as written on; Friday, April 3, 2009
6:13 PM | 0 comments
One Lifetime [Plot Terputus] – 2
Emm.. Ngomong-ngomong, Flave kelihatan bodoh tidak sih dengan mengikuti kata hatinya seperti tadi?
"Yeah, aku Kevin. Memangnya kau lupa namaku, eh?"
Dan yang tadi, pertanyaan yang sangat bodoh. Ya ampun.. Demi jenggot Merlin yang kusut, memangnya kau pikir dia itu siapa, dear? Jangan bilang kalau kau malah memikirkan si psycho gimbal yang bernama Elel itu. Bah, mati saja kalau begitu, dear. Buat apa memikirkan laki-laki yang mengagumimu sebagai seorang 'korban selanjutnya' itu? Buat apa memikirkan laki-laki yang Flave jamin nantinya akan masuk neraka itu? For the God's Sake! Manik coklatnya hanya tertuju pada mata abu lelaki yang ia panggil dengan nama Kevin itu. Bisa dikatakan, Flave suka dengan tatapan teduhnya itu. Apalagi dengan seringaian manis yang terkembang dibibir laki-laki yang hampir sepantar dengannya itu. OKE, itu bukan senyuman sadis milik Elel, INGAT ITU! —ujarnya merutuki dirinya sendiri. "Err.. Bukannya lupa sih"—so?—"hanya saja ya.. Begitulah," ujarnya polos sambil menggaruk kepalanya. Bukannya gatal, cuma bingung sendiri. Flave bodoh.
Satu hal yang sepertinya menarik perhatian Kevin adalah kalung yang ia pakai saat ini. Dari si 'Just someone' yang Flave sendiri belum tahu siapa orangnya. Ah, dasar. Kenapa tidak pakai nama asli saja sekalian? Dasar silly admirer! Flave menggigit bagian bawah bibirnya ketika mata Kevin yang sepertinya masih tertuju pada kalung yang Flave akui sendiri sangat cantik. Yang terjadi malah Flave langsung mesem-mesem sendiri melihatnya. "Menurutmu ini.." belum sempat kata-katanya dilanjutkan, Kevin sudah memuji kalung yang ia pakai. Bagus sih memang. Makanya Flave sendiri juga tersanjung ketika pujian terlontar dari lidahnya. "Thanks, by the way. Tidak menyangka kalau ada yang berpikiran sama denganku. Kalung ini memang sangat bagus," akunya dengan nada rendah. "Dari siapa?" sambarnya tiba-tiba. Yah, dia sendiri juga tidak tahu siapa yang memberikan kalung ini. Masa harus berbohong kalau ini dari mantan tunangannya—yang Flave sumpahi akan mampus dalam beberapa hari lagi, INGAT ITU!—padahal Flave sangat tidak menginginkan hadiah ini darinya? Bahkan tulisan tangannya pun bukan khasnya Elel.
"Entahlah dari siapa. Secret admirer mungkin. Habisnya aku baru menerima surat hari ini.. Yeah, aku sendiri lupa isi suratnya apa. Pokoknya yang jelas terakhirnya ia menyuruhku untuk berjalan kemana saja mengikuti kata hatiku yang bisa kubilang aku terlihat bodoh dengan mengikuti kata-kata itu. Nah sekarang aku sudah mengikuti kata hatiku dan"—well, Flave, apa sudah cukup dengan curhat colongannya?—"maaf malah jadi curhat. Apakah menurutmu aku cerewet?" tanyanya sembari tersenyum malu. Memang sih, Kevin bukan sahabatnya paling dekat atau apalah itu namanya, tapi tidak ada salahnya kan untuk menceritakan ini padanya? Seharusnya sih ini lebih enak diceritakan pada teman sekamarnya, bukannya kepada seseorang yang belum cukup dekat padamu dan asal bicara semaunya. Tidak enak rasanya. Nah nah nah, pertanyaannya sekarang.. Flave suda mengikuti kata hatinya dan disini ia bertemu dengan Kevin Winchester, dan—
—apakah dia yang mengirimkan surat dan kalung itu padanya? Big question. Soalnya Flave menaruh curiga padanya. Hmm..
"Yeah, aku Kevin. Memangnya kau lupa namaku, eh?"
Dan yang tadi, pertanyaan yang sangat bodoh. Ya ampun.. Demi jenggot Merlin yang kusut, memangnya kau pikir dia itu siapa, dear? Jangan bilang kalau kau malah memikirkan si psycho gimbal yang bernama Elel itu. Bah, mati saja kalau begitu, dear. Buat apa memikirkan laki-laki yang mengagumimu sebagai seorang 'korban selanjutnya' itu? Buat apa memikirkan laki-laki yang Flave jamin nantinya akan masuk neraka itu? For the God's Sake! Manik coklatnya hanya tertuju pada mata abu lelaki yang ia panggil dengan nama Kevin itu. Bisa dikatakan, Flave suka dengan tatapan teduhnya itu. Apalagi dengan seringaian manis yang terkembang dibibir laki-laki yang hampir sepantar dengannya itu. OKE, itu bukan senyuman sadis milik Elel, INGAT ITU! —ujarnya merutuki dirinya sendiri. "Err.. Bukannya lupa sih"—so?—"hanya saja ya.. Begitulah," ujarnya polos sambil menggaruk kepalanya. Bukannya gatal, cuma bingung sendiri. Flave bodoh.
Satu hal yang sepertinya menarik perhatian Kevin adalah kalung yang ia pakai saat ini. Dari si 'Just someone' yang Flave sendiri belum tahu siapa orangnya. Ah, dasar. Kenapa tidak pakai nama asli saja sekalian? Dasar silly admirer! Flave menggigit bagian bawah bibirnya ketika mata Kevin yang sepertinya masih tertuju pada kalung yang Flave akui sendiri sangat cantik. Yang terjadi malah Flave langsung mesem-mesem sendiri melihatnya. "Menurutmu ini.." belum sempat kata-katanya dilanjutkan, Kevin sudah memuji kalung yang ia pakai. Bagus sih memang. Makanya Flave sendiri juga tersanjung ketika pujian terlontar dari lidahnya. "Thanks, by the way. Tidak menyangka kalau ada yang berpikiran sama denganku. Kalung ini memang sangat bagus," akunya dengan nada rendah. "Dari siapa?" sambarnya tiba-tiba. Yah, dia sendiri juga tidak tahu siapa yang memberikan kalung ini. Masa harus berbohong kalau ini dari mantan tunangannya—yang Flave sumpahi akan mampus dalam beberapa hari lagi, INGAT ITU!—padahal Flave sangat tidak menginginkan hadiah ini darinya? Bahkan tulisan tangannya pun bukan khasnya Elel.
"Entahlah dari siapa. Secret admirer mungkin. Habisnya aku baru menerima surat hari ini.. Yeah, aku sendiri lupa isi suratnya apa. Pokoknya yang jelas terakhirnya ia menyuruhku untuk berjalan kemana saja mengikuti kata hatiku yang bisa kubilang aku terlihat bodoh dengan mengikuti kata-kata itu. Nah sekarang aku sudah mengikuti kata hatiku dan"—well, Flave, apa sudah cukup dengan curhat colongannya?—"maaf malah jadi curhat. Apakah menurutmu aku cerewet?" tanyanya sembari tersenyum malu. Memang sih, Kevin bukan sahabatnya paling dekat atau apalah itu namanya, tapi tidak ada salahnya kan untuk menceritakan ini padanya? Seharusnya sih ini lebih enak diceritakan pada teman sekamarnya, bukannya kepada seseorang yang belum cukup dekat padamu dan asal bicara semaunya. Tidak enak rasanya. Nah nah nah, pertanyaannya sekarang.. Flave suda mengikuti kata hatinya dan disini ia bertemu dengan Kevin Winchester, dan—
—apakah dia yang mengirimkan surat dan kalung itu padanya? Big question. Soalnya Flave menaruh curiga padanya. Hmm..