as written on; Thursday, April 30, 2009
8:32 PM | 0 comments
Be Mine Forever — 3
Blushing. Kau bisa lihat dari tingkah lakunya yang kini mulai salah tingkah—beginilah kalau habis dikerjai, sobat—dan pipinya yang jelas-jelas terlihat merah semu. Terlebih kalau kau dikerjai dengan seseorang yang kau.. sayangi, mungkin? Umm—patut dipertanyakan—status mereka apa sih sebetulnya?
Entahlah.
Dan ngomong-ngomong soal pasangan tadi, tinggal beberapa langkah lagi mereka akan berpapasan dengan Flave dan Kevin. Pandangannya sedikit teralih saat pasangan tersebut melangkah melintasi mereka. Mesra. Sangat terlihat dari gesture tubuh mereka. Sebelah tangan sang lelaki yang menggamit pinggang sang perempuan yang ramping. Selayaknya Adam dan Hawa, siapa yang tidak tahu kisah cinta mereka sih? Turun dari langit untuk memberi cinta di tempatnya berpijak saat ini. How sweet. Rasa yang tak terkalahkan oleh waktu itu dirasakan oleh pasangan tersebut. Oh—kau tahu apa? Flave merasa pasangan itu tengah melirik mereka, ketahuan dari mata biru laut sang Adam yang memicing kearahnya—seorang gadis latin bersama seorang lelaki bernama Kevin Winchester—dan menyeringai manis. Seolah sang lelaki itu menyembunyikan sesuatu dari Flave.
Tanpa sadar, pipinya memerah lagi melihat pasangan tersebut—pandangannya kini teralih pada Kevin, yang mulai..menggombal lagi. Pipinya merasakan sesuatu yang agak dingin ketika lelaki itu mulai membelai lembut pipinya. Aura musim dingin, barangkali. "Dan lihat wajahmu sekarang," —kedua bola matanya menatap teduh sang Adam yang kini tengah berada dihadapannya— "kau seperti tukang rayu sejati, kalau kau mau tahu," tangannya langsung, dengan isengnya, menggelitik pinggangnya. Oh well, biarkan suasana disini bertambah hangat, tanpa memperdulikan seluruh eksistensi yang mengelilinginya kali ini.
—I wanted more than just an ordinary life
All of my dreams seemed like castle in the sky
"Humm—mungkin aku akan kedalam," —ia melepaskan tangannya dari sang patung bergerak itu (okay, itu bercanda)— "kau juga mau mungkin?" senyumannya menipis. Pandangannya beralih kepada pasangan yang baru beberapa langkah dari mereka. Lima langkah mungkin. Ah, bukannya apa-apa, hanya saja—apakah mereka sengaja menguntit Flave sedari tadi? Entahlah. Namun, sekejap ia hanya melihat seberkas cahaya—menghilang? Bagaimana bisa? Entahlah—untuk kedua kalinya. Matanya kembali memandang bola abu milik lelaki itu. Lelaki yang bisa dibilang—sahabat atau apa? Jujur, ia masih bingung dengan status mereka yang.. kurang jelas, bisa dibilang. Janjinya saat natal kemarin pada dirinya sendiri, ia harus bicara hanya empat mata dengan Kevin. "Boleh kutanya sesuatu?" matanya mengerjap pelan ketika ia bertanya.
—In my heart I still believe
We were meant to be
Together so whatever it takes
Ragu. "Err—nanti saja. Mau pesan sesuatu tidak?" Ragu baginya menanyakan hal ini. Dan berkasan cahaya itu melenyap tanpa bekas. Ia tahu itu—ekor matanya tak bisa lepas dari pemandangan aneh itu.
OoC: Credit to 'Before Your Love' by Kelly Clarkson, and also 'Baby Come Back To Me' by Vanessa Hudgens.
Entahlah.
Dan ngomong-ngomong soal pasangan tadi, tinggal beberapa langkah lagi mereka akan berpapasan dengan Flave dan Kevin. Pandangannya sedikit teralih saat pasangan tersebut melangkah melintasi mereka. Mesra. Sangat terlihat dari gesture tubuh mereka. Sebelah tangan sang lelaki yang menggamit pinggang sang perempuan yang ramping. Selayaknya Adam dan Hawa, siapa yang tidak tahu kisah cinta mereka sih? Turun dari langit untuk memberi cinta di tempatnya berpijak saat ini. How sweet. Rasa yang tak terkalahkan oleh waktu itu dirasakan oleh pasangan tersebut. Oh—kau tahu apa? Flave merasa pasangan itu tengah melirik mereka, ketahuan dari mata biru laut sang Adam yang memicing kearahnya—seorang gadis latin bersama seorang lelaki bernama Kevin Winchester—dan menyeringai manis. Seolah sang lelaki itu menyembunyikan sesuatu dari Flave.
