as written on; Friday, April 3, 2009
6:20 PM | 0 comments
Winter's Wind [Plot Terputus] – 1
Thanks again buat Chajar yang ngajakin ngeplot. Buat yang satu ini sih, ceritanya mereka kan udah lama gak ketemu lagi. Akhirnya mereka saling ketemuan juga setelah pas kelas satu tahun lalu ketemuan gak sengaja di kelas kosong. Lagi-lagi plot terputus.. *getok Chajar*
Musim dingin.
Flave hanya berdiri mematung melihat butiran-butiran salju jatuh menggapai bumi. Apapun dapat kau lakukan dengan butiran salju tersebut. Membuat boneka salju atau bahkan bertanding bola salju. Menyenangkan. Sama menyenangkannya saat Flave belum masuk Hogwarts. Kemah musim dingin memang asik. Dengan sahabat Muggle-nya yang tidak akan pernah ia temukan di Hogwarts—jujur, Flave kangen sekolah Muggle. Ia jadi merasa tidak nyaman sekolah di Hogwarts. Terutama dengan kedisiplinan waktu. Agak menyebalkan, meskipun itu bisa mempengaruhi pola hidup Flave. Teman-teman asramanya juga menyenangkan sih, meskipun sekarang nampaknya mereka jarang terlihat lagi. Ditelan bumi, eh? Terutama yang satu angkatan dengannya. Apa mungkin penglihatan Flave mulai rabun? Tidak. Ia kini memakai kacamata dengan frame berwarna silver minus satu setengah.
Halaman. Satu-satunya tempat dimana kau bisa menikmati salju dengan damai.
Ia hanya memakai celana jins panjang, t-shirt berwarna coklat muda, dan jaket tebal berwarna biru. Tidak terlalu cocok, eh? Ya iyalah, Flave bukan pemerhati ataupun penyuka dunia fashion. Tidak seperti yang dikatakan Senior Zeel tahun lalu. Untunglah orang menyebalkan itu langsung pergi dari Hogwarts. Kalau tidak yah, hari ini pasti ia disuruh membaca tumpukan majalah fashion darinya. Rambutnya kini sedikit berantakan—sengaja dia berantakin sih. Tapi kalau dilihat dari jauh, mirip sedikit sama orang sinting. Sebodo ah. Ini kan kesukaannya, bukan kesukaan orang lain. Flave merasa heran dengan teman satu asramanya yang suka mengomentarinya cantik atau apalah. Memangnya Flave itu cantik yah? Tidak. Dia terlihat bego sekarang. Sama seperti yang dikatakan seorang teman seangkatannya kemarin.
“Dear, penampilanmu berantakan. Kenapa sih? Seharusnya dari kemarin kau masuk rumah sakit jiwa saja—”
Dan itulah saat terakhir kalinya ia mengobrol dengan Serafina McKelsie.
Disinilah ia merasa lega. Ditemani dengan tumpukan salju yang bisa dibuat apa saja sesuka Flave. Untunglah belum turun salju lagi. Parahnya, ia tidak memakai sarung tangan, jadinya telapak tangannya terasa beku sekarang. Oh, Flave, kau benar-benar bodoh sekarang. Ia pun langsung duduk dihamparan salju dengan santai. Tersenyum santai begitu tubuhnya menyentuh salju yang lembut bagai kapas. Ini memang tidak senyaman tempat tidurnya di Chelsea dan ini tidak seburuk ranjang dikamarnya sekarang. Tapi sekarang ia merasa seperti anak kecil lagi. “Haa..” gumamnya. Rambutnya yang tergerai berkibar rendah begitu udara menghembus dengan pelan. Benar-benar musim salju paling santai di dunia—pikir Flave.
Err.. Sebenarnya musim dingin itu tidak identik dengan salju kan yah?
Musim dingin.
Flave hanya berdiri mematung melihat butiran-butiran salju jatuh menggapai bumi. Apapun dapat kau lakukan dengan butiran salju tersebut. Membuat boneka salju atau bahkan bertanding bola salju. Menyenangkan. Sama menyenangkannya saat Flave belum masuk Hogwarts. Kemah musim dingin memang asik. Dengan sahabat Muggle-nya yang tidak akan pernah ia temukan di Hogwarts—jujur, Flave kangen sekolah Muggle. Ia jadi merasa tidak nyaman sekolah di Hogwarts. Terutama dengan kedisiplinan waktu. Agak menyebalkan, meskipun itu bisa mempengaruhi pola hidup Flave. Teman-teman asramanya juga menyenangkan sih, meskipun sekarang nampaknya mereka jarang terlihat lagi. Ditelan bumi, eh? Terutama yang satu angkatan dengannya. Apa mungkin penglihatan Flave mulai rabun? Tidak. Ia kini memakai kacamata dengan frame berwarna silver minus satu setengah.
Halaman. Satu-satunya tempat dimana kau bisa menikmati salju dengan damai.
Ia hanya memakai celana jins panjang, t-shirt berwarna coklat muda, dan jaket tebal berwarna biru. Tidak terlalu cocok, eh? Ya iyalah, Flave bukan pemerhati ataupun penyuka dunia fashion. Tidak seperti yang dikatakan Senior Zeel tahun lalu. Untunglah orang menyebalkan itu langsung pergi dari Hogwarts. Kalau tidak yah, hari ini pasti ia disuruh membaca tumpukan majalah fashion darinya. Rambutnya kini sedikit berantakan—sengaja dia berantakin sih. Tapi kalau dilihat dari jauh, mirip sedikit sama orang sinting. Sebodo ah. Ini kan kesukaannya, bukan kesukaan orang lain. Flave merasa heran dengan teman satu asramanya yang suka mengomentarinya cantik atau apalah. Memangnya Flave itu cantik yah? Tidak. Dia terlihat bego sekarang. Sama seperti yang dikatakan seorang teman seangkatannya kemarin.
“Dear, penampilanmu berantakan. Kenapa sih? Seharusnya dari kemarin kau masuk rumah sakit jiwa saja—”
Dan itulah saat terakhir kalinya ia mengobrol dengan Serafina McKelsie.
Disinilah ia merasa lega. Ditemani dengan tumpukan salju yang bisa dibuat apa saja sesuka Flave. Untunglah belum turun salju lagi. Parahnya, ia tidak memakai sarung tangan, jadinya telapak tangannya terasa beku sekarang. Oh, Flave, kau benar-benar bodoh sekarang. Ia pun langsung duduk dihamparan salju dengan santai. Tersenyum santai begitu tubuhnya menyentuh salju yang lembut bagai kapas. Ini memang tidak senyaman tempat tidurnya di Chelsea dan ini tidak seburuk ranjang dikamarnya sekarang. Tapi sekarang ia merasa seperti anak kecil lagi. “Haa..” gumamnya. Rambutnya yang tergerai berkibar rendah begitu udara menghembus dengan pelan. Benar-benar musim salju paling santai di dunia—pikir Flave.
Err.. Sebenarnya musim dingin itu tidak identik dengan salju kan yah?