as written on; Friday, April 3, 2009
6:44 PM | 0 comments
We're All In This Together – 5
Memangnya Flave mau menganggap Elel sebagai mantan pacarnya? Bahkan, kalau perlu, Flave bisa saja mengatakan kalau ia tidak kenal sama sekali dengan Leoma Leicester.
Stop about him.
Makanya tadi Flave menyebut statusnya sebagai high quality jomblo yang limited edition, karena sebenarnya ia sangat ingin melupakan perjodohan yang akhirnya batal juga itu. Ia sempat tertawa kecil ketika mendengar Cheezta terbahak-bahak mendengar kata limited edition dari mulutnya. Apa katanya? Dimusiumkan? Wogh, memangnya Flave bisa dimusiumkan ya? Tidak bisa diproduksi lagi? Ya ampun, memangnya Flave diciptakan berapa kali sih oleh Tuhan? Ada-ada saja deh. Dasar. Sepertinya Cheezta mau ditimpuk dengan tumpukan buku oleh Flave, mungkin ya? “Hahaha.. Aku ini memang limited edition, tapi tidak bisa dimusiumkan. Nanti kalau aku dimusiumkan, nanti kalian kangen sama aku.. Hayoo~” ujarnya. Sebenarnya Flave ingin mengejar Cheezta. Mau menjitak kepalanya. Haha.. Berasa anak tahun pertama lagi..
Suasana di Diagon Alley makin lama makin terik dan padat. Jujur, Flave tidak membayangkan sebelumnya kalau reuni dadakan seperti ini saja bisa membuat jalanan itu tampak padat. Flave sedikit bingung ketika Mizu mengatakan kalau ia sedang didekati dengan seorang murid Gryffindor yang katanya seangkatan dengan kita—dalam artian Flave dan yang sedang berkumpul disitu. Wow, benarkah? Bahkan Flave tidak merasa didekati oleh siapapun setelah putus dari Elel. “Maksudmu—” baru saja mau meneruskan kata-katanya, Mizu sudah menyebut nama belakang orang yang dekat dengannya itu. “Winchester, kan?” Flave langsung terkejut setengah mati. Flave memang sedang dekat dengan Kevin akhir-akhir ini. Bukan berarti kalau dekat selalu dikait-kaitkan dengan pacaran kan? Cheezta pun malah terbatuk-batuk kecil dibelakangnya. Ya ampun, Mizu dan Cheezta sepertinya salah sangka nih. “Dekat sebagai teman. Tidak lebih. Ya kan, Kevin?” katanya sambil menepuk bahu Kevin. Memang benar kan Flave dan Kevin hanya dekat sebagai teman—tidak lebih? Kecuali kalau Kevin menganggapnya sebagai pacar, itu lain lagi ceritanya.
PLAK!
Flave tidak menampar Kevin kok! Berani sumpah! Ia hanya menepuk bahu temannya, tidak sampai menamparnya. Memangnya ada alasan apa sampai Flave mau menampar Kevin? Ia pun mengalihkan pandangan kepada Flitchley dan Mendez. Nah! Kalau tidak salah Mendez itu yang mengambil Froggy milik Alya waktu tahun pertamanya disini. Lalu, kenapa Flitchley malah menampar Mendez coba? Hanya karena penampilannya yang terbilang lebay itukah? Ya ampun, lebay banget deh. Kemudian Mizu langsung mengusap lembut pipi Mendez. Wah, sepertinya ada yang dilanda kasmaran nih. Ah sudahlah. Oh ya, sepertinya orang yang ditunggu oleh Aurora tadi telah datang tuh. Yap, Azrael Hazzelnuts—prefek Hufflepuff tahun ketujuh. Ia sempat menabrak Ann dan memanggilnya.. Rooster? Aneh. Mereka masih bermusuhan atau bagaimana? Entahlah. “Emm—hai juga Azrael. Masih bermusuhan dengan—” sapanya sambil menunjuk Ann. Yaaa.. Kalau Flave sebut ia dengan sebutan Rooster, nanti Ann malah tersinggung.
Aurora langsung menjelaskan apa yang terjadi disini setelah diminta oleh Azrael. Ya ya ya, pasangan yang sangat serasi. Kemudian ada yang datang lagi. Destiny McLight dengan summer dressnya yang sangat cantik. Menanyakan hal yang sama—malah membuatnya semakin antusias ingin menjawabnya. Semakin banyak yang seangkatannya datang kesini, semakin antusias Flave menjawab pertanyaan mereka. Terlalu senang sepertinya. “Mengulang-perkenalan, Destiny. Yaa.. Sekalian membantu Yusuke sembuh dari amnesianya,” Flave mengulang sedikit kata-kata Cheezta tadi pada Destiny. “Ah ya, seperti kata Aurora dan Cheezta tadi, yang belum mengulang-perkenalan, ayo berkenalan lagi!” serunya sambil menyengir lebar. Namun, mendadak ia merubah mimiknya menjadi agak sedikit muram.
