnya sekarang—dan syal kuning pucat. Tentu saja ia memakai celana panjang hangat dan sepatu boots—berjaga-jaga kalau nanti dia bakal tergelincir saat dalam perjalanannya ke lapangan Quidditch. Arloji biru muda yang melingkar di pergelangan tangan kanannya menunjukkan waktu 09:21 A.M. yang berarti masih ada sekitar 38 menit sekian detik sampai tepat pukul sepuluh pagi—waktu yang telah ditentukan di surat itu.
Yeah, ada sekitar—hmm—sepuluh orang atau lebih yang sudah berkumpul di lapangan itu. Mizu tengah menaiki Nimbus-nya yang kata Dad sangat cocok untuk Flave kalau saja dia masuk tim Quidditch. Ah, sorry Dad. Ternyata anakmu ini tidak bernasib sama denganmu beberapa tahun yang lalu. Banyak juga adik kelas yang sudah kesini. Al-Kazaf, Verity, Syadiran, Cheryl, McCafferty—Flave pernah hampir menyebutnya koper, dan Hale berkumpul. Yang satu angkatan dengannya hanya ada Mizu—masih setia menaiki sapu terbangnya—dan Natt. Dan yang baru saja ia lihat ada senior Naoko dan senior Evania. Err—kemana para badgers yang lain? Masih bergelung di tempat tidur, eh? Dan mengutip sedikit perkataan senior Evania—katanya ada pertandingan Quidditch antara para junior dengan senior? Jadi ini maksud yang ada di surat kaleng itu ya? Pertandingan Quidditch yang entah dikoordinir oleh siapa—yang jelas sepertinya bukan dari pihak sekolah, kan?—antara Hufflepuff senior dengan Hufflepuff junior. Kedengaran seru, tapi apa Flave mau ikut bermain? Padahal ia bukan pemain Quidditch. “Hey, semua!” sapanya hangat. Seperti coklat hangat yang ia minum sebelum kesini. “Ada acara apa ini?” tanyanya pura-pura tidak tahu. Garing. Seperti chocochip cookies pemberian Nano yang masih sisa setengah.
6:23 PM | 0 comments
Winter's Wind [Plot Terputus] – 2
Apakah kau masih ingat—terutama yang sudah mengalami masa puber—bagaimana rasanya menjadi anak-anak yang penuh dengan keceriaan dan kebahagiaan?
Flave mematri semua memori masa kecilnya dan masih tetap utuh sampai sekarang. Waktu Flave masih dengan cerianya bermain lempar bola salju atau membuat boneka salju atau menyalakan api unggun dan segala macam, semua yang berbau musim dingin. Angin berhembus sedikit lebih kencang daripada sebelumnya dan mengibarkan rambutnya seperti bendera yang baru saja dikibarkan. Tangannya memegang segenggam bola salju yang kalau ada seseorang lagi disini akan langsung dia lempar tepat didepan mukanya. Atau mungkin saja dibokongnya, tinggal pilih saja sesuka hati. Tapi sayang, dia hanya disini sendiri. Ia tidak terlalu memikirkan bila Nano datang kesini dengan cara yang tidak biasa—melempar bola salju atau mencubit pipinya atau memberi kejutan seperti di Aula Depan musim panas lalu. Sekotak chocochip cookies yang diberikan Nano masih sisa banyak dikamarnya. Dikira Flave ia bakal mendapatkan Permen Rasa Bertie Botts rasa kotoran Troll. Huek! Menjijikan.
“—dan tahu tidak? Sebenarnya kau tak cocok sekolah disini.”
McKelsie menyebalkan.
Biar kudefinisikan siapa itu Serafina McKelsie dan bagaimana sifatnya sehingga membuatnya terlihat menyebalkan dimata Flave. Dia itu kecentilan, fashion-addict—salah satu anak yang menyetujui perkataan senior Zeel tentang majalah fashion itu, perfeksionis, dan egois. Namun dari sisi baiknya, anak itu cukup perhatian terhadap orang lain dan senantiasa mebantu orang lain. Tipe Hufflepuff sejati atau apa yah? Dan kau curiga kan kenapa si Serafina ini selalu menyetujui apapun kata-kata senior Zeel padanya? Ya, tentu saja. Dia naksir berat sama senior itu. Dan Flave sama sekali tidak menyangka kalau anak itu menyukai senior yang sudah lulus dari Hogwarts—yang berarti tidak ada lagi neraka bagi Flave. That’s why she hates Serafina McKelsie so much. Selain karena rambut blonde keritingnya yang bisa membuat Flave sedikit bergidik.
"Long time no see, Miss Montez."