Tanpa sadar, pipinya memerah lagi melihat pasangan tersebut—pandangannya kini teralih pada Kevin, yang mulai..menggombal lagi. Pipinya merasakan sesuatu yang agak dingin ketika lelaki itu mulai membelai lembut pipinya. Aura musim dingin, barangkali. "Dan lihat wajahmu sekarang," —kedua bola matanya menatap teduh sang Adam yang kini tengah berada dihadapannya— "kau seperti tukang rayu sejati, kalau kau mau tahu," tangannya langsung, dengan isengnya, menggelitik pinggangnya. Oh well, biarkan suasana disini bertambah hangat, tanpa memperdulikan seluruh eksistensi yang mengelilinginya kali ini.
—I wanted more than just an ordinary life
All of my dreams seemed like castle in the sky
"Humm—mungkin aku akan kedalam," —ia melepaskan tangannya dari sang patung bergerak itu (okay, itu bercanda)— "kau juga mau mungkin?" senyumannya menipis. Pandangannya beralih kepada pasangan yang baru beberapa langkah dari mereka. Lima langkah mungkin. Ah, bukannya apa-apa, hanya saja—apakah mereka sengaja menguntit Flave sedari tadi? Entahlah. Namun, sekejap ia hanya melihat seberkas cahaya—menghilang? Bagaimana bisa? Entahlah—untuk kedua kalinya. Matanya kembali memandang bola abu milik lelaki itu. Lelaki yang bisa dibilang—sahabat atau apa? Jujur, ia masih bingung dengan status mereka yang.. kurang jelas, bisa dibilang. Janjinya saat natal kemarin pada dirinya sendiri, ia harus bicara hanya empat mata dengan Kevin. "Boleh kutanya sesuatu?" matanya mengerjap pelan ketika ia bertanya.
—In my heart I still believe
We were meant to be
Together so whatever it takes
Ragu. "Err—nanti saja. Mau pesan sesuatu tidak?" Ragu baginya menanyakan hal ini. Dan berkasan cahaya itu melenyap tanpa bekas. Ia tahu itu—ekor matanya tak bisa lepas dari pemandangan aneh itu.
OoC: Credit to 'Before Your Love' by Kelly Clarkson, and also 'Baby Come Back To Me' by Vanessa Hudgens.
Labels: flave, graduated from hogwarts, kevin, plot
as written on; Wednesday, April 29, 2009
7:19 AM | 0 comments
Feliz Navidad!
25 Desember 1980. Siang.
"Hmm.. Not bad, actually. Masakan buatanmu oke kok," pujian itu langsung terlontar dari bibir seorang laki-laki bernama Flavanno Alesando Montez ketika ia mencicipi sedikit masakan yang baru saja dibuat oleh adiknya, Flavarel Allesha Montez. Ahaha.. Ternyata Flave berbakat juga menjadi seorang juru masak. Padahal biasanya, Flave yang bersemangat mengajak Anno untuk makan diluar alih-alih memasak sendiri di rumah. Yeah, khusus Natal kali ini sih sebenarnya, ia memasak Payaya—yang biasanya terdiri dari nasi, sea food, dan daging ayam. Resepnya sendiri sih baru dikirim oleh Mom yang ternyata sudah pulang terlebih dahulu ke Spanyol. Ah, aneh rasanya tinggal berdua bersama kakak yang secara tampang agak jauh. Hahaha.. Bercanda kok. Apa rasanya seperti tinggal dengan suami sendiri ya?
Jauh amat kau memikirkan soal itu, Flavarel.