Cengiran lebar itu mengingatkannya pada Nano.
Stop about him.
Makanya tadi Flave menyebut statusnya sebagai high quality jomblo yang limited edition, karena sebenarnya ia sangat ingin melupakan perjodohan yang akhirnya batal juga itu. Ia sempat tertawa kecil ketika mendengar Cheezta terbahak-bahak mendengar kata limited edition dari mulutnya. Apa katanya? Dimusiumkan? Wogh, memangnya Flave bisa dimusiumkan ya? Tidak bisa diproduksi lagi? Ya ampun, memangnya Flave diciptakan berapa kali sih oleh Tuhan? Ada-ada saja deh. Dasar. Sepertinya Cheezta mau ditimpuk dengan tumpukan buku oleh Flave, mungkin ya? “Hahaha.. Aku ini memang limited edition, tapi tidak bisa dimusiumkan. Nanti kalau aku dimusiumkan, nanti kalian kangen sama aku.. Hayoo~” ujarnya. Sebenarnya Flave ingin mengejar Cheezta. Mau menjitak kepalanya. Haha.. Berasa anak tahun pertama lagi..
Suasana di Diagon Alley makin lama makin terik dan padat. Jujur, Flave tidak membayangkan sebelumnya kalau reuni dadakan seperti ini saja bisa membuat jalanan itu tampak padat. Flave sedikit bingung ketika Mizu mengatakan kalau ia sedang didekati dengan seorang murid Gryffindor yang katanya seangkatan dengan kita—dalam artian Flave dan yang sedang berkumpul disitu. Wow, benarkah? Bahkan Flave tidak merasa didekati oleh siapapun setelah putus dari Elel. “Maksudmu—” baru saja mau meneruskan kata-katanya, Mizu sudah menyebut nama belakang orang yang dekat dengannya itu. “Winchester, kan?” Flave langsung terkejut setengah mati. Flave memang sedang dekat dengan Kevin akhir-akhir ini. Bukan berarti kalau dekat selalu dikait-kaitkan dengan pacaran kan? Cheezta pun malah terbatuk-batuk kecil dibelakangnya. Ya ampun, Mizu dan Cheezta sepertinya salah sangka nih. “Dekat sebagai teman. Tidak lebih. Ya kan, Kevin?” katanya sambil menepuk bahu Kevin. Memang benar kan Flave dan Kevin hanya dekat sebagai teman—tidak lebih? Kecuali kalau Kevin menganggapnya sebagai pacar, itu lain lagi ceritanya.
PLAK!
Flave tidak menampar Kevin kok! Berani sumpah! Ia hanya menepuk bahu temannya, tidak sampai menamparnya. Memangnya ada alasan apa sampai Flave mau menampar Kevin? Ia pun mengalihkan pandangan kepada Flitchley dan Mendez. Nah! Kalau tidak salah Mendez itu yang mengambil Froggy milik Alya waktu tahun pertamanya disini. Lalu, kenapa Flitchley malah menampar Mendez coba? Hanya karena penampilannya yang terbilang lebay itukah? Ya ampun, lebay banget deh. Kemudian Mizu langsung mengusap lembut pipi Mendez. Wah, sepertinya ada yang dilanda kasmaran nih. Ah sudahlah. Oh ya, sepertinya orang yang ditunggu oleh Aurora tadi telah datang tuh. Yap, Azrael Hazzelnuts—prefek Hufflepuff tahun ketujuh. Ia sempat menabrak Ann dan memanggilnya.. Rooster? Aneh. Mereka masih bermusuhan atau bagaimana? Entahlah. “Emm—hai juga Azrael. Masih bermusuhan dengan—” sapanya sambil menunjuk Ann. Yaaa.. Kalau Flave sebut ia dengan sebutan Rooster, nanti Ann malah tersinggung.
Aurora langsung menjelaskan apa yang terjadi disini setelah diminta oleh Azrael. Ya ya ya, pasangan yang sangat serasi. Kemudian ada yang datang lagi. Destiny McLight dengan summer dressnya yang sangat cantik. Menanyakan hal yang sama—malah membuatnya semakin antusias ingin menjawabnya. Semakin banyak yang seangkatannya datang kesini, semakin antusias Flave menjawab pertanyaan mereka. Terlalu senang sepertinya. “Mengulang-perkenalan, Destiny. Yaa.. Sekalian membantu Yusuke sembuh dari amnesianya,” Flave mengulang sedikit kata-kata Cheezta tadi pada Destiny. “Ah ya, seperti kata Aurora dan Cheezta tadi, yang belum mengulang-perkenalan, ayo berkenalan lagi!” serunya sambil menyengir lebar. Namun, mendadak ia merubah mimiknya menjadi agak sedikit muram.
Cengiran lebar itu mengingatkannya pada Nano.