as written on; Friday, April 3, 2009
6:27 PM | 0 comments
Battle Royale – 2
Seandainya Nano kesini membawa chocochip cookies itu lagi.
Sebetulnya ia tak mengerti kenapa seluruh anak-anak Hufflepuff didatangkan kesini. Dan—yeah—tanpa anak-anak asrama lain yang mengganggu. Flave merapatkan kembali jaket tebal yang ia pakai saat ini. Sedikit kedinginan karena udara yang tak berbentuk itu seperti terserap kedalam jaket tebal yang kalau dipakai akan terasa hangat dan jika dipakai pada musim panas artinya kau telah menurunkan berat badan dengan cara kampungan—bahasa bagusnya apa yah? Ah, whatever. Sebenarnya bahasa apapun tidak perlu dibahas secara rumit kan? Nah nah nah, sekarang tubuh Flave sedikit menggigil. Entah kenapa—apa mungkin karena angin yang menerpa tubuhnya agak kencang atau bagaimana yah. Pokoknya begitu deh. Dan apa benar yah kalau badan Flave sedang panas dingin?
Who knows?
Flave melirik sedikit kearah Mizu ketika ia hendak mengganti bajunya yang ia pakai dengan seragam Quidditch lengkap. Kapan sih Flave membeli perlengkapan Quidditch selengkap dia ataupun senior Mobbrenette—yang memang sudah memakai seragam Quidditch dari asrama—yang merupakan pemain Quidditch andalan Hufflepuff? Tidak pernah. Sama sekali tidak pernah. So, kalau Flave disuruh bermain hari ini, masa ia harus pakai baju yang ia pakai sekarang? Oh ya, sampai lupa. Dia menyimpan baju andalannya—di asrama tapinya. O'ow. Sepertinya Flave hanya akan menjadi supporter bagi tim Hufflepuff senior—kelas 5, 6, dan 7 kalau tidak salah—dan hanya akan berteriak kencang kalau timnya memperoleh angka. Bagi penggemar fanatik Quidditch, mungkin ia bakal terjun bebas ke tanah lapangan Quidditch begitu timnya memenangkan pertandingan ataupun Piala Quidditch.
Rapat dimulai dengan pertanyaan dari Mizu. Dan dijawab secara panjang lebar oleh adik kelasnya, Lynette Verity. Ah ya, anak itu memang hebat—pikir Flave barusan ketika gadis berambut pirang itu menentukan posisi pemain kepada para anggota tim Hufflepuff senior. Yeah, Hufflepuff senior versus Hufflepuff junior rasanya bakal menarik. Quidditch pula. Dan beruntungnya, Lynette tidak menyebut nama Flave dalam posisi manapun! Yes! Dan kemungkinan besarnya sih ia akan menjadi pemain cadangan. Tidak masalah sih—tapi masalahnya, Flave tidak terlalu mahir menaiki sapu terbang. Apalagi dengan kecepatan tinggi seperti mobil sihir manapun. “Yeah. Ide yang bagus, Verity. Jadinya aku hanya akan menjadi pemain cadangan disini,” ujarnya menepuk pelan bahu Lynette. Sebenarnya sih ya, kata-kata itu lebih tepat untuk diucapkan pada dirinya sendiri, lho. Benar deh. Serius.
Seandainya ada seseorang yang membawakannya coklat hangat sekarang—
—mungkin Flave tak akan pernah merasa seaneh begini.
Sebetulnya ia tak mengerti kenapa seluruh anak-anak Hufflepuff didatangkan kesini. Dan—yeah—tanpa anak-anak asrama lain yang mengganggu. Flave merapatkan kembali jaket tebal yang ia pakai saat ini. Sedikit kedinginan karena udara yang tak berbentuk itu seperti terserap kedalam jaket tebal yang kalau dipakai akan terasa hangat dan jika dipakai pada musim panas artinya kau telah menurunkan berat badan dengan cara kampungan—bahasa bagusnya apa yah? Ah, whatever. Sebenarnya bahasa apapun tidak perlu dibahas secara rumit kan? Nah nah nah, sekarang tubuh Flave sedikit menggigil. Entah kenapa—apa mungkin karena angin yang menerpa tubuhnya agak kencang atau bagaimana yah. Pokoknya begitu deh. Dan apa benar yah kalau badan Flave sedang panas dingin?
Who knows?
Flave melirik sedikit kearah Mizu ketika ia hendak mengganti bajunya yang ia pakai dengan seragam Quidditch lengkap. Kapan sih Flave membeli perlengkapan Quidditch selengkap dia ataupun senior Mobbrenette—yang memang sudah memakai seragam Quidditch dari asrama—yang merupakan pemain Quidditch andalan Hufflepuff? Tidak pernah. Sama sekali tidak pernah. So, kalau Flave disuruh bermain hari ini, masa ia harus pakai baju yang ia pakai sekarang? Oh ya, sampai lupa. Dia menyimpan baju andalannya—di asrama tapinya. O'ow. Sepertinya Flave hanya akan menjadi supporter bagi tim Hufflepuff senior—kelas 5, 6, dan 7 kalau tidak salah—dan hanya akan berteriak kencang kalau timnya memperoleh angka. Bagi penggemar fanatik Quidditch, mungkin ia bakal terjun bebas ke tanah lapangan Quidditch begitu timnya memenangkan pertandingan ataupun Piala Quidditch.
Rapat dimulai dengan pertanyaan dari Mizu. Dan dijawab secara panjang lebar oleh adik kelasnya, Lynette Verity. Ah ya, anak itu memang hebat—pikir Flave barusan ketika gadis berambut pirang itu menentukan posisi pemain kepada para anggota tim Hufflepuff senior. Yeah, Hufflepuff senior versus Hufflepuff junior rasanya bakal menarik. Quidditch pula. Dan beruntungnya, Lynette tidak menyebut nama Flave dalam posisi manapun! Yes! Dan kemungkinan besarnya sih ia akan menjadi pemain cadangan. Tidak masalah sih—tapi masalahnya, Flave tidak terlalu mahir menaiki sapu terbang. Apalagi dengan kecepatan tinggi seperti mobil sihir manapun. “Yeah. Ide yang bagus, Verity. Jadinya aku hanya akan menjadi pemain cadangan disini,” ujarnya menepuk pelan bahu Lynette. Sebenarnya sih ya, kata-kata itu lebih tepat untuk diucapkan pada dirinya sendiri, lho. Benar deh. Serius.
Seandainya ada seseorang yang membawakannya coklat hangat sekarang—
—mungkin Flave tak akan pernah merasa seaneh begini.
6:25 PM | 0 comments
Battle Royale – 1
Winter 1978, 09:03 A.M.
Bersalju—kata pertama yang melintas dipikiran Flave ketika bangun tadi.
Percaya atau tidak, Flave hanya ingin bergerumul dengan selimut hangatnya ketika matanya terbuka. Sungguh, pagi ini rasanya terlalu dingin untuk seorang Flavarel Montez. Err—apa dia sedang sakit demam atau bagaimana? Tidak biasanya gadis berkulit coklat itu tidak gentar menghadapi musim salju—yeah, meskipun dinginnya bisa melebihi minus sepuluh derajat celcius. Tadinya sih Flave hampir tidak bisa terbangun dari tempat tidurnya saking dinginnya udara pagi itu. Dan itu terbukti dengan ujung jari kakinya yang hampir membeku ketika telapak kakinya menyentuh permukaan lantai kamar anak perempuan Hufflepuff kelas enam. Tubuhnya langsung mengejang seketika dan hasratnya langsung memuncak untuk menghangatkan diri di depan perapian di ruang rekreasi asrama. Sudah berapa kali Flave menggosokkan kedua telapak tangannya agar merasa hangat. Tetapi itu sama saja. Dan yang membuat Flave nekat ingin bangun pagi ini—meskipun ia juga melihat anak-anak kelas enam lainnya yang masih memberontak ketika bangun, aneh—adalah—
—sebuah surat. Tanpa tanda tangan.
Surat kaleng. Haha.. Kapan sih terakhir kali dia mendapat surat seperti ini? Oh ya, terakhir kali. Yang Flave curigai kalau pengirimnya adalah Elel. Gila saja itu anak. Sudah berapa kali Flave bilang pada laki-laki berambut gimbal itu kalau ia tidak mau diganggu barang sedetikpun dan itu percuma karena Elel terlalu sering mengirimnya surat kaleng. Tindakan bodoh, rite? Dan sekarang ada lagi. Sebenarnya Flave masih curiga kalau mantan tunangannya itu yang lagi-lagi mengirim surat yang tidak bertanda tangan itu padanya. Dan nyatanya—persepsi itu agaknya salah besar dimata Flave. Tulisannya tidak mirip dengan Elel—huruf sambung, tapi lebih mirip dengan rumput—ataupun anak buahnya yang kabarnya sedang dekat dengan Nano—rapi, namun dibawahnya seperti ada garis bawah. Pendapat bahwa si anak buah ini tidak bisa menulis dengan benar-benar rapi. Ah tolol. Dan sebenarnya itu lebih ditujukan kepada para pemain Quidditch—melihat bahwa isi surat itu dipenuhi dengan aksi-aksi yang terjadi di lapangan hijau terbuka yang ada di Hogwarts—“angin menerpa wajah kalian yang tengah melesat di atas sapu kalian, mencium aroma rumput hijau dari ketinggian yang tidak dapat dicapai dari tribun penonton, menggiring si bola merah ke salah satu tiang yang terpancang, melihat si bola hitam menghempas ganas ke arah lawan, dan si bola emas bersayap berhasil jatuh ke dalam genggaman tangan kalian,”—dan Flave bukan anggota pemain Quidditch. Ia hanya menonton sekali ketika—
—Hufflepuff kalah telak—
—oleh Slytherin. 210 – 0.
Baiklah, sebaiknya jangan mengingat itu lagi. Tentang kekalahan yang telak bagi Hufflepuff—diakhiri dengan permainan sempurna senior Pavarell—Flave agak terpukul sih. Sekaligus sedikit kecewa. Kecewa menjadi seorang Hufflepuff. He? Kecewa? Haha.. Itu bercanda kok. Sejujurnya Flave masih sangat bangga karena telah menjadi bagian dari keluarga musang yang terbilang sangat kompak ini. Flave bangga berasrama Hufflepuff—meskipun ‘bersarang’ di ruang bawah tanah—kemudian Flave bangga memiliki teman-teman yang bisa dibilang sangat tipikal Hufflepuff—baik, ramah, sopan, pekerja keras, dan segala macam—dan Flave bangga memiliki kakak serta adik kelas yang menurut Flave terbaik. Oke, cukup meracaunya. Kini Flave mengenakan jaket hitam—favoritnya sekarang—dan syal kuning pucat. Tentu saja ia memakai celana panjang hangat dan sepatu boots—berjaga-jaga kalau nanti dia bakal tergelincir saat dalam perjalanannya ke lapangan Quidditch. Arloji biru muda yang melingkar di pergelangan tangan kanannya menunjukkan waktu 09:21 A.M. yang berarti masih ada sekitar 38 menit sekian detik sampai tepat pukul sepuluh pagi—waktu yang telah ditentukan di surat itu.
Yeah, ada sekitar—hmm—sepuluh orang atau lebih yang sudah berkumpul di lapangan itu. Mizu tengah menaiki Nimbus-nya yang kata Dad sangat cocok untuk Flave kalau saja dia masuk tim Quidditch. Ah, sorry Dad. Ternyata anakmu ini tidak bernasib sama denganmu beberapa tahun yang lalu. Banyak juga adik kelas yang sudah kesini. Al-Kazaf, Verity, Syadiran, Cheryl, McCafferty—Flave pernah hampir menyebutnya koper, dan Hale berkumpul. Yang satu angkatan dengannya hanya ada Mizu—masih setia menaiki sapu terbangnya—dan Natt. Dan yang baru saja ia lihat ada senior Naoko dan senior Evania. Err—kemana para badgers yang lain? Masih bergelung di tempat tidur, eh? Dan mengutip sedikit perkataan senior Evania—katanya ada pertandingan Quidditch antara para junior dengan senior? Jadi ini maksud yang ada di surat kaleng itu ya? Pertandingan Quidditch yang entah dikoordinir oleh siapa—yang jelas sepertinya bukan dari pihak sekolah, kan?—antara Hufflepuff senior dengan Hufflepuff junior. Kedengaran seru, tapi apa Flave mau ikut bermain? Padahal ia bukan pemain Quidditch. “Hey, semua!” sapanya hangat. Seperti coklat hangat yang ia minum sebelum kesini. “Ada acara apa ini?” tanyanya pura-pura tidak tahu. Garing. Seperti chocochip cookies pemberian Nano yang masih sisa setengah.
Bersalju—kata pertama yang melintas dipikiran Flave ketika bangun tadi.
Percaya atau tidak, Flave hanya ingin bergerumul dengan selimut hangatnya ketika matanya terbuka. Sungguh, pagi ini rasanya terlalu dingin untuk seorang Flavarel Montez. Err—apa dia sedang sakit demam atau bagaimana? Tidak biasanya gadis berkulit coklat itu tidak gentar menghadapi musim salju—yeah, meskipun dinginnya bisa melebihi minus sepuluh derajat celcius. Tadinya sih Flave hampir tidak bisa terbangun dari tempat tidurnya saking dinginnya udara pagi itu. Dan itu terbukti dengan ujung jari kakinya yang hampir membeku ketika telapak kakinya menyentuh permukaan lantai kamar anak perempuan Hufflepuff kelas enam. Tubuhnya langsung mengejang seketika dan hasratnya langsung memuncak untuk menghangatkan diri di depan perapian di ruang rekreasi asrama. Sudah berapa kali Flave menggosokkan kedua telapak tangannya agar merasa hangat. Tetapi itu sama saja. Dan yang membuat Flave nekat ingin bangun pagi ini—meskipun ia juga melihat anak-anak kelas enam lainnya yang masih memberontak ketika bangun, aneh—adalah—
—sebuah surat. Tanpa tanda tangan.
Surat kaleng. Haha.. Kapan sih terakhir kali dia mendapat surat seperti ini? Oh ya, terakhir kali. Yang Flave curigai kalau pengirimnya adalah Elel. Gila saja itu anak. Sudah berapa kali Flave bilang pada laki-laki berambut gimbal itu kalau ia tidak mau diganggu barang sedetikpun dan itu percuma karena Elel terlalu sering mengirimnya surat kaleng. Tindakan bodoh, rite? Dan sekarang ada lagi. Sebenarnya Flave masih curiga kalau mantan tunangannya itu yang lagi-lagi mengirim surat yang tidak bertanda tangan itu padanya. Dan nyatanya—persepsi itu agaknya salah besar dimata Flave. Tulisannya tidak mirip dengan Elel—huruf sambung, tapi lebih mirip dengan rumput—ataupun anak buahnya yang kabarnya sedang dekat dengan Nano—rapi, namun dibawahnya seperti ada garis bawah. Pendapat bahwa si anak buah ini tidak bisa menulis dengan benar-benar rapi. Ah tolol. Dan sebenarnya itu lebih ditujukan kepada para pemain Quidditch—melihat bahwa isi surat itu dipenuhi dengan aksi-aksi yang terjadi di lapangan hijau terbuka yang ada di Hogwarts—“angin menerpa wajah kalian yang tengah melesat di atas sapu kalian, mencium aroma rumput hijau dari ketinggian yang tidak dapat dicapai dari tribun penonton, menggiring si bola merah ke salah satu tiang yang terpancang, melihat si bola hitam menghempas ganas ke arah lawan, dan si bola emas bersayap berhasil jatuh ke dalam genggaman tangan kalian,”—dan Flave bukan anggota pemain Quidditch. Ia hanya menonton sekali ketika—
—Hufflepuff kalah telak—
—oleh Slytherin. 210 – 0.
Baiklah, sebaiknya jangan mengingat itu lagi. Tentang kekalahan yang telak bagi Hufflepuff—diakhiri dengan permainan sempurna senior Pavarell—Flave agak terpukul sih. Sekaligus sedikit kecewa. Kecewa menjadi seorang Hufflepuff. He? Kecewa? Haha.. Itu bercanda kok. Sejujurnya Flave masih sangat bangga karena telah menjadi bagian dari keluarga musang yang terbilang sangat kompak ini. Flave bangga berasrama Hufflepuff—meskipun ‘bersarang’ di ruang bawah tanah—kemudian Flave bangga memiliki teman-teman yang bisa dibilang sangat tipikal Hufflepuff—baik, ramah, sopan, pekerja keras, dan segala macam—dan Flave bangga memiliki kakak serta adik kelas yang menurut Flave terbaik. Oke, cukup meracaunya. Kini Flave mengenakan jaket hitam—favoritnya sekarang—dan syal kuning pucat. Tentu saja ia memakai celana panjang hangat dan sepatu boots—berjaga-jaga kalau nanti dia bakal tergelincir saat dalam perjalanannya ke lapangan Quidditch. Arloji biru muda yang melingkar di pergelangan tangan kanannya menunjukkan waktu 09:21 A.M. yang berarti masih ada sekitar 38 menit sekian detik sampai tepat pukul sepuluh pagi—waktu yang telah ditentukan di surat itu.
Yeah, ada sekitar—hmm—sepuluh orang atau lebih yang sudah berkumpul di lapangan itu. Mizu tengah menaiki Nimbus-nya yang kata Dad sangat cocok untuk Flave kalau saja dia masuk tim Quidditch. Ah, sorry Dad. Ternyata anakmu ini tidak bernasib sama denganmu beberapa tahun yang lalu. Banyak juga adik kelas yang sudah kesini. Al-Kazaf, Verity, Syadiran, Cheryl, McCafferty—Flave pernah hampir menyebutnya koper, dan Hale berkumpul. Yang satu angkatan dengannya hanya ada Mizu—masih setia menaiki sapu terbangnya—dan Natt. Dan yang baru saja ia lihat ada senior Naoko dan senior Evania. Err—kemana para badgers yang lain? Masih bergelung di tempat tidur, eh? Dan mengutip sedikit perkataan senior Evania—katanya ada pertandingan Quidditch antara para junior dengan senior? Jadi ini maksud yang ada di surat kaleng itu ya? Pertandingan Quidditch yang entah dikoordinir oleh siapa—yang jelas sepertinya bukan dari pihak sekolah, kan?—antara Hufflepuff senior dengan Hufflepuff junior. Kedengaran seru, tapi apa Flave mau ikut bermain? Padahal ia bukan pemain Quidditch. “Hey, semua!” sapanya hangat. Seperti coklat hangat yang ia minum sebelum kesini. “Ada acara apa ini?” tanyanya pura-pura tidak tahu. Garing. Seperti chocochip cookies pemberian Nano yang masih sisa setengah.
6:23 PM | 0 comments
Winter's Wind [Plot Terputus] – 2
Apakah kau masih ingat—terutama yang sudah mengalami masa puber—bagaimana rasanya menjadi anak-anak yang penuh dengan keceriaan dan kebahagiaan?
Flave mematri semua memori masa kecilnya dan masih tetap utuh sampai sekarang. Waktu Flave masih dengan cerianya bermain lempar bola salju atau membuat boneka salju atau menyalakan api unggun dan segala macam, semua yang berbau musim dingin. Angin berhembus sedikit lebih kencang daripada sebelumnya dan mengibarkan rambutnya seperti bendera yang baru saja dikibarkan. Tangannya memegang segenggam bola salju yang kalau ada seseorang lagi disini akan langsung dia lempar tepat didepan mukanya. Atau mungkin saja dibokongnya, tinggal pilih saja sesuka hati. Tapi sayang, dia hanya disini sendiri. Ia tidak terlalu memikirkan bila Nano datang kesini dengan cara yang tidak biasa—melempar bola salju atau mencubit pipinya atau memberi kejutan seperti di Aula Depan musim panas lalu. Sekotak chocochip cookies yang diberikan Nano masih sisa banyak dikamarnya. Dikira Flave ia bakal mendapatkan Permen Rasa Bertie Botts rasa kotoran Troll. Huek! Menjijikan.
“—dan tahu tidak? Sebenarnya kau tak cocok sekolah disini.”
McKelsie menyebalkan.
Biar kudefinisikan siapa itu Serafina McKelsie dan bagaimana sifatnya sehingga membuatnya terlihat menyebalkan dimata Flave. Dia itu kecentilan, fashion-addict—salah satu anak yang menyetujui perkataan senior Zeel tentang majalah fashion itu, perfeksionis, dan egois. Namun dari sisi baiknya, anak itu cukup perhatian terhadap orang lain dan senantiasa mebantu orang lain. Tipe Hufflepuff sejati atau apa yah? Dan kau curiga kan kenapa si Serafina ini selalu menyetujui apapun kata-kata senior Zeel padanya? Ya, tentu saja. Dia naksir berat sama senior itu. Dan Flave sama sekali tidak menyangka kalau anak itu menyukai senior yang sudah lulus dari Hogwarts—yang berarti tidak ada lagi neraka bagi Flave. That’s why she hates Serafina McKelsie so much. Selain karena rambut blonde keritingnya yang bisa membuat Flave sedikit bergidik.
"Long time no see, Miss Montez."
Suara anak laki-laki. Sedikit berat, memungkinan bahwa yang datang itu bukanlah Nano. Lagipula, tahu sendiri kan bagaimana suara Nano yang belum juga puber itu? Masih kekanak-kanakkan. Dan apalagi, Nano tidak mungkin memanggilnya Miss Montez—kecuali kalau naluri jahilnya mulai keluar, seperti akan melemparinya bola salju dan bermain bersama. Kemudian lelaki itu duduk disampingnya. Beralas salju, menyenangkan. Ia tak sendiri sekarang. Flave menoleh sedikit dan melihat raut wajah anak laki-laki itu. “Winchester? Yeah, long time no see..” ujarnya singkat sambil memeluk lututnya. Sedikit kedinginan, walaupun sudah memakai jaket tebal. Pertama kali bertemu dengan Winchester.. Bayangan itu melintas lagi seperti burung yang bermigrasi ke selatan. Di kelas kosong, rite? Waktu itu ia sempat bertemu juga dengan Atsuko dan senior Marie Ann yang juga sedang berduaan.
Iya, waktu itu Flave menangis cuma gara-gara melihat wajah Atsuko yang mirip dengan Aurel—tak perlu dibahas lagi siapa orang itu. “Baru saja keluar dari kandang, eh?” guraunya mencairkan suasana. Ia pun langsung terkekeh sedikit. Kapan lagi bisa seceria ini diusia enam belas tahun?
Flave mematri semua memori masa kecilnya dan masih tetap utuh sampai sekarang. Waktu Flave masih dengan cerianya bermain lempar bola salju atau membuat boneka salju atau menyalakan api unggun dan segala macam, semua yang berbau musim dingin. Angin berhembus sedikit lebih kencang daripada sebelumnya dan mengibarkan rambutnya seperti bendera yang baru saja dikibarkan. Tangannya memegang segenggam bola salju yang kalau ada seseorang lagi disini akan langsung dia lempar tepat didepan mukanya. Atau mungkin saja dibokongnya, tinggal pilih saja sesuka hati. Tapi sayang, dia hanya disini sendiri. Ia tidak terlalu memikirkan bila Nano datang kesini dengan cara yang tidak biasa—melempar bola salju atau mencubit pipinya atau memberi kejutan seperti di Aula Depan musim panas lalu. Sekotak chocochip cookies yang diberikan Nano masih sisa banyak dikamarnya. Dikira Flave ia bakal mendapatkan Permen Rasa Bertie Botts rasa kotoran Troll. Huek! Menjijikan.
“—dan tahu tidak? Sebenarnya kau tak cocok sekolah disini.”
McKelsie menyebalkan.
Biar kudefinisikan siapa itu Serafina McKelsie dan bagaimana sifatnya sehingga membuatnya terlihat menyebalkan dimata Flave. Dia itu kecentilan, fashion-addict—salah satu anak yang menyetujui perkataan senior Zeel tentang majalah fashion itu, perfeksionis, dan egois. Namun dari sisi baiknya, anak itu cukup perhatian terhadap orang lain dan senantiasa mebantu orang lain. Tipe Hufflepuff sejati atau apa yah? Dan kau curiga kan kenapa si Serafina ini selalu menyetujui apapun kata-kata senior Zeel padanya? Ya, tentu saja. Dia naksir berat sama senior itu. Dan Flave sama sekali tidak menyangka kalau anak itu menyukai senior yang sudah lulus dari Hogwarts—yang berarti tidak ada lagi neraka bagi Flave. That’s why she hates Serafina McKelsie so much. Selain karena rambut blonde keritingnya yang bisa membuat Flave sedikit bergidik.
"Long time no see, Miss Montez."
Suara anak laki-laki. Sedikit berat, memungkinan bahwa yang datang itu bukanlah Nano. Lagipula, tahu sendiri kan bagaimana suara Nano yang belum juga puber itu? Masih kekanak-kanakkan. Dan apalagi, Nano tidak mungkin memanggilnya Miss Montez—kecuali kalau naluri jahilnya mulai keluar, seperti akan melemparinya bola salju dan bermain bersama. Kemudian lelaki itu duduk disampingnya. Beralas salju, menyenangkan. Ia tak sendiri sekarang. Flave menoleh sedikit dan melihat raut wajah anak laki-laki itu. “Winchester? Yeah, long time no see..” ujarnya singkat sambil memeluk lututnya. Sedikit kedinginan, walaupun sudah memakai jaket tebal. Pertama kali bertemu dengan Winchester.. Bayangan itu melintas lagi seperti burung yang bermigrasi ke selatan. Di kelas kosong, rite? Waktu itu ia sempat bertemu juga dengan Atsuko dan senior Marie Ann yang juga sedang berduaan.
Iya, waktu itu Flave menangis cuma gara-gara melihat wajah Atsuko yang mirip dengan Aurel—tak perlu dibahas lagi siapa orang itu. “Baru saja keluar dari kandang, eh?” guraunya mencairkan suasana. Ia pun langsung terkekeh sedikit. Kapan lagi bisa seceria ini diusia enam belas tahun?
6:20 PM | 0 comments
Winter's Wind [Plot Terputus] – 1
Thanks again buat Chajar yang ngajakin ngeplot. Buat yang satu ini sih, ceritanya mereka kan udah lama gak ketemu lagi. Akhirnya mereka saling ketemuan juga setelah pas kelas satu tahun lalu ketemuan gak sengaja di kelas kosong. Lagi-lagi plot terputus.. *getok Chajar*
Musim dingin.
Flave hanya berdiri mematung melihat butiran-butiran salju jatuh menggapai bumi. Apapun dapat kau lakukan dengan butiran salju tersebut. Membuat boneka salju atau bahkan bertanding bola salju. Menyenangkan. Sama menyenangkannya saat Flave belum masuk Hogwarts. Kemah musim dingin memang asik. Dengan sahabat Muggle-nya yang tidak akan pernah ia temukan di Hogwarts—jujur, Flave kangen sekolah Muggle. Ia jadi merasa tidak nyaman sekolah di Hogwarts. Terutama dengan kedisiplinan waktu. Agak menyebalkan, meskipun itu bisa mempengaruhi pola hidup Flave. Teman-teman asramanya juga menyenangkan sih, meskipun sekarang nampaknya mereka jarang terlihat lagi. Ditelan bumi, eh? Terutama yang satu angkatan dengannya. Apa mungkin penglihatan Flave mulai rabun? Tidak. Ia kini memakai kacamata dengan frame berwarna silver minus satu setengah.
Halaman. Satu-satunya tempat dimana kau bisa menikmati salju dengan damai.
Ia hanya memakai celana jins panjang, t-shirt berwarna coklat muda, dan jaket tebal berwarna biru. Tidak terlalu cocok, eh? Ya iyalah, Flave bukan pemerhati ataupun penyuka dunia fashion. Tidak seperti yang dikatakan Senior Zeel tahun lalu. Untunglah orang menyebalkan itu langsung pergi dari Hogwarts. Kalau tidak yah, hari ini pasti ia disuruh membaca tumpukan majalah fashion darinya. Rambutnya kini sedikit berantakan—sengaja dia berantakin sih. Tapi kalau dilihat dari jauh, mirip sedikit sama orang sinting. Sebodo ah. Ini kan kesukaannya, bukan kesukaan orang lain. Flave merasa heran dengan teman satu asramanya yang suka mengomentarinya cantik atau apalah. Memangnya Flave itu cantik yah? Tidak. Dia terlihat bego sekarang. Sama seperti yang dikatakan seorang teman seangkatannya kemarin.
“Dear, penampilanmu berantakan. Kenapa sih? Seharusnya dari kemarin kau masuk rumah sakit jiwa saja—”
Dan itulah saat terakhir kalinya ia mengobrol dengan Serafina McKelsie.
Disinilah ia merasa lega. Ditemani dengan tumpukan salju yang bisa dibuat apa saja sesuka Flave. Untunglah belum turun salju lagi. Parahnya, ia tidak memakai sarung tangan, jadinya telapak tangannya terasa beku sekarang. Oh, Flave, kau benar-benar bodoh sekarang. Ia pun langsung duduk dihamparan salju dengan santai. Tersenyum santai begitu tubuhnya menyentuh salju yang lembut bagai kapas. Ini memang tidak senyaman tempat tidurnya di Chelsea dan ini tidak seburuk ranjang dikamarnya sekarang. Tapi sekarang ia merasa seperti anak kecil lagi. “Haa..” gumamnya. Rambutnya yang tergerai berkibar rendah begitu udara menghembus dengan pelan. Benar-benar musim salju paling santai di dunia—pikir Flave.
Err.. Sebenarnya musim dingin itu tidak identik dengan salju kan yah?
Musim dingin.
Flave hanya berdiri mematung melihat butiran-butiran salju jatuh menggapai bumi. Apapun dapat kau lakukan dengan butiran salju tersebut. Membuat boneka salju atau bahkan bertanding bola salju. Menyenangkan. Sama menyenangkannya saat Flave belum masuk Hogwarts. Kemah musim dingin memang asik. Dengan sahabat Muggle-nya yang tidak akan pernah ia temukan di Hogwarts—jujur, Flave kangen sekolah Muggle. Ia jadi merasa tidak nyaman sekolah di Hogwarts. Terutama dengan kedisiplinan waktu. Agak menyebalkan, meskipun itu bisa mempengaruhi pola hidup Flave. Teman-teman asramanya juga menyenangkan sih, meskipun sekarang nampaknya mereka jarang terlihat lagi. Ditelan bumi, eh? Terutama yang satu angkatan dengannya. Apa mungkin penglihatan Flave mulai rabun? Tidak. Ia kini memakai kacamata dengan frame berwarna silver minus satu setengah.
Halaman. Satu-satunya tempat dimana kau bisa menikmati salju dengan damai.
Ia hanya memakai celana jins panjang, t-shirt berwarna coklat muda, dan jaket tebal berwarna biru. Tidak terlalu cocok, eh? Ya iyalah, Flave bukan pemerhati ataupun penyuka dunia fashion. Tidak seperti yang dikatakan Senior Zeel tahun lalu. Untunglah orang menyebalkan itu langsung pergi dari Hogwarts. Kalau tidak yah, hari ini pasti ia disuruh membaca tumpukan majalah fashion darinya. Rambutnya kini sedikit berantakan—sengaja dia berantakin sih. Tapi kalau dilihat dari jauh, mirip sedikit sama orang sinting. Sebodo ah. Ini kan kesukaannya, bukan kesukaan orang lain. Flave merasa heran dengan teman satu asramanya yang suka mengomentarinya cantik atau apalah. Memangnya Flave itu cantik yah? Tidak. Dia terlihat bego sekarang. Sama seperti yang dikatakan seorang teman seangkatannya kemarin.
“Dear, penampilanmu berantakan. Kenapa sih? Seharusnya dari kemarin kau masuk rumah sakit jiwa saja—”
Dan itulah saat terakhir kalinya ia mengobrol dengan Serafina McKelsie.
Disinilah ia merasa lega. Ditemani dengan tumpukan salju yang bisa dibuat apa saja sesuka Flave. Untunglah belum turun salju lagi. Parahnya, ia tidak memakai sarung tangan, jadinya telapak tangannya terasa beku sekarang. Oh, Flave, kau benar-benar bodoh sekarang. Ia pun langsung duduk dihamparan salju dengan santai. Tersenyum santai begitu tubuhnya menyentuh salju yang lembut bagai kapas. Ini memang tidak senyaman tempat tidurnya di Chelsea dan ini tidak seburuk ranjang dikamarnya sekarang. Tapi sekarang ia merasa seperti anak kecil lagi. “Haa..” gumamnya. Rambutnya yang tergerai berkibar rendah begitu udara menghembus dengan pelan. Benar-benar musim salju paling santai di dunia—pikir Flave.
Err.. Sebenarnya musim dingin itu tidak identik dengan salju kan yah?
