as written on; Friday, April 3, 2009
6:27 PM | 0 comments
Battle Royale – 2
Seandainya Nano kesini membawa chocochip cookies itu lagi.
Sebetulnya ia tak mengerti kenapa seluruh anak-anak Hufflepuff didatangkan kesini. Dan—yeah—tanpa anak-anak asrama lain yang mengganggu. Flave merapatkan kembali jaket tebal yang ia pakai saat ini. Sedikit kedinginan karena udara yang tak berbentuk itu seperti terserap kedalam jaket tebal yang kalau dipakai akan terasa hangat dan jika dipakai pada musim panas artinya kau telah menurunkan berat badan dengan cara kampungan—bahasa bagusnya apa yah? Ah, whatever. Sebenarnya bahasa apapun tidak perlu dibahas secara rumit kan? Nah nah nah, sekarang tubuh Flave sedikit menggigil. Entah kenapa—apa mungkin karena angin yang menerpa tubuhnya agak kencang atau bagaimana yah. Pokoknya begitu deh. Dan apa benar yah kalau badan Flave sedang panas dingin?
Who knows?
Flave melirik sedikit kearah Mizu ketika ia hendak mengganti bajunya yang ia pakai dengan seragam Quidditch lengkap. Kapan sih Flave membeli perlengkapan Quidditch selengkap dia ataupun senior Mobbrenette—yang memang sudah memakai seragam Quidditch dari asrama—yang merupakan pemain Quidditch andalan Hufflepuff? Tidak pernah. Sama sekali tidak pernah. So, kalau Flave disuruh bermain hari ini, masa ia harus pakai baju yang ia pakai sekarang? Oh ya, sampai lupa. Dia menyimpan baju andalannya—di asrama tapinya. O'ow. Sepertinya Flave hanya akan menjadi supporter bagi tim Hufflepuff senior—kelas 5, 6, dan 7 kalau tidak salah—dan hanya akan berteriak kencang kalau timnya memperoleh angka. Bagi penggemar fanatik Quidditch, mungkin ia bakal terjun bebas ke tanah lapangan Quidditch begitu timnya memenangkan pertandingan ataupun Piala Quidditch.
Rapat dimulai dengan pertanyaan dari Mizu. Dan dijawab secara panjang lebar oleh adik kelasnya, Lynette Verity. Ah ya, anak itu memang hebat—pikir Flave barusan ketika gadis berambut pirang itu menentukan posisi pemain kepada para anggota tim Hufflepuff senior. Yeah, Hufflepuff senior versus Hufflepuff junior rasanya bakal menarik. Quidditch pula. Dan beruntungnya, Lynette tidak menyebut nama Flave dalam posisi manapun! Yes! Dan kemungkinan besarnya sih ia akan menjadi pemain cadangan. Tidak masalah sih—tapi masalahnya, Flave tidak terlalu mahir menaiki sapu terbang. Apalagi dengan kecepatan tinggi seperti mobil sihir manapun. “Yeah. Ide yang bagus, Verity. Jadinya aku hanya akan menjadi pemain cadangan disini,” ujarnya menepuk pelan bahu Lynette. Sebenarnya sih ya, kata-kata itu lebih tepat untuk diucapkan pada dirinya sendiri, lho. Benar deh. Serius.
Seandainya ada seseorang yang membawakannya coklat hangat sekarang—
—mungkin Flave tak akan pernah merasa seaneh begini.
Sebetulnya ia tak mengerti kenapa seluruh anak-anak Hufflepuff didatangkan kesini. Dan—yeah—tanpa anak-anak asrama lain yang mengganggu. Flave merapatkan kembali jaket tebal yang ia pakai saat ini. Sedikit kedinginan karena udara yang tak berbentuk itu seperti terserap kedalam jaket tebal yang kalau dipakai akan terasa hangat dan jika dipakai pada musim panas artinya kau telah menurunkan berat badan dengan cara kampungan—bahasa bagusnya apa yah? Ah, whatever. Sebenarnya bahasa apapun tidak perlu dibahas secara rumit kan? Nah nah nah, sekarang tubuh Flave sedikit menggigil. Entah kenapa—apa mungkin karena angin yang menerpa tubuhnya agak kencang atau bagaimana yah. Pokoknya begitu deh. Dan apa benar yah kalau badan Flave sedang panas dingin?
Who knows?
Flave melirik sedikit kearah Mizu ketika ia hendak mengganti bajunya yang ia pakai dengan seragam Quidditch lengkap. Kapan sih Flave membeli perlengkapan Quidditch selengkap dia ataupun senior Mobbrenette—yang memang sudah memakai seragam Quidditch dari asrama—yang merupakan pemain Quidditch andalan Hufflepuff? Tidak pernah. Sama sekali tidak pernah. So, kalau Flave disuruh bermain hari ini, masa ia harus pakai baju yang ia pakai sekarang? Oh ya, sampai lupa. Dia menyimpan baju andalannya—di asrama tapinya. O'ow. Sepertinya Flave hanya akan menjadi supporter bagi tim Hufflepuff senior—kelas 5, 6, dan 7 kalau tidak salah—dan hanya akan berteriak kencang kalau timnya memperoleh angka. Bagi penggemar fanatik Quidditch, mungkin ia bakal terjun bebas ke tanah lapangan Quidditch begitu timnya memenangkan pertandingan ataupun Piala Quidditch.
Rapat dimulai dengan pertanyaan dari Mizu. Dan dijawab secara panjang lebar oleh adik kelasnya, Lynette Verity. Ah ya, anak itu memang hebat—pikir Flave barusan ketika gadis berambut pirang itu menentukan posisi pemain kepada para anggota tim Hufflepuff senior. Yeah, Hufflepuff senior versus Hufflepuff junior rasanya bakal menarik. Quidditch pula. Dan beruntungnya, Lynette tidak menyebut nama Flave dalam posisi manapun! Yes! Dan kemungkinan besarnya sih ia akan menjadi pemain cadangan. Tidak masalah sih—tapi masalahnya, Flave tidak terlalu mahir menaiki sapu terbang. Apalagi dengan kecepatan tinggi seperti mobil sihir manapun. “Yeah. Ide yang bagus, Verity. Jadinya aku hanya akan menjadi pemain cadangan disini,” ujarnya menepuk pelan bahu Lynette. Sebenarnya sih ya, kata-kata itu lebih tepat untuk diucapkan pada dirinya sendiri, lho. Benar deh. Serius.
Seandainya ada seseorang yang membawakannya coklat hangat sekarang—
—mungkin Flave tak akan pernah merasa seaneh begini.