as written on; Friday, April 3, 2009
6:35 PM | 0 comments
We're All In This Together – 1
Tret ini gw bikin setelah gw sempet melihat sedikit tret yang Flave ikutin waktu mau masuk Hogwarts. Jadi, ya sebagai kenang-kenangan gitu lah. Sekalian mau merayakan satu tahun RPG untuk anak-anak term dua termasuk gw sendiri. Haha.. Enjoy aja dah.
“Varel, boleh aku mengatakan sesuatu?” ujarnya dengan suara rendah. Siapa yang menyangka jika saat Nano turun dari kereta Hogwarts Express di Stasiun King’s Cross ia langsung terbaring tak berdaya. Pingsan. Mungkin karena kelelahan. Entahlah apa yang membuat Nano langsung pingsan, namun beruntung Flave ada disampingnya. Sebenarnya sudah sejak pertemuannya di Aula Besar batang hidung Nano tidak muncul lagi dihadapan Flave. Dia yang suka menungguinya di ruang bawah tanah hanya untuk dipeluk atau sedikit dimanjakan—well, bagaimanapun janji yang pernah ditulis oleh Flave dalam suratnya haruslah ditepati.
“Apa saja, Nano dear..” Flave hanya menatap adik kecilnya itu dalam. Adik kecil yang kini terbaring di sebuah rumah sakit didaerah Fulham—membuat mereka setidaknya kembali sebentar ke villa Montez di Chelsea. “Aku tak mau kembali lagi ke Hogwarts—” gumamnya pelan yang kemudian terputus sejenak karena batuk. Perasaan baru kali ini Nano sakit parah. Mungkin karena lingkungan Hogwarts yang terlalu tertutup dan udaranya yang terlalu menusuk—Nano tidak bisa beradaptasi secara cepat dengan lingkungan Hogwarts. “—tapi aku mau tidur dulu, yah?”
Siapa juga yang menyangka kalau itu akan menjadi percakapan terakhirnya dengan Nano—sebelum ia beristirahat untuk selama-lamanya—dan Flave akhirnya kini bisa menyesal. Kenapa juga ia terlalu malas menemuinya setiap sore di ruang bawah tanah—tepatnya didepan pintu asrama Hufflepuff—hanya untuk mengobrol sebentar. Oh, Dios mío.. Flave pikir apakah tidak terlalu cepat untuk meninggalkan Nano di usia muda? Apa kau tidak berpikir kalau seorang anak dua belas tahun seperti Nano harus meninggal dunia? Oke, sekarang pikiran Flave sudah mulai kacau. Ia terlalu memikirkan Nano sejak obrolan terakhirnya itu. Dan untungnya sekarang ia telah merelakan dia pergi. Kemudian, ia mengingat pesan terakhir dari Nano—
“Varel, jangan suka menangis lagi yah..”
—dan Flave sebenarnya ingin menangis. Tapi apa ia mau menangis didepan banyak orang seperti ini?
Well, for your information, Flave sekarang berada diantara kerumunan penyihir senior dan para calon murid tahun pertama Hogwarts. Yeah, dimana lagi kalau bukan di Diagon Alley. Tempat orang-orang berbelanja segala sesuatu yang berbau sihir—lengkap dengan toko lelucon dan toko es krim. Flave masih berjalan perlahan menyusuri jalanan yang padat dengan orang itu. Nyatanya, menurut Flave, tempat ini makin ramai dari tahun ke tahun. Ah, apakah ini hanya perasaannya saja atau bukan yah? Habisnya Flave sudah agak jarang datang kesini lagi. Dan tahun ini ia sengaja datang kesini hanya untuk membeli beberapa barang. T-shirt hijau muda yang ditutup dengan jaket tipis berwarna putih dan celana panjang berwarna putih setidaknya membuat Flave sedikit nyaman berada disini hari ini.
And the nostalgia started from here..
Masih ingatkah kau dengan kepolosan Flave di tahun pertamanya ia menginjakkan kaki di jalanan Diagon Alley? Flave yang polos dan ceroboh. Kakinya penuh dengan lecet karena terlalu sering terjatuh—sebagian besar sih karena tersandung sesuatu, sayang memang karena dulu Flave agak ceroboh dalam berjalan—dan yang jijik dengan hal-hal yang aneh. Termasuk kodok, eh? Ia jadi ingat waktu kodok milik Sabrena Alya mau dicuri oleh anak lain—Dios, Flave lupa siapa yang mencurinya—saat Flave memulai perkenalan dengan banyak anak. Yeah, seperti tadi yang sudah kubilang, dia sudah hampir lupa dengan kejadian itu. Flave jadi merasa geli sendiri mengingat tahun pertamanya yang cukup menggembirakan. Lucu memang..
Kini, Flave menunggu yang lainnya.
“Varel, boleh aku mengatakan sesuatu?” ujarnya dengan suara rendah. Siapa yang menyangka jika saat Nano turun dari kereta Hogwarts Express di Stasiun King’s Cross ia langsung terbaring tak berdaya. Pingsan. Mungkin karena kelelahan. Entahlah apa yang membuat Nano langsung pingsan, namun beruntung Flave ada disampingnya. Sebenarnya sudah sejak pertemuannya di Aula Besar batang hidung Nano tidak muncul lagi dihadapan Flave. Dia yang suka menungguinya di ruang bawah tanah hanya untuk dipeluk atau sedikit dimanjakan—well, bagaimanapun janji yang pernah ditulis oleh Flave dalam suratnya haruslah ditepati.
“Apa saja, Nano dear..” Flave hanya menatap adik kecilnya itu dalam. Adik kecil yang kini terbaring di sebuah rumah sakit didaerah Fulham—membuat mereka setidaknya kembali sebentar ke villa Montez di Chelsea. “Aku tak mau kembali lagi ke Hogwarts—” gumamnya pelan yang kemudian terputus sejenak karena batuk. Perasaan baru kali ini Nano sakit parah. Mungkin karena lingkungan Hogwarts yang terlalu tertutup dan udaranya yang terlalu menusuk—Nano tidak bisa beradaptasi secara cepat dengan lingkungan Hogwarts. “—tapi aku mau tidur dulu, yah?”
Siapa juga yang menyangka kalau itu akan menjadi percakapan terakhirnya dengan Nano—sebelum ia beristirahat untuk selama-lamanya—dan Flave akhirnya kini bisa menyesal. Kenapa juga ia terlalu malas menemuinya setiap sore di ruang bawah tanah—tepatnya didepan pintu asrama Hufflepuff—hanya untuk mengobrol sebentar. Oh, Dios mío.. Flave pikir apakah tidak terlalu cepat untuk meninggalkan Nano di usia muda? Apa kau tidak berpikir kalau seorang anak dua belas tahun seperti Nano harus meninggal dunia? Oke, sekarang pikiran Flave sudah mulai kacau. Ia terlalu memikirkan Nano sejak obrolan terakhirnya itu. Dan untungnya sekarang ia telah merelakan dia pergi. Kemudian, ia mengingat pesan terakhir dari Nano—
“Varel, jangan suka menangis lagi yah..”
—dan Flave sebenarnya ingin menangis. Tapi apa ia mau menangis didepan banyak orang seperti ini?
Well, for your information, Flave sekarang berada diantara kerumunan penyihir senior dan para calon murid tahun pertama Hogwarts. Yeah, dimana lagi kalau bukan di Diagon Alley. Tempat orang-orang berbelanja segala sesuatu yang berbau sihir—lengkap dengan toko lelucon dan toko es krim. Flave masih berjalan perlahan menyusuri jalanan yang padat dengan orang itu. Nyatanya, menurut Flave, tempat ini makin ramai dari tahun ke tahun. Ah, apakah ini hanya perasaannya saja atau bukan yah? Habisnya Flave sudah agak jarang datang kesini lagi. Dan tahun ini ia sengaja datang kesini hanya untuk membeli beberapa barang. T-shirt hijau muda yang ditutup dengan jaket tipis berwarna putih dan celana panjang berwarna putih setidaknya membuat Flave sedikit nyaman berada disini hari ini.
And the nostalgia started from here..
Masih ingatkah kau dengan kepolosan Flave di tahun pertamanya ia menginjakkan kaki di jalanan Diagon Alley? Flave yang polos dan ceroboh. Kakinya penuh dengan lecet karena terlalu sering terjatuh—sebagian besar sih karena tersandung sesuatu, sayang memang karena dulu Flave agak ceroboh dalam berjalan—dan yang jijik dengan hal-hal yang aneh. Termasuk kodok, eh? Ia jadi ingat waktu kodok milik Sabrena Alya mau dicuri oleh anak lain—Dios, Flave lupa siapa yang mencurinya—saat Flave memulai perkenalan dengan banyak anak. Yeah, seperti tadi yang sudah kubilang, dia sudah hampir lupa dengan kejadian itu. Flave jadi merasa geli sendiri mengingat tahun pertamanya yang cukup menggembirakan. Lucu memang..
Kini, Flave menunggu yang lainnya.