"Thanks," jawabannya simple, bukan? Well, bukannya Flave sedang irit bicara sih sebetulnya, hanya saja—apa lagi yang bisa ia katakan selain 'terima kasih' atas pujian yang diberikan kakaknya itu? Coba saja kalau kau menjawabnya dengan, 'pergi sana, aku sudah tidak sudi melihatmu lagi!'—itu kurang ajar namanya, tahu. Matanya mengerjap pelan dan menilik kearah kakaknya yang kini mulai usil mengambil satu sendok payaya yang sebetulnya belum disajikan itu. "Hoy! Tunggu dulu sambil menonton televisi, apa susahnya sih?" ujarnya dengan nada mezzosopran yang sedikit meninggi sambil menepuk pergelangan lengan atas Anno dengan agak kencang. Tahu rasa kalau merasa sedikit sakit, usil begitu. Dan lagi-lagi kakaknya hanya pasang cengiran lebar yang—rasanya—mengundang Flave untuk menabok pipinya.
Bukan menampar, tampar sama tabok itu beda.
...
Apa barangkali sama ya?
"Voy a obedecer lo que dices, querida1," balasnya dengan nada jahil sambil mengecup pipi kirinya. Ah dasar! Sumpah, rasanya ia ingin menabok pipinya sekali saja. But—err—that remind herself to a visit to the Three Broomstick some time ago, dimana ia mencium pipi kanan Kevin. Bisakah itu dianggap ciuman persahabatan? Tetapi—yeah—he called Flave as a 'darling', do you know that? And that means, laki-laki itu menganggapnya bahkan lebih dari sekedar sahabat. What else, if not a girlfriend?
"Té extrańo, Querido."
"—I miss you too, Dear."*
Ia butuh bicara hanya empat mata dengan Winchester.
*****
"Oh, hey, kemarin aku baru saja bertemu dengan teman lamaku. Kau tahu si Escàrcega yang tomboy itu kan? Ah, tujuh tahun lamanya aku tidak bertemu dengannya, dia malah kelihatan tambah cantik, seriously. Rasanya—"
"Sang-hee mau dikemanakan, mi querido hermano2?" tanyanya penasaran setelah ia menyuapi dirinya dengan satu sendok makan nasi dan daging ayam yang baru saja ia masak—beberapa menit yang lalu. Kalau dilihat-lihat, ia memasak dengan porsi tiga orang. Oh, biasalah, terkadang lelaki suka makan lebih banyak ketimbang perempuan. Ahaha.. Sengaja ia potong mengenai cerita Anno tentang kemarin ketika ia pergi ke Starbucks karena—yeah—you know what. Anno sempat naksir Sang-hee—yang notabene sahabatnya dari asrama Gryffindor—dan kini mulai berpaling ke Savana Escàrcega? Ckckck.. Dasar mata keranjang. Sekalinya yang tidak diharapkan mendatanginya, langsung berpaling ke yang lain. Ada-ada saja. "Kau bilang kau lebih menyukai gadis Asia, bagaimana sih?" Flave langsung pura-pura memasang tampang mencurigakan pada Anno. "Tapi siapa yang tahu juga kalau dia juga memiliki tampang yang lumayan? Selama tujuh tahun aku tidak bertemu dengannya semenjak lulus dari Hogwarts. Dios, terlebih lagi dia juga berasal dari Spanyol. So, bisa jadi memiliki kesukaan yang sama, rite?"
"—Lelaki itu, kalau sudah menemukan orang yang cocok dengannya, bisa jadi kalau menceritakannya kau akan menganggapnya cerewet."
Terima kasih untuk Sierra McKannon atas teorinya, kalau begitu. Hahaha..
"Lo que cada vez que usted dice, mi hermano3," ujarnya sambil menyantap kembali Payaya buatannya. Mubazir kalau tidak dinikmati. Terlebih lagi hari ini adalah hari natal. Meskipun hanya dinikmati berdua saja—uh well, natal bersama kakak yang menyebalkan rasanya menyenangkan juga, by the way—setidaknya ada makna yang terselip didalamnya, rite? Kekeluargaan, sangat dipegang teguh oleh keluarga Montez.
¡Feliz Navidad!4
————————————————————————
OoC:
1I will obey what you say, dear.
2my dearest brother
3Whatever you say, my brother.
4Merry Christmas!
*from Another Day thread.
"Hmm.. Not bad, actually. Masakan buatanmu oke kok," pujian itu langsung terlontar dari bibir seorang laki-laki bernama Flavanno Alesando Montez ketika ia mencicipi sedikit masakan yang baru saja dibuat oleh adiknya, Flavarel Allesha Montez. Ahaha.. Ternyata Flave berbakat juga menjