as written on; Friday, April 3, 2009

6:25 PM | 0 comments

Battle Royale – 1

Winter 1978, 09:03 A.M.

Bersalju—kata pertama yang melintas dipikiran Flave ketika bangun tadi.

Percaya atau tidak, Flave hanya ingin bergerumul dengan selimut hangatnya ketika matanya terbuka. Sungguh, pagi ini rasanya terlalu dingin untuk seorang Flavarel Montez. Err—apa dia sedang sakit demam atau bagaimana? Tidak biasanya gadis berkulit coklat itu tidak gentar menghadapi musim salju—yeah, meskipun dinginnya bisa melebihi minus sepuluh derajat celcius. Tadinya sih Flave hampir tidak bisa terbangun dari tempat tidurnya saking dinginnya udara pagi itu. Dan itu terbukti dengan ujung jari kakinya yang hampir membeku ketika telapak kakinya menyentuh permukaan lantai kamar anak perempuan Hufflepuff kelas enam. Tubuhnya langsung mengejang seketika dan hasratnya langsung memuncak untuk menghangatkan diri di depan perapian di ruang rekreasi asrama. Sudah berapa kali Flave menggosokkan kedua telapak tangannya agar merasa hangat. Tetapi itu sama saja. Dan yang membuat Flave nekat ingin bangun pagi ini—meskipun ia juga melihat anak-anak kelas enam lainnya yang masih memberontak ketika bangun, aneh—adalah—

—sebuah surat. Tanpa tanda tangan.

Surat kaleng. Haha.. Kapan sih terakhir kali dia mendapat surat seperti ini? Oh ya, terakhir kali. Yang Flave curigai kalau pengirimnya adalah Elel. Gila saja itu anak. Sudah berapa kali Flave bilang pada laki-laki berambut gimbal itu kalau ia tidak mau diganggu barang sedetikpun dan itu percuma karena Elel terlalu sering mengirimnya surat kaleng. Tindakan bodoh, rite? Dan sekarang ada lagi. Sebenarnya Flave masih curiga kalau mantan tunangannya itu yang lagi-lagi mengirim surat yang tidak bertanda tangan itu padanya. Dan nyatanya—persepsi itu agaknya salah besar dimata Flave. Tulisannya tidak mirip dengan Elel—huruf sambung, tapi lebih mirip dengan rumput—ataupun anak buahnya yang kabarnya sedang dekat dengan Nano—rapi, namun dibawahnya seperti ada garis bawah. Pendapat bahwa si anak buah ini tidak bisa menulis dengan benar-benar rapi. Ah tolol. Dan sebenarnya itu lebih ditujukan kepada para pemain Quidditch—melihat bahwa isi surat itu dipenuhi dengan aksi-aksi yang terjadi di lapangan hijau terbuka yang ada di Hogwarts—“angin menerpa wajah kalian yang tengah melesat di atas sapu kalian, mencium aroma rumput hijau dari ketinggian yang tidak dapat dicapai dari tribun penonton, menggiring si bola merah ke salah satu tiang yang terpancang, melihat si bola hitam menghempas ganas ke arah lawan, dan si bola emas bersayap berhasil jatuh ke dalam genggaman tangan kalian,”—dan Flave bukan anggota pemain Quidditch. Ia hanya menonton sekali ketika—

—Hufflepuff kalah telak—

—oleh Slytherin. 210 – 0.

Baiklah, sebaiknya jangan mengingat itu lagi. Tentang kekalahan yang telak bagi Hufflepuff—diakhiri dengan permainan sempurna senior Pavarell—Flave agak terpukul sih. Sekaligus sedikit kecewa. Kecewa menjadi seorang Hufflepuff. He? Kecewa? Haha.. Itu bercanda kok. Sejujurnya Flave masih sangat bangga karena telah menjadi bagian dari keluarga musang yang terbilang sangat kompak ini. Flave bangga berasrama Hufflepuff—meskipun ‘bersarang’ di ruang bawah tanah—kemudian Flave bangga memiliki teman-teman yang bisa dibilang sangat tipikal Hufflepuff—baik, ramah, sopan, pekerja keras, dan segala macam—dan Flave bangga memiliki kakak serta adik kelas yang menurut Flave terbaik. Oke, cukup meracaunya. Kini Flave mengenakan jaket hitam—favoritnya sekarang—dan syal kuning pucat. Tentu saja ia memakai celana panjang hangat dan sepatu boots—berjaga-jaga kalau nanti dia bakal tergelincir saat dalam perjalanannya ke lapangan Quidditch. Arloji biru muda yang melingkar di pergelangan tangan kanannya menunjukkan waktu 09:21 A.M. yang berarti masih ada sekitar 38 menit sekian detik sampai tepat pukul sepuluh pagi—waktu yang telah ditentukan di surat itu.

Yeah, ada sekitar—hmm—sepuluh orang atau lebih yang sudah berkumpul di lapangan itu. Mizu tengah menaiki Nimbus-nya yang kata Dad sangat cocok untuk Flave kalau saja dia masuk tim Quidditch. Ah, sorry Dad. Ternyata anakmu ini tidak bernasib sama denganmu beberapa tahun yang lalu. Banyak juga adik kelas yang sudah kesini. Al-Kazaf, Verity, Syadiran, Cheryl, McCafferty—Flave pernah hampir menyebutnya koper, dan Hale berkumpul. Yang satu angkatan dengannya hanya ada Mizu—masih setia menaiki sapu terbangnya—dan Natt. Dan yang baru saja ia lihat ada senior Naoko dan senior Evania. Err—kemana para badgers yang lain? Masih bergelung di tempat tidur, eh? Dan mengutip sedikit perkataan senior Evania—katanya ada pertandingan Quidditch antara para junior dengan senior? Jadi ini maksud yang ada di surat kaleng itu ya? Pertandingan Quidditch yang entah dikoordinir oleh siapa—yang jelas sepertinya bukan dari pihak sekolah, kan?—antara Hufflepuff senior dengan Hufflepuff junior. Kedengaran seru, tapi apa Flave mau ikut bermain? Padahal ia bukan pemain Quidditch. “Hey, semua!” sapanya hangat. Seperti coklat hangat yang ia minum sebelum kesini. “Ada acara apa ini?” tanyanya pura-pura tidak tahu. Garing. Seperti chocochip cookies pemberian Nano yang masih sisa setengah.

Labels: , ,

flavarel montéz's theme song


introduction

Flavarel Allesha Montéz
— Hufflepuff, 1980 Magic Training Center Student —
Madrid, October 19th, 1961. 19 years old
Halfblood, AB blood type. 178 cm / 58 kg
Hufflepuff-ish, loves her necklaces, hates darkness
| Visualization: Vanessa Anne Hudgens |


disclaimer
semua yang ditulis disini hanyalah sebagai pengembang dari chara flavarel montez yang dimainkan di indohogwarts.
hanya fiktif belaka dan tidak akan ada eksistensinya di dunia nyata.
kalaupun memiliki kesamaan nama, tempat, dan lain-lainnya, itu semua hanya kebetulan.

links
the other blog in-chara
aneela stefania davidson
duske, janette, and diaconu
haruhi kumayuki
inez allegria hameline
mizuhime winterfield
nathan k. harvarth
rigel du noir
satoshi takayama
steinhart and gladstone
yuka ueda
yusuke sawada
the rpg forum
indohogwarts
the puppet mistress
dhilla's blog
the designer
designer's portfolio

archives