Suara anak laki-laki. Sedikit berat, memungkinan bahwa yang datang itu bukanlah Nano. Lagipula, tahu sendiri kan bagaimana suara Nano yang belum juga puber itu? Masih kekanak-kanakkan. Dan apalagi, Nano tidak mungkin memanggilnya Miss Montez—kecuali kalau naluri jahilnya mulai keluar, seperti akan melemparinya bola salju dan bermain bersama. Kemudian lelaki itu duduk disampingnya. Beralas salju, menyenangkan. Ia tak sendiri sekarang. Flave menoleh sedikit dan melihat raut wajah anak laki-laki itu. “Winchester? Yeah, long time no see..” ujarnya singkat sambil memeluk lututnya. Sedikit kedinginan, walaupun sudah memakai jaket tebal. Pertama kali bertemu dengan Winchester.. Bayangan itu melintas lagi seperti burung yang bermigrasi ke selatan. Di kelas kosong, rite? Waktu itu ia sempat bertemu juga dengan Atsuko dan senior Marie Ann yang juga sedang berduaan.
Iya, waktu itu Flave menangis cuma gara-gara melihat wajah Atsuko yang mirip dengan Aurel—tak perlu dibahas lagi siapa orang itu. “Baru saja keluar dari kandang, eh?” guraunya mencairkan suasana. Ia pun langsung terkekeh sedikit. Kapan lagi bisa seceria ini diusia enam belas tahun?
Flave mematri semua memori masa kecilnya dan masih tetap utuh sampai sekarang. Waktu Flave masih dengan cerianya bermain lempar bola salju atau membuat boneka salju atau menyalakan api unggun dan segala macam, semua yang berbau musim dingin. Angin berhembus sedikit lebih kencang daripada sebelumnya dan mengibarkan rambutnya seperti bendera yang baru saja dikibarkan. Tangannya memegang segenggam bola salju yang kalau ada seseorang lagi disini akan langsung dia lempar tepat didepan mukanya. Atau mungkin saja dibokongnya, tinggal pilih saja sesuka hati. Tapi sayang, dia hanya disini sendiri. Ia tidak terlalu memikirkan bila Nano datang kesini dengan cara yang tidak biasa—melempar bola salju atau mencubit pipinya atau memberi kejutan seperti di Aula Depan musim panas lalu. Sekotak chocochip cookies yang diberikan Nano masih sisa banyak dikamarnya. Dikira Flave ia bakal mendapatkan Permen Rasa Bertie Botts rasa kotoran Troll. Huek! Menjijikan.
“—dan tahu tidak? Sebenarnya kau tak cocok sekolah disini.”
McKelsie menyebalkan.
Biar kudefinisikan siapa itu Serafina McKelsie dan bagaimana sifatnya sehingga membuatnya terlihat menyebalkan dimata Flave. Dia itu kecentilan, fashion-addict—salah satu anak yang menyetujui perkataan senior Zeel tentang majalah fashion itu, perfeksionis, dan egois. Namun dari sisi baiknya, anak itu cukup perhatian terhadap orang lain dan senantiasa mebantu orang lain. Tipe Hufflepuff sejati atau apa yah? Dan kau curiga kan kenapa si Serafina ini selalu menyetujui apapun kata-kata senior Zeel padanya? Ya, tentu saja. Dia naksir berat sama senior itu. Dan Flave sama sekali tidak menyangka kalau anak itu menyukai senior yang sudah lulus dari Hogwarts—yang berarti tidak ada lagi neraka bagi Flave. That’s why she hates Serafina McKelsie so much. Selain karena rambut blonde keritingnya yang bisa membuat Flave sedikit bergidik.
"Long time no see, Miss Montez."
Suara anak laki-laki. Sedikit berat, memungkinan bahwa yang datang itu bukanlah Nano. Lagipula, tahu sendiri kan bagaimana suara Nano yang belum juga puber itu? Masih kekanak-kanakkan. Dan apalagi, Nano tidak mungkin memanggilnya Miss Montez—kecuali kalau naluri jahilnya mulai keluar, seperti akan melemparinya bola salju dan bermain bersama. Kemudian lelaki itu duduk disampingnya. Beralas salju, menyenangkan. Ia tak sendiri sekarang. Flave menoleh sedikit dan melihat raut wajah anak laki-laki itu. “Winchester? Yeah, long time no see..” ujarnya singkat sambil memeluk lututnya. Sedikit kedinginan, walaupun sudah memakai jaket tebal. Pertama kali bertemu dengan Winchester.. Bayangan itu melintas lagi seperti burung yang bermigrasi ke selatan. Di kelas kosong, rite? Waktu itu ia sempat bertemu juga dengan Atsuko dan senior Marie Ann yang juga sedang berduaan.
Iya, waktu itu Flave menangis cuma gara-gara melihat wajah Atsuko yang mirip dengan Aurel—tak perlu dibahas lagi siapa orang itu. “Baru saja keluar dari kandang, eh?” guraunya mencairkan suasana. Ia pun langsung terkekeh sedikit. Kapan lagi bisa seceria ini diusia enam belas tahun?
