as written on; Friday, April 3, 2009
6:30 PM | 0 comments
Still Remember You – 1
—Mimpi itu pun berubah menjadi sangat buruk.
Flave seperti tak ada cara untuk mengakali agar mimpi buruk itu tidak terus menghantuinya. Sore itu memang bukan waktunya untuk tidur agar paginya tidak seburuk tadi. Tapi, sejak pelajaran selesai, ia langsung bergegas ke asramanya dan tidur sejenak di kamarnya. Rambutnya yang hitam—entah kenapa rambutnya langsung berubah dari warna coklat ke warna hitam—dikuncir kuda seperti biasanya. Dan saat terlelap untuk beberapa saat, otaknya kembali mengulang kembali apa yang ia anggap mimpi buruknya itu. Dan saat mencoba untuk membaca ulang buku pelajaran Transfigurasinya—sejak kapan Flave serajin ini?—setidaknya untuk mengakali tadi, bayangan itu langsung melintas dihadapannya. Benar mimpi buruk!
—Ia melenggang menuju menara.
Entah apalah tujuannya. Apakah ia hanya sekedar ingin mengintip teriknya matahari sebelum terbenam atau apalah—yang jelas tak ada hubungannya dengan pelajaran Astronomi—yang dapat membuat penatnya sedikit hilang. Mungkin saja ia bisa bertemu teman-temannya yang ada di asrama Gryffindor dan Ravenclaw secara tak sengaja, kemudian mengobrol sampai agak larut, dan kembali ke asrama masing-masing dengan perasaan lega. Puluhan anak tangga ia lewati dengan santai. Walau bayangan itu menemaninya setiap saat, ia pura-pura tak peduli. Sempat terpeleset di lantai empat, tapi itu tidak menjadi penghalangnya untuk segera kesana.
—Siapa disitu?
Sampailah ia di menara astronomi—Hell, kenapa kesini-sini juga?—dan ia melihat langit senja yang enggan tenggelam sebelum waktunya. Sempat ia mendengar suara burung-burung gagak yang berseru dan berterbangan menuju barat, menghadap matahari. Wew, tidak silau kali ya matanya? Langkahnya mulai pelan. Well, ada orang juga disana. Park Sang-hee dari Gryffindor—ia pernah satu kelompok dengannya saat kelas dua. Sudah berapa kali kukatakan, eh?—yang kelihatannya tadi datang dengan tergesa-gesa, ada Rie Ueshima dari Ravenclaw—ia pernah berkenalan dengannya di Hogwarts Express—dan juga.. Senior Marie Ann—ia sempat cemburu dengannya. Tahu kenapa?—Wow, ramai juga ya? Padahal tidak janjian sebelumnya.
“Wew, sore yang indah,” ujarnya pada mereka bertiga. Entahlah, apa mereka akan merespon kata-katanya tadi. Masa bodo ah. Nyatanya, Flave sudah menyapa mereka kan?
Ia menilik jauh keluar sana. Memandang sang raja siang yang akan digantikan posisinya sementara oleh sang dewi malam. Melihat gumpalan awan yang mulai memudar, dan yang nanti akan berubah menjadi berjuta-juta cahaya yang—kata profesor Sinistra—akan membentuk konstelasinya sendiri. Benar tidak sih? Cerdas juga Flave ini. Yap, Flave berusaha mati-matian untuk mendapat nilai yang baik saat ujian OWL nanti. Parah jika kau menyelewengkan itu dan melanjutkan cumbuanmu dengan seseorang yang menyayangimu. Okay, okay, Atsuko masih membayanginya, tapi laki-laki itu lebih menguasai pikirannya sekarang. Perjodohan tanpa keputusannya itu—mimpi buruknya.
—Yang ingin ia batalkan. Secepatnya.
Flave seperti tak ada cara untuk mengakali agar mimpi buruk itu tidak terus menghantuinya. Sore itu memang bukan waktunya untuk tidur agar paginya tidak seburuk tadi. Tapi, sejak pelajaran selesai, ia langsung bergegas ke asramanya dan tidur sejenak di kamarnya. Rambutnya yang hitam—entah kenapa rambutnya langsung berubah dari warna coklat ke warna hitam—dikuncir kuda seperti biasanya. Dan saat terlelap untuk beberapa saat, otaknya kembali mengulang kembali apa yang ia anggap mimpi buruknya itu. Dan saat mencoba untuk membaca ulang buku pelajaran Transfigurasinya—sejak kapan Flave serajin ini?—setidaknya untuk mengakali tadi, bayangan itu langsung melintas dihadapannya. Benar mimpi buruk!
—Ia melenggang menuju menara.
Entah apalah tujuannya. Apakah ia hanya sekedar ingin mengintip teriknya matahari sebelum terbenam atau apalah—yang jelas tak ada hubungannya dengan pelajaran Astronomi—yang dapat membuat penatnya sedikit hilang. Mungkin saja ia bisa bertemu teman-temannya yang ada di asrama Gryffindor dan Ravenclaw secara tak sengaja, kemudian mengobrol sampai agak larut, dan kembali ke asrama masing-masing dengan perasaan lega. Puluhan anak tangga ia lewati dengan santai. Walau bayangan itu menemaninya setiap saat, ia pura-pura tak peduli. Sempat terpeleset di lantai empat, tapi itu tidak menjadi penghalangnya untuk segera kesana.
—Siapa disitu?
Sampailah ia di menara astronomi—Hell, kenapa kesini-sini juga?—dan ia melihat langit senja yang enggan tenggelam sebelum waktunya. Sempat ia mendengar suara burung-burung gagak yang berseru dan berterbangan menuju barat, menghadap matahari. Wew, tidak silau kali ya matanya? Langkahnya mulai pelan. Well, ada orang juga disana. Park Sang-hee dari Gryffindor—ia pernah satu kelompok dengannya saat kelas dua. Sudah berapa kali kukatakan, eh?—yang kelihatannya tadi datang dengan tergesa-gesa, ada Rie Ueshima dari Ravenclaw—ia pernah berkenalan dengannya di Hogwarts Express—dan juga.. Senior Marie Ann—ia sempat cemburu dengannya. Tahu kenapa?—Wow, ramai juga ya? Padahal tidak janjian sebelumnya.
“Wew, sore yang indah,” ujarnya pada mereka bertiga. Entahlah, apa mereka akan merespon kata-katanya tadi. Masa bodo ah. Nyatanya, Flave sudah menyapa mereka kan?
Ia menilik jauh keluar sana. Memandang sang raja siang yang akan digantikan posisinya sementara oleh sang dewi malam. Melihat gumpalan awan yang mulai memudar, dan yang nanti akan berubah menjadi berjuta-juta cahaya yang—kata profesor Sinistra—akan membentuk konstelasinya sendiri. Benar tidak sih? Cerdas juga Flave ini. Yap, Flave berusaha mati-matian untuk mendapat nilai yang baik saat ujian OWL nanti. Parah jika kau menyelewengkan itu dan melanjutkan cumbuanmu dengan seseorang yang menyayangimu. Okay, okay, Atsuko masih membayanginya, tapi laki-laki itu lebih menguasai pikirannya sekarang. Perjodohan tanpa keputusannya itu—mimpi buruknya.
—Yang ingin ia batalkan. Secepatnya.