as written on; Thursday, April 30, 2009
8:32 PM | 0 comments
Be Mine Forever — 3
Blushing. Kau bisa lihat dari tingkah lakunya yang kini mulai salah tingkah—beginilah kalau habis dikerjai, sobat—dan pipinya yang jelas-jelas terlihat merah semu. Terlebih kalau kau dikerjai dengan seseorang yang kau.. sayangi, mungkin? Umm—patut dipertanyakan—status mereka apa sih sebetulnya?
Entahlah.
Dan ngomong-ngomong soal pasangan tadi, tinggal beberapa langkah lagi mereka akan berpapasan dengan Flave dan Kevin. Pandangannya sedikit teralih saat pasangan tersebut melangkah melintasi mereka. Mesra. Sangat terlihat dari gesture tubuh mereka. Sebelah tangan sang lelaki yang menggamit pinggang sang perempuan yang ramping. Selayaknya Adam dan Hawa, siapa yang tidak tahu kisah cinta mereka sih? Turun dari langit untuk memberi cinta di tempatnya berpijak saat ini. How sweet. Rasa yang tak terkalahkan oleh waktu itu dirasakan oleh pasangan tersebut. Oh—kau tahu apa? Flave merasa pasangan itu tengah melirik mereka, ketahuan dari mata biru laut sang Adam yang memicing kearahnya—seorang gadis latin bersama seorang lelaki bernama Kevin Winchester—dan menyeringai manis. Seolah sang lelaki itu menyembunyikan sesuatu dari Flave.
Tanpa sadar, pipinya memerah lagi melihat pasangan tersebut—pandangannya kini teralih pada Kevin, yang mulai..menggombal lagi. Pipinya merasakan sesuatu yang agak dingin ketika lelaki itu mulai membelai lembut pipinya. Aura musim dingin, barangkali. "Dan lihat wajahmu sekarang," —kedua bola matanya menatap teduh sang Adam yang kini tengah berada dihadapannya— "kau seperti tukang rayu sejati, kalau kau mau tahu," tangannya langsung, dengan isengnya, menggelitik pinggangnya. Oh well, biarkan suasana disini bertambah hangat, tanpa memperdulikan seluruh eksistensi yang mengelilinginya kali ini.
—I wanted more than just an ordinary life
All of my dreams seemed like castle in the sky
"Humm—mungkin aku akan kedalam," —ia melepaskan tangannya dari sang patung bergerak itu (okay, itu bercanda)— "kau juga mau mungkin?" senyumannya menipis. Pandangannya beralih kepada pasangan yang baru beberapa langkah dari mereka. Lima langkah mungkin. Ah, bukannya apa-apa, hanya saja—apakah mereka sengaja menguntit Flave sedari tadi? Entahlah. Namun, sekejap ia hanya melihat seberkas cahaya—menghilang? Bagaimana bisa? Entahlah—untuk kedua kalinya. Matanya kembali memandang bola abu milik lelaki itu. Lelaki yang bisa dibilang—sahabat atau apa? Jujur, ia masih bingung dengan status mereka yang.. kurang jelas, bisa dibilang. Janjinya saat natal kemarin pada dirinya sendiri, ia harus bicara hanya empat mata dengan Kevin. "Boleh kutanya sesuatu?" matanya mengerjap pelan ketika ia bertanya.
—In my heart I still believe
We were meant to be
Together so whatever it takes
Ragu. "Err—nanti saja. Mau pesan sesuatu tidak?" Ragu baginya menanyakan hal ini. Dan berkasan cahaya itu melenyap tanpa bekas. Ia tahu itu—ekor matanya tak bisa lepas dari pemandangan aneh itu.
OoC: Credit to 'Before Your Love' by Kelly Clarkson, and also 'Baby Come Back To Me' by Vanessa Hudgens.
Entahlah.
Dan ngomong-ngomong soal pasangan tadi, tinggal beberapa langkah lagi mereka akan berpapasan dengan Flave dan Kevin. Pandangannya sedikit teralih saat pasangan tersebut melangkah melintasi mereka. Mesra. Sangat terlihat dari gesture tubuh mereka. Sebelah tangan sang lelaki yang menggamit pinggang sang perempuan yang ramping. Selayaknya Adam dan Hawa, siapa yang tidak tahu kisah cinta mereka sih? Turun dari langit untuk memberi cinta di tempatnya berpijak saat ini. How sweet. Rasa yang tak terkalahkan oleh waktu itu dirasakan oleh pasangan tersebut. Oh—kau tahu apa? Flave merasa pasangan itu tengah melirik mereka, ketahuan dari mata biru laut sang Adam yang memicing kearahnya—seorang gadis latin bersama seorang lelaki bernama Kevin Winchester—dan menyeringai manis. Seolah sang lelaki itu menyembunyikan sesuatu dari Flave.
Tanpa sadar, pipinya memerah lagi melihat pasangan tersebut—pandangannya kini teralih pada Kevin, yang mulai..menggombal lagi. Pipinya merasakan sesuatu yang agak dingin ketika lelaki itu mulai membelai lembut pipinya. Aura musim dingin, barangkali. "Dan lihat wajahmu sekarang," —kedua bola matanya menatap teduh sang Adam yang kini tengah berada dihadapannya— "kau seperti tukang rayu sejati, kalau kau mau tahu," tangannya langsung, dengan isengnya, menggelitik pinggangnya. Oh well, biarkan suasana disini bertambah hangat, tanpa memperdulikan seluruh eksistensi yang mengelilinginya kali ini.
—I wanted more than just an ordinary life
All of my dreams seemed like castle in the sky
"Humm—mungkin aku akan kedalam," —ia melepaskan tangannya dari sang patung bergerak itu (okay, itu bercanda)— "kau juga mau mungkin?" senyumannya menipis. Pandangannya beralih kepada pasangan yang baru beberapa langkah dari mereka. Lima langkah mungkin. Ah, bukannya apa-apa, hanya saja—apakah mereka sengaja menguntit Flave sedari tadi? Entahlah. Namun, sekejap ia hanya melihat seberkas cahaya—menghilang? Bagaimana bisa? Entahlah—untuk kedua kalinya. Matanya kembali memandang bola abu milik lelaki itu. Lelaki yang bisa dibilang—sahabat atau apa? Jujur, ia masih bingung dengan status mereka yang.. kurang jelas, bisa dibilang. Janjinya saat natal kemarin pada dirinya sendiri, ia harus bicara hanya empat mata dengan Kevin. "Boleh kutanya sesuatu?" matanya mengerjap pelan ketika ia bertanya.
—In my heart I still believe
We were meant to be
Together so whatever it takes
Ragu. "Err—nanti saja. Mau pesan sesuatu tidak?" Ragu baginya menanyakan hal ini. Dan berkasan cahaya itu melenyap tanpa bekas. Ia tahu itu—ekor matanya tak bisa lepas dari pemandangan aneh itu.
OoC: Credit to 'Before Your Love' by Kelly Clarkson, and also 'Baby Come Back To Me' by Vanessa Hudgens.
Labels: flave, graduated from hogwarts, kevin, plot
as written on; Tuesday, April 28, 2009
1:01 AM | 0 comments
Be Mine Forever — 2
Kau punya feeling yang buruk, dear. Tidak ada orang lain yang berlalu lalang disekitar sini. Coba lihat ke seberang dan kau akan melihat beberapa orang sedang berjalan kesana-sini. Dan kalau kau melihat ke kejauhan sana, kau bisa melihat sepasang kekasih—masih muda sih—tengah bermesraan ria sepanjang jalan. Nah, kau sudah mendapat kesimpulannya, Montez?
Dia tak punya bakat meramal dengan baik. Dammit.
But yeah, beruntung ia memiliki retina yang masih berjalan dengan baik. Ahaha.. Kau tahu maksudnya kan? Tak mungkin ia menganggap sepasang kekasih yang kira-kira sepuluh langkah lagi akan berpapasan dengan gadis Latin itu—dua orang yang sedang bertengkar. Yang perempuan—rambut pirang kecoklatan dengan manik hijau keabuan yang membuatnya menjadi tambah terlihat sangat cantik (meskipun pada kenyataan, perempuan itu memang cantik, artis mungkin?) memakai jaket tebal berwarna putih tulang yang agak sedikit kontras dengan kulitnya yang kuning langsat. Gadis Asia mungkin? Yang laki-laki—bertubuh atletis, rambut hitam cepak, memiliki warna bola mata biru laut dengan sorotan agak tajam (ia tak mengerti kenapa perempuan menyukai lelaki dengan tatapan tajam—yang menurut Flave mirip setan itu?) dan berpenampilan casual. Serba cokelat, benar-benar sangat kontras dengan kulit lelaki itu yang putih pucat.
Semacam vampire? Mungkin kau tahu artikel Daily Prophet yang membahas kerjasama Kementrian Sihir dengan kumpulan vampir yang bermarkas di Volterra, Italia—pernah membacanya kan? Itu bahkan sempat ia perbincangkan dengan beberapa orang rekan divisinya—Sierra McKannon, bukan Serafina McKelsie yang katanya sekarang mulai meniti karier sebagai model, cih. Gadis itu—yang ternyata sama-sama berasal dari Spanyol—hanya membeberkan berita tersebut, karena ia memang tahu banyak tentang kerjasama itu.
Oh well, ya sudahlah, peduli amat tentang masalah Volturi itu.
Lagi-lagi ia celingukan melihat sekitar jalanan Crimmscott yang oh-my-God-tempat-ini-bahkan-mirip-kuburan ini. Hanya ada satu bus yang lewat di jalan itu dan beberapa sepeda antik berkeliaran disana. Dirinya mencurigai seseorang yang ada di bus itu sedang memperhatikannya. Uh yeah, kau kepedean, Flave. Dan ia sampai lupa kalau ia mau memesan sesuatu di dalam. Nanti saja, toh tadi juga pelayannya datang dan ia menolaknya dengan halus—hanya dengan kata-kata seperti, "Urm.. Nanti saja, aku sedang menunggu seseorang," yang sebenarnya—alasan itu terlalu dibuat-buat. Hey, Flavarel Montez, kau datang kesini sendirian, dengan tujuan menikmati teh yang dihidangkan disini sendirian. Sejak kapan kau menunggu seseorang—kecuali barusan ada orang yang menghubungimu entah itu kakakmu atau Sierra yang ingin menemanimu di tempat seperti ini—itu merupakan alasan yang—aneh. Apapunlah yang bisa kau sebut.
"Ehm, maaf, Nona. Sepertinya Anda menempati tempat saya."
Nah kan, bahkan kau menempati tempat orang lain—meskipun tidak ada sesuatu yang menjadi ciri kalau meja yang ia tempati saat itu reserved. Tanpa banyak basa-basi, ia langsung bangkit dari tempat duduknya. "Sorry kalau aku menempati tempatmu," ujarnya tanpa menoleh sedikitpun ke belakang. Well, sepertinya setelah ia pergi dari tempat duduk ini, ia akan langsung memesan dan mencari tempat duduk yang lainnya. Kau memang bodoh, Montez. Dan sekarang, ia baru mengalihkan pandangannya terhadap orang tersebut. Kau tahu siapa dia?
"Kau?" senyuman sumringah langsung mengembang. Dijahili itu—malah membuatnya merasa aneh. Ingin tertawa, tapi ia tahan. Buat apa coba?
Dia tak punya bakat meramal dengan baik. Dammit.
But yeah, beruntung ia memiliki retina yang masih berjalan dengan baik. Ahaha.. Kau tahu maksudnya kan? Tak mungkin ia menganggap sepasang kekasih yang kira-kira sepuluh langkah lagi akan berpapasan dengan gadis Latin itu—dua orang yang sedang bertengkar. Yang perempuan—rambut pirang kecoklatan dengan manik hijau keabuan yang membuatnya menjadi tambah terlihat sangat cantik (meskipun pada kenyataan, perempuan itu memang cantik, artis mungkin?) memakai jaket tebal berwarna putih tulang yang agak sedikit kontras dengan kulitnya yang kuning langsat. Gadis Asia mungkin? Yang laki-laki—bertubuh atletis, rambut hitam cepak, memiliki warna bola mata biru laut dengan sorotan agak tajam (ia tak mengerti kenapa perempuan menyukai lelaki dengan tatapan tajam—yang menurut Flave mirip setan itu?) dan berpenampilan casual. Serba cokelat, benar-benar sangat kontras dengan kulit lelaki itu yang putih pucat.
Semacam vampire? Mungkin kau tahu artikel Daily Prophet yang membahas kerjasama Kementrian Sihir dengan kumpulan vampir yang bermarkas di Volterra, Italia—pernah membacanya kan? Itu bahkan sempat ia perbincangkan dengan beberapa orang rekan divisinya—Sierra McKannon, bukan Serafina McKelsie yang katanya sekarang mulai meniti karier sebagai model, cih. Gadis itu—yang ternyata sama-sama berasal dari Spanyol—hanya membeberkan berita tersebut, karena ia memang tahu banyak tentang kerjasama itu.
Oh well, ya sudahlah, peduli amat tentang masalah Volturi itu.
Lagi-lagi ia celingukan melihat sekitar jalanan Crimmscott yang oh-my-God-tempat-ini-bahkan-mirip-kuburan ini. Hanya ada satu bus yang lewat di jalan itu dan beberapa sepeda antik berkeliaran disana. Dirinya mencurigai seseorang yang ada di bus itu sedang memperhatikannya. Uh yeah, kau kepedean, Flave. Dan ia sampai lupa kalau ia mau memesan sesuatu di dalam. Nanti saja, toh tadi juga pelayannya datang dan ia menolaknya dengan halus—hanya dengan kata-kata seperti, "Urm.. Nanti saja, aku sedang menunggu seseorang," yang sebenarnya—alasan itu terlalu dibuat-buat. Hey, Flavarel Montez, kau datang kesini sendirian, dengan tujuan menikmati teh yang dihidangkan disini sendirian. Sejak kapan kau menunggu seseorang—kecuali barusan ada orang yang menghubungimu entah itu kakakmu atau Sierra yang ingin menemanimu di tempat seperti ini—itu merupakan alasan yang—aneh. Apapunlah yang bisa kau sebut.
"Ehm, maaf, Nona. Sepertinya Anda menempati tempat saya."
Nah kan, bahkan kau menempati tempat orang lain—meskipun tidak ada sesuatu yang menjadi ciri kalau meja yang ia tempati saat itu reserved. Tanpa banyak basa-basi, ia langsung bangkit dari tempat duduknya. "Sorry kalau aku menempati tempatmu," ujarnya tanpa menoleh sedikitpun ke belakang. Well, sepertinya setelah ia pergi dari tempat duduk ini, ia akan langsung memesan dan mencari tempat duduk yang lainnya. Kau memang bodoh, Montez. Dan sekarang, ia baru mengalihkan pandangannya terhadap orang tersebut. Kau tahu siapa dia?
"Kau?" senyuman sumringah langsung mengembang. Dijahili itu—malah membuatnya merasa aneh. Ingin tertawa, tapi ia tahan. Buat apa coba?
Labels: flave, graduated from hogwarts, kevin, plot
12:58 AM | 0 comments
Be Mine Forever — 1
Plot again—bersama Chajar =)) Dan untuk kesekian kalinya, gw menjadi thread starter di thread yang bersetting di The Windmill Tea Company ini. Eh, tapi serius loh tempat ini ada di Inggris. Tadinya, pengen settingnya di Starbucks =)) Oh, well, jadi kebanyakan ngomong yang engga-engga disini. Pokoknya tunggu deh sampe inti ceritanya—nanti barangkali—nongol *kedip-kedip*
Kesampingkan sejenak semua hal yang mungkin terjadi di Kementrian Sihir—terlebih lagi divisinya sedang mengalami kesibukkan luar biasa—dan beri waktu untuk Flave beristirahat.
Yeah, istirahat. Lepaskan semua penat yang memenuhi seluruh syaraf otakmu dan nikmati udara segar diluar sana—meskipun kau sendiri tahu kalau jalanan London kini agak sedikit tercemar oleh polusi udara yang diakibatkan kendaraan-kendaraan bermotor. Uh oh, dan sejak kapan kau menjadi pengamat lingkungan—Flavarel Allesha Montez? Barangkali sejak dirinya lulus dari Hogwarts—yang menurutnya udaranya cukup bersih—dan kini harus menghadapi banyak waktunya di Kementrian dan dunia Muggle, jadi ia banyak-banyak membandingkan dunia Muggle dengan dunia sihir sana—yang sebetulnya keadaannya sedang sangat terancam dengan adanya You-Know-Who. Ah sudahlah, yang seperti itu jangan dibahas lagi. Kau tahu sendiri kan kalau Flave ingin bersantai sejenak?
Ngomong-ngomong, akhir musim dingin seperti ini kenapa cuacanya agak tidak mendukung ya? Oh, dear, lama-lama kau dipindahkan juga ke Divisi Cuaca. Well, sebenarnya bagaimana Flave tidak bisa mengalihkan pandangannya ke jalanan Crimscott yang agak mulai sepi. Terlihat dari iris cokelatnya, hanya ada satu mobil yang melintas di jalan itu dan kemudian beberapa pejalan kaki. Kedua tangannya berusaha kembali merapatkan jaket tebal warna hitamnya dan merapikan rambutnya yang kini malah agak sedikit lurus. Hmm.. Padahal sewaktu kemarin rambutnya masih biasa saja, tuh, bergelombang dan agak berantakan. Oh, jangan bilang kalau kemarin-kemarin ia sempat memakeover dirinya agar terlihat lebih feminin.
Flave itu—semi-tomboy.
Ia tidak pernah suka make-up sebetulnya. Pantas saja kalau wajahnya bahkan tidak terlalu kotor. Hanya saja mungkin karena pernikahan Potter dan Evans dua tahun—atau tiga sih?—lalu yang mengharuskan ia memakai make-up—tipis, by the way, bayangkan Flave datang dengan dandanan menor dia bakal ditertawai seharian. Hmm.. Ngomong-ngomong soal itu, ia jadi keingatan Sang-hee. Bukannya apa-apa. Kakaknya yang super bawel minta ampun itu katanya mulai naksir Sang-hee. Tapi entahlah bagi perempuan Korea itu sendiri. Dan sekarangpun, kakaknya sedang berjalan-jalan lagi keliling dunia. Tujuannya? Mencari pacar. Gila kan? Sangat.
Bahkan selain itu sebetulnya ia sangat tidak suka memakai perhiasan.
Lah loh, kenapa juga ia masih memakai kalung pemberian entah-dari-siapa itu?
Entahlah, aku suka saja dengan kalung ini.
The Windmill Tea Company, bukan perusahaan teh sih sebetulnya, hanya sebuah kedai teh bernuansa klasik yang sering dikunjungi oleh Mom akhir-akhir ini. Katanya sih, Earl Grey Tea-nya lumayan enak. Ah, coba sajalah. Ia langsung mengambil kursi yang sudah disediakan di luar kedai. Sepertinya asik menikmati teh diluar ketimbang didalam.
Entah kenapa sepertinya ia mendengar suara langkah kaki mendekat padanya. Hanya perasaan atau.. Apa?
Kesampingkan sejenak semua hal yang mungkin terjadi di Kementrian Sihir—terlebih lagi divisinya sedang mengalami kesibukkan luar biasa—dan beri waktu untuk Flave beristirahat.
Yeah, istirahat. Lepaskan semua penat yang memenuhi seluruh syaraf otakmu dan nikmati udara segar diluar sana—meskipun kau sendiri tahu kalau jalanan London kini agak sedikit tercemar oleh polusi udara yang diakibatkan kendaraan-kendaraan bermotor. Uh oh, dan sejak kapan kau menjadi pengamat lingkungan—Flavarel Allesha Montez? Barangkali sejak dirinya lulus dari Hogwarts—yang menurutnya udaranya cukup bersih—dan kini harus menghadapi banyak waktunya di Kementrian dan dunia Muggle, jadi ia banyak-banyak membandingkan dunia Muggle dengan dunia sihir sana—yang sebetulnya keadaannya sedang sangat terancam dengan adanya You-Know-Who. Ah sudahlah, yang seperti itu jangan dibahas lagi. Kau tahu sendiri kan kalau Flave ingin bersantai sejenak?
Ngomong-ngomong, akhir musim dingin seperti ini kenapa cuacanya agak tidak mendukung ya? Oh, dear, lama-lama kau dipindahkan juga ke Divisi Cuaca. Well, sebenarnya bagaimana Flave tidak bisa mengalihkan pandangannya ke jalanan Crimscott yang agak mulai sepi. Terlihat dari iris cokelatnya, hanya ada satu mobil yang melintas di jalan itu dan kemudian beberapa pejalan kaki. Kedua tangannya berusaha kembali merapatkan jaket tebal warna hitamnya dan merapikan rambutnya yang kini malah agak sedikit lurus. Hmm.. Padahal sewaktu kemarin rambutnya masih biasa saja, tuh, bergelombang dan agak berantakan. Oh, jangan bilang kalau kemarin-kemarin ia sempat memakeover dirinya agar terlihat lebih feminin.
Flave itu—semi-tomboy.
Ia tidak pernah suka make-up sebetulnya. Pantas saja kalau wajahnya bahkan tidak terlalu kotor. Hanya saja mungkin karena pernikahan Potter dan Evans dua tahun—atau tiga sih?—lalu yang mengharuskan ia memakai make-up—tipis, by the way, bayangkan Flave datang dengan dandanan menor dia bakal ditertawai seharian. Hmm.. Ngomong-ngomong soal itu, ia jadi keingatan Sang-hee. Bukannya apa-apa. Kakaknya yang super bawel minta ampun itu katanya mulai naksir Sang-hee. Tapi entahlah bagi perempuan Korea itu sendiri. Dan sekarangpun, kakaknya sedang berjalan-jalan lagi keliling dunia. Tujuannya? Mencari pacar. Gila kan? Sangat.
Bahkan selain itu sebetulnya ia sangat tidak suka memakai perhiasan.
Lah loh, kenapa juga ia masih memakai kalung pemberian entah-dari-siapa itu?
Entahlah, aku suka saja dengan kalung ini.
The Windmill Tea Company, bukan perusahaan teh sih sebetulnya, hanya sebuah kedai teh bernuansa klasik yang sering dikunjungi oleh Mom akhir-akhir ini. Katanya sih, Earl Grey Tea-nya lumayan enak. Ah, coba sajalah. Ia langsung mengambil kursi yang sudah disediakan di luar kedai. Sepertinya asik menikmati teh diluar ketimbang didalam.
Entah kenapa sepertinya ia mendengar suara langkah kaki mendekat padanya. Hanya perasaan atau.. Apa?
Labels: flave, graduated from hogwarts, kevin, plot
as written on; Friday, April 3, 2009
6:23 PM | 0 comments
Winter's Wind [Plot Terputus] – 2
Apakah kau masih ingat—terutama yang sudah mengalami masa puber—bagaimana rasanya menjadi anak-anak yang penuh dengan keceriaan dan kebahagiaan?
Flave mematri semua memori masa kecilnya dan masih tetap utuh sampai sekarang. Waktu Flave masih dengan cerianya bermain lempar bola salju atau membuat boneka salju atau menyalakan api unggun dan segala macam, semua yang berbau musim dingin. Angin berhembus sedikit lebih kencang daripada sebelumnya dan mengibarkan rambutnya seperti bendera yang baru saja dikibarkan. Tangannya memegang segenggam bola salju yang kalau ada seseorang lagi disini akan langsung dia lempar tepat didepan mukanya. Atau mungkin saja dibokongnya, tinggal pilih saja sesuka hati. Tapi sayang, dia hanya disini sendiri. Ia tidak terlalu memikirkan bila Nano datang kesini dengan cara yang tidak biasa—melempar bola salju atau mencubit pipinya atau memberi kejutan seperti di Aula Depan musim panas lalu. Sekotak chocochip cookies yang diberikan Nano masih sisa banyak dikamarnya. Dikira Flave ia bakal mendapatkan Permen Rasa Bertie Botts rasa kotoran Troll. Huek! Menjijikan.
“—dan tahu tidak? Sebenarnya kau tak cocok sekolah disini.”
McKelsie menyebalkan.
Biar kudefinisikan siapa itu Serafina McKelsie dan bagaimana sifatnya sehingga membuatnya terlihat menyebalkan dimata Flave. Dia itu kecentilan, fashion-addict—salah satu anak yang menyetujui perkataan senior Zeel tentang majalah fashion itu, perfeksionis, dan egois. Namun dari sisi baiknya, anak itu cukup perhatian terhadap orang lain dan senantiasa mebantu orang lain. Tipe Hufflepuff sejati atau apa yah? Dan kau curiga kan kenapa si Serafina ini selalu menyetujui apapun kata-kata senior Zeel padanya? Ya, tentu saja. Dia naksir berat sama senior itu. Dan Flave sama sekali tidak menyangka kalau anak itu menyukai senior yang sudah lulus dari Hogwarts—yang berarti tidak ada lagi neraka bagi Flave. That’s why she hates Serafina McKelsie so much. Selain karena rambut blonde keritingnya yang bisa membuat Flave sedikit bergidik.
"Long time no see, Miss Montez."
Suara anak laki-laki. Sedikit berat, memungkinan bahwa yang datang itu bukanlah Nano. Lagipula, tahu sendiri kan bagaimana suara Nano yang belum juga puber itu? Masih kekanak-kanakkan. Dan apalagi, Nano tidak mungkin memanggilnya Miss Montez—kecuali kalau naluri jahilnya mulai keluar, seperti akan melemparinya bola salju dan bermain bersama. Kemudian lelaki itu duduk disampingnya. Beralas salju, menyenangkan. Ia tak sendiri sekarang. Flave menoleh sedikit dan melihat raut wajah anak laki-laki itu. “Winchester? Yeah, long time no see..” ujarnya singkat sambil memeluk lututnya. Sedikit kedinginan, walaupun sudah memakai jaket tebal. Pertama kali bertemu dengan Winchester.. Bayangan itu melintas lagi seperti burung yang bermigrasi ke selatan. Di kelas kosong, rite? Waktu itu ia sempat bertemu juga dengan Atsuko dan senior Marie Ann yang juga sedang berduaan.
Iya, waktu itu Flave menangis cuma gara-gara melihat wajah Atsuko yang mirip dengan Aurel—tak perlu dibahas lagi siapa orang itu. “Baru saja keluar dari kandang, eh?” guraunya mencairkan suasana. Ia pun langsung terkekeh sedikit. Kapan lagi bisa seceria ini diusia enam belas tahun?
Flave mematri semua memori masa kecilnya dan masih tetap utuh sampai sekarang. Waktu Flave masih dengan cerianya bermain lempar bola salju atau membuat boneka salju atau menyalakan api unggun dan segala macam, semua yang berbau musim dingin. Angin berhembus sedikit lebih kencang daripada sebelumnya dan mengibarkan rambutnya seperti bendera yang baru saja dikibarkan. Tangannya memegang segenggam bola salju yang kalau ada seseorang lagi disini akan langsung dia lempar tepat didepan mukanya. Atau mungkin saja dibokongnya, tinggal pilih saja sesuka hati. Tapi sayang, dia hanya disini sendiri. Ia tidak terlalu memikirkan bila Nano datang kesini dengan cara yang tidak biasa—melempar bola salju atau mencubit pipinya atau memberi kejutan seperti di Aula Depan musim panas lalu. Sekotak chocochip cookies yang diberikan Nano masih sisa banyak dikamarnya. Dikira Flave ia bakal mendapatkan Permen Rasa Bertie Botts rasa kotoran Troll. Huek! Menjijikan.
“—dan tahu tidak? Sebenarnya kau tak cocok sekolah disini.”
McKelsie menyebalkan.
Biar kudefinisikan siapa itu Serafina McKelsie dan bagaimana sifatnya sehingga membuatnya terlihat menyebalkan dimata Flave. Dia itu kecentilan, fashion-addict—salah satu anak yang menyetujui perkataan senior Zeel tentang majalah fashion itu, perfeksionis, dan egois. Namun dari sisi baiknya, anak itu cukup perhatian terhadap orang lain dan senantiasa mebantu orang lain. Tipe Hufflepuff sejati atau apa yah? Dan kau curiga kan kenapa si Serafina ini selalu menyetujui apapun kata-kata senior Zeel padanya? Ya, tentu saja. Dia naksir berat sama senior itu. Dan Flave sama sekali tidak menyangka kalau anak itu menyukai senior yang sudah lulus dari Hogwarts—yang berarti tidak ada lagi neraka bagi Flave. That’s why she hates Serafina McKelsie so much. Selain karena rambut blonde keritingnya yang bisa membuat Flave sedikit bergidik.
"Long time no see, Miss Montez."
Suara anak laki-laki. Sedikit berat, memungkinan bahwa yang datang itu bukanlah Nano. Lagipula, tahu sendiri kan bagaimana suara Nano yang belum juga puber itu? Masih kekanak-kanakkan. Dan apalagi, Nano tidak mungkin memanggilnya Miss Montez—kecuali kalau naluri jahilnya mulai keluar, seperti akan melemparinya bola salju dan bermain bersama. Kemudian lelaki itu duduk disampingnya. Beralas salju, menyenangkan. Ia tak sendiri sekarang. Flave menoleh sedikit dan melihat raut wajah anak laki-laki itu. “Winchester? Yeah, long time no see..” ujarnya singkat sambil memeluk lututnya. Sedikit kedinginan, walaupun sudah memakai jaket tebal. Pertama kali bertemu dengan Winchester.. Bayangan itu melintas lagi seperti burung yang bermigrasi ke selatan. Di kelas kosong, rite? Waktu itu ia sempat bertemu juga dengan Atsuko dan senior Marie Ann yang juga sedang berduaan.
Iya, waktu itu Flave menangis cuma gara-gara melihat wajah Atsuko yang mirip dengan Aurel—tak perlu dibahas lagi siapa orang itu. “Baru saja keluar dari kandang, eh?” guraunya mencairkan suasana. Ia pun langsung terkekeh sedikit. Kapan lagi bisa seceria ini diusia enam belas tahun?
6:20 PM | 0 comments
Winter's Wind [Plot Terputus] – 1
Thanks again buat Chajar yang ngajakin ngeplot. Buat yang satu ini sih, ceritanya mereka kan udah lama gak ketemu lagi. Akhirnya mereka saling ketemuan juga setelah pas kelas satu tahun lalu ketemuan gak sengaja di kelas kosong. Lagi-lagi plot terputus.. *getok Chajar*
Musim dingin.
Flave hanya berdiri mematung melihat butiran-butiran salju jatuh menggapai bumi. Apapun dapat kau lakukan dengan butiran salju tersebut. Membuat boneka salju atau bahkan bertanding bola salju. Menyenangkan. Sama menyenangkannya saat Flave belum masuk Hogwarts. Kemah musim dingin memang asik. Dengan sahabat Muggle-nya yang tidak akan pernah ia temukan di Hogwarts—jujur, Flave kangen sekolah Muggle. Ia jadi merasa tidak nyaman sekolah di Hogwarts. Terutama dengan kedisiplinan waktu. Agak menyebalkan, meskipun itu bisa mempengaruhi pola hidup Flave. Teman-teman asramanya juga menyenangkan sih, meskipun sekarang nampaknya mereka jarang terlihat lagi. Ditelan bumi, eh? Terutama yang satu angkatan dengannya. Apa mungkin penglihatan Flave mulai rabun? Tidak. Ia kini memakai kacamata dengan frame berwarna silver minus satu setengah.
Halaman. Satu-satunya tempat dimana kau bisa menikmati salju dengan damai.
Ia hanya memakai celana jins panjang, t-shirt berwarna coklat muda, dan jaket tebal berwarna biru. Tidak terlalu cocok, eh? Ya iyalah, Flave bukan pemerhati ataupun penyuka dunia fashion. Tidak seperti yang dikatakan Senior Zeel tahun lalu. Untunglah orang menyebalkan itu langsung pergi dari Hogwarts. Kalau tidak yah, hari ini pasti ia disuruh membaca tumpukan majalah fashion darinya. Rambutnya kini sedikit berantakan—sengaja dia berantakin sih. Tapi kalau dilihat dari jauh, mirip sedikit sama orang sinting. Sebodo ah. Ini kan kesukaannya, bukan kesukaan orang lain. Flave merasa heran dengan teman satu asramanya yang suka mengomentarinya cantik atau apalah. Memangnya Flave itu cantik yah? Tidak. Dia terlihat bego sekarang. Sama seperti yang dikatakan seorang teman seangkatannya kemarin.
“Dear, penampilanmu berantakan. Kenapa sih? Seharusnya dari kemarin kau masuk rumah sakit jiwa saja—”
Dan itulah saat terakhir kalinya ia mengobrol dengan Serafina McKelsie.
Disinilah ia merasa lega. Ditemani dengan tumpukan salju yang bisa dibuat apa saja sesuka Flave. Untunglah belum turun salju lagi. Parahnya, ia tidak memakai sarung tangan, jadinya telapak tangannya terasa beku sekarang. Oh, Flave, kau benar-benar bodoh sekarang. Ia pun langsung duduk dihamparan salju dengan santai. Tersenyum santai begitu tubuhnya menyentuh salju yang lembut bagai kapas. Ini memang tidak senyaman tempat tidurnya di Chelsea dan ini tidak seburuk ranjang dikamarnya sekarang. Tapi sekarang ia merasa seperti anak kecil lagi. “Haa..” gumamnya. Rambutnya yang tergerai berkibar rendah begitu udara menghembus dengan pelan. Benar-benar musim salju paling santai di dunia—pikir Flave.
Err.. Sebenarnya musim dingin itu tidak identik dengan salju kan yah?
Musim dingin.
Flave hanya berdiri mematung melihat butiran-butiran salju jatuh menggapai bumi. Apapun dapat kau lakukan dengan butiran salju tersebut. Membuat boneka salju atau bahkan bertanding bola salju. Menyenangkan. Sama menyenangkannya saat Flave belum masuk Hogwarts. Kemah musim dingin memang asik. Dengan sahabat Muggle-nya yang tidak akan pernah ia temukan di Hogwarts—jujur, Flave kangen sekolah Muggle. Ia jadi merasa tidak nyaman sekolah di Hogwarts. Terutama dengan kedisiplinan waktu. Agak menyebalkan, meskipun itu bisa mempengaruhi pola hidup Flave. Teman-teman asramanya juga menyenangkan sih, meskipun sekarang nampaknya mereka jarang terlihat lagi. Ditelan bumi, eh? Terutama yang satu angkatan dengannya. Apa mungkin penglihatan Flave mulai rabun? Tidak. Ia kini memakai kacamata dengan frame berwarna silver minus satu setengah.
Halaman. Satu-satunya tempat dimana kau bisa menikmati salju dengan damai.
Ia hanya memakai celana jins panjang, t-shirt berwarna coklat muda, dan jaket tebal berwarna biru. Tidak terlalu cocok, eh? Ya iyalah, Flave bukan pemerhati ataupun penyuka dunia fashion. Tidak seperti yang dikatakan Senior Zeel tahun lalu. Untunglah orang menyebalkan itu langsung pergi dari Hogwarts. Kalau tidak yah, hari ini pasti ia disuruh membaca tumpukan majalah fashion darinya. Rambutnya kini sedikit berantakan—sengaja dia berantakin sih. Tapi kalau dilihat dari jauh, mirip sedikit sama orang sinting. Sebodo ah. Ini kan kesukaannya, bukan kesukaan orang lain. Flave merasa heran dengan teman satu asramanya yang suka mengomentarinya cantik atau apalah. Memangnya Flave itu cantik yah? Tidak. Dia terlihat bego sekarang. Sama seperti yang dikatakan seorang teman seangkatannya kemarin.
“Dear, penampilanmu berantakan. Kenapa sih? Seharusnya dari kemarin kau masuk rumah sakit jiwa saja—”
Dan itulah saat terakhir kalinya ia mengobrol dengan Serafina McKelsie.
Disinilah ia merasa lega. Ditemani dengan tumpukan salju yang bisa dibuat apa saja sesuka Flave. Untunglah belum turun salju lagi. Parahnya, ia tidak memakai sarung tangan, jadinya telapak tangannya terasa beku sekarang. Oh, Flave, kau benar-benar bodoh sekarang. Ia pun langsung duduk dihamparan salju dengan santai. Tersenyum santai begitu tubuhnya menyentuh salju yang lembut bagai kapas. Ini memang tidak senyaman tempat tidurnya di Chelsea dan ini tidak seburuk ranjang dikamarnya sekarang. Tapi sekarang ia merasa seperti anak kecil lagi. “Haa..” gumamnya. Rambutnya yang tergerai berkibar rendah begitu udara menghembus dengan pelan. Benar-benar musim salju paling santai di dunia—pikir Flave.
Err.. Sebenarnya musim dingin itu tidak identik dengan salju kan yah?
6:13 PM | 0 comments
One Lifetime [Plot Terputus] – 2
Emm.. Ngomong-ngomong, Flave kelihatan bodoh tidak sih dengan mengikuti kata hatinya seperti tadi?
"Yeah, aku Kevin. Memangnya kau lupa namaku, eh?"
Dan yang tadi, pertanyaan yang sangat bodoh. Ya ampun.. Demi jenggot Merlin yang kusut, memangnya kau pikir dia itu siapa, dear? Jangan bilang kalau kau malah memikirkan si psycho gimbal yang bernama Elel itu. Bah, mati saja kalau begitu, dear. Buat apa memikirkan laki-laki yang mengagumimu sebagai seorang 'korban selanjutnya' itu? Buat apa memikirkan laki-laki yang Flave jamin nantinya akan masuk neraka itu? For the God's Sake! Manik coklatnya hanya tertuju pada mata abu lelaki yang ia panggil dengan nama Kevin itu. Bisa dikatakan, Flave suka dengan tatapan teduhnya itu. Apalagi dengan seringaian manis yang terkembang dibibir laki-laki yang hampir sepantar dengannya itu. OKE, itu bukan senyuman sadis milik Elel, INGAT ITU! —ujarnya merutuki dirinya sendiri. "Err.. Bukannya lupa sih"—so?—"hanya saja ya.. Begitulah," ujarnya polos sambil menggaruk kepalanya. Bukannya gatal, cuma bingung sendiri. Flave bodoh.
Satu hal yang sepertinya menarik perhatian Kevin adalah kalung yang ia pakai saat ini. Dari si 'Just someone' yang Flave sendiri belum tahu siapa orangnya. Ah, dasar. Kenapa tidak pakai nama asli saja sekalian? Dasar silly admirer! Flave menggigit bagian bawah bibirnya ketika mata Kevin yang sepertinya masih tertuju pada kalung yang Flave akui sendiri sangat cantik. Yang terjadi malah Flave langsung mesem-mesem sendiri melihatnya. "Menurutmu ini.." belum sempat kata-katanya dilanjutkan, Kevin sudah memuji kalung yang ia pakai. Bagus sih memang. Makanya Flave sendiri juga tersanjung ketika pujian terlontar dari lidahnya. "Thanks, by the way. Tidak menyangka kalau ada yang berpikiran sama denganku. Kalung ini memang sangat bagus," akunya dengan nada rendah. "Dari siapa?" sambarnya tiba-tiba. Yah, dia sendiri juga tidak tahu siapa yang memberikan kalung ini. Masa harus berbohong kalau ini dari mantan tunangannya—yang Flave sumpahi akan mampus dalam beberapa hari lagi, INGAT ITU!—padahal Flave sangat tidak menginginkan hadiah ini darinya? Bahkan tulisan tangannya pun bukan khasnya Elel.
"Entahlah dari siapa. Secret admirer mungkin. Habisnya aku baru menerima surat hari ini.. Yeah, aku sendiri lupa isi suratnya apa. Pokoknya yang jelas terakhirnya ia menyuruhku untuk berjalan kemana saja mengikuti kata hatiku yang bisa kubilang aku terlihat bodoh dengan mengikuti kata-kata itu. Nah sekarang aku sudah mengikuti kata hatiku dan"—well, Flave, apa sudah cukup dengan curhat colongannya?—"maaf malah jadi curhat. Apakah menurutmu aku cerewet?" tanyanya sembari tersenyum malu. Memang sih, Kevin bukan sahabatnya paling dekat atau apalah itu namanya, tapi tidak ada salahnya kan untuk menceritakan ini padanya? Seharusnya sih ini lebih enak diceritakan pada teman sekamarnya, bukannya kepada seseorang yang belum cukup dekat padamu dan asal bicara semaunya. Tidak enak rasanya. Nah nah nah, pertanyaannya sekarang.. Flave suda mengikuti kata hatinya dan disini ia bertemu dengan Kevin Winchester, dan—
—apakah dia yang mengirimkan surat dan kalung itu padanya? Big question. Soalnya Flave menaruh curiga padanya. Hmm..
"Yeah, aku Kevin. Memangnya kau lupa namaku, eh?"
Dan yang tadi, pertanyaan yang sangat bodoh. Ya ampun.. Demi jenggot Merlin yang kusut, memangnya kau pikir dia itu siapa, dear? Jangan bilang kalau kau malah memikirkan si psycho gimbal yang bernama Elel itu. Bah, mati saja kalau begitu, dear. Buat apa memikirkan laki-laki yang mengagumimu sebagai seorang 'korban selanjutnya' itu? Buat apa memikirkan laki-laki yang Flave jamin nantinya akan masuk neraka itu? For the God's Sake! Manik coklatnya hanya tertuju pada mata abu lelaki yang ia panggil dengan nama Kevin itu. Bisa dikatakan, Flave suka dengan tatapan teduhnya itu. Apalagi dengan seringaian manis yang terkembang dibibir laki-laki yang hampir sepantar dengannya itu. OKE, itu bukan senyuman sadis milik Elel, INGAT ITU! —ujarnya merutuki dirinya sendiri. "Err.. Bukannya lupa sih"—so?—"hanya saja ya.. Begitulah," ujarnya polos sambil menggaruk kepalanya. Bukannya gatal, cuma bingung sendiri. Flave bodoh.
Satu hal yang sepertinya menarik perhatian Kevin adalah kalung yang ia pakai saat ini. Dari si 'Just someone' yang Flave sendiri belum tahu siapa orangnya. Ah, dasar. Kenapa tidak pakai nama asli saja sekalian? Dasar silly admirer! Flave menggigit bagian bawah bibirnya ketika mata Kevin yang sepertinya masih tertuju pada kalung yang Flave akui sendiri sangat cantik. Yang terjadi malah Flave langsung mesem-mesem sendiri melihatnya. "Menurutmu ini.." belum sempat kata-katanya dilanjutkan, Kevin sudah memuji kalung yang ia pakai. Bagus sih memang. Makanya Flave sendiri juga tersanjung ketika pujian terlontar dari lidahnya. "Thanks, by the way. Tidak menyangka kalau ada yang berpikiran sama denganku. Kalung ini memang sangat bagus," akunya dengan nada rendah. "Dari siapa?" sambarnya tiba-tiba. Yah, dia sendiri juga tidak tahu siapa yang memberikan kalung ini. Masa harus berbohong kalau ini dari mantan tunangannya—yang Flave sumpahi akan mampus dalam beberapa hari lagi, INGAT ITU!—padahal Flave sangat tidak menginginkan hadiah ini darinya? Bahkan tulisan tangannya pun bukan khasnya Elel.
"Entahlah dari siapa. Secret admirer mungkin. Habisnya aku baru menerima surat hari ini.. Yeah, aku sendiri lupa isi suratnya apa. Pokoknya yang jelas terakhirnya ia menyuruhku untuk berjalan kemana saja mengikuti kata hatiku yang bisa kubilang aku terlihat bodoh dengan mengikuti kata-kata itu. Nah sekarang aku sudah mengikuti kata hatiku dan"—well, Flave, apa sudah cukup dengan curhat colongannya?—"maaf malah jadi curhat. Apakah menurutmu aku cerewet?" tanyanya sembari tersenyum malu. Memang sih, Kevin bukan sahabatnya paling dekat atau apalah itu namanya, tapi tidak ada salahnya kan untuk menceritakan ini padanya? Seharusnya sih ini lebih enak diceritakan pada teman sekamarnya, bukannya kepada seseorang yang belum cukup dekat padamu dan asal bicara semaunya. Tidak enak rasanya. Nah nah nah, pertanyaannya sekarang.. Flave suda mengikuti kata hatinya dan disini ia bertemu dengan Kevin Winchester, dan—
—apakah dia yang mengirimkan surat dan kalung itu padanya? Big question. Soalnya Flave menaruh curiga padanya. Hmm..
6:09 PM | 0 comments
One Lifetime [Plot Terputus] – 1
Pertama, makasih banget buat Chajar yang udah gw ajakin ngeplot. Nah, kenapa disebut plot terputus? Soalnya plot ini belom selesai banget. Jadi, yeah, ceritanya ini Flave sama Kevin jadi mulai agak lumayan deketan lah. Ah bingung gw. Baca ajah..
Emm.. Ingatkah kau terakhir kali mendapat surat yang dikirim lewat burung hantu, Flave? Mungkin beberapa tahun yang lalu dan Flave lupa isi dari surat tersebut. Paling hanya sekedar ucapan selamat ulang tahun dari Mom atau siapapun. Dan tanpa hadiah. Tidak apa-apa sih sebenarnya, hanya saja.. Ah, untuk apa dibahas? Apa karena kalung yang dipakai oleh si burung hantu yang mengantar surat padanya itu diperuntukkan padanya? Yeah, for your information.. Flave sendiri tidak menyangka kalau ia akan diberikan sesuatu yang sangat mengejutkan. Bukan karena kalungnya yang sangat cantik, tetapi pengirimnya. Jadi Flave sekarang ini tanpa disadari memiliki seorang stalker atau si burung hantu yang salah kirim? Oh well, Flave dear. Jangan memikirkan hal yang buruk dulu.
Sekarang Flave sudah berada diluar kastil. Puas kau sekarang, eh? Ia dengan nekat tidak merapatkan jubahnya, meskipun udara sedang dingin-dinginnya. Salju memang tidak turun hari ini, kawan. Tapi siapa sangka kalau dimana-mana sudah tertutup oleh tumpukan benda putih cantik yang bentuknya mirip kapas itu dan bisa dijadikan boneka itu? Bahkan Flave sendiri juga tidak menyangka. Memangnya tadi malam ada salju turun? Kenapa tidak melihatnya keluar jendela? Oh ya, jawabannya mungkin cukup jelas. Asrama Hufflepuff berada di ruang bawah tanah yang minim cahaya dan tidak ada jendela—sepertinya—dan jam malam. Yang boleh berkeliaran hanya prefek dan beberapa guru saja barangkali. Sembari mengayunkan langkah kakinya sesuai keinginan hati—hei, memang seperti itu kan yang dia minta dalam suratnya?—Flave mengeluarkan kalung tadi.
Dengan suksesnya, lehernya kini makin terlihat cantik dengan kalung tersebut. Cantik. Bagaikan malaikat turun dari langit—kata-kata gombal dari Elel, sebenarnya. Dan kakinya kini berhenti mengayun. Well, sebenarnya tidak ada yang spesial dari tempat ini. Memangnya kapan sih terakhir kali ia kesini? Sebut saja Flave pelupa, karena ia sekarang memang lupa. Apakah si just-someone ada disini sekarang? Entahlah, mungkin tak ada yang tahu. Kemudian, matanya menangkap sosok yang mungkin sangat tidak asing baginya. Seseorang yang mulai dekat dengannya akhir-akhir ini. Tapi.. Eh, anginnya memang sedikit dingin disini. Mau menyapanya, eh, Flave dear? “Disitu”—baiklah, sejujurnya Flave sedikit ragu dengan sosok tersebut—“kau, Kevin?”
A gentle word like a spark of light illuminates my soul...
And as each sound goes deeper...
It's you, which makes me whole...
Wear this—if you like it. Meet me; just walk alone and slowly on this afternoon. Just follow what your heart saying, and you’ll know where I am.
Just—someone
Emm.. Ingatkah kau terakhir kali mendapat surat yang dikirim lewat burung hantu, Flave? Mungkin beberapa tahun yang lalu dan Flave lupa isi dari surat tersebut. Paling hanya sekedar ucapan selamat ulang tahun dari Mom atau siapapun. Dan tanpa hadiah. Tidak apa-apa sih sebenarnya, hanya saja.. Ah, untuk apa dibahas? Apa karena kalung yang dipakai oleh si burung hantu yang mengantar surat padanya itu diperuntukkan padanya? Yeah, for your information.. Flave sendiri tidak menyangka kalau ia akan diberikan sesuatu yang sangat mengejutkan. Bukan karena kalungnya yang sangat cantik, tetapi pengirimnya. Jadi Flave sekarang ini tanpa disadari memiliki seorang stalker atau si burung hantu yang salah kirim? Oh well, Flave dear. Jangan memikirkan hal yang buruk dulu.
Sekarang Flave sudah berada diluar kastil. Puas kau sekarang, eh? Ia dengan nekat tidak merapatkan jubahnya, meskipun udara sedang dingin-dinginnya. Salju memang tidak turun hari ini, kawan. Tapi siapa sangka kalau dimana-mana sudah tertutup oleh tumpukan benda putih cantik yang bentuknya mirip kapas itu dan bisa dijadikan boneka itu? Bahkan Flave sendiri juga tidak menyangka. Memangnya tadi malam ada salju turun? Kenapa tidak melihatnya keluar jendela? Oh ya, jawabannya mungkin cukup jelas. Asrama Hufflepuff berada di ruang bawah tanah yang minim cahaya dan tidak ada jendela—sepertinya—dan jam malam. Yang boleh berkeliaran hanya prefek dan beberapa guru saja barangkali. Sembari mengayunkan langkah kakinya sesuai keinginan hati—hei, memang seperti itu kan yang dia minta dalam suratnya?—Flave mengeluarkan kalung tadi.
Dengan suksesnya, lehernya kini makin terlihat cantik dengan kalung tersebut. Cantik. Bagaikan malaikat turun dari langit—kata-kata gombal dari Elel, sebenarnya. Dan kakinya kini berhenti mengayun. Well, sebenarnya tidak ada yang spesial dari tempat ini. Memangnya kapan sih terakhir kali ia kesini? Sebut saja Flave pelupa, karena ia sekarang memang lupa. Apakah si just-someone ada disini sekarang? Entahlah, mungkin tak ada yang tahu. Kemudian, matanya menangkap sosok yang mungkin sangat tidak asing baginya. Seseorang yang mulai dekat dengannya akhir-akhir ini. Tapi.. Eh, anginnya memang sedikit dingin disini. Mau menyapanya, eh, Flave dear? “Disitu”—baiklah, sejujurnya Flave sedikit ragu dengan sosok tersebut—“kau, Kevin?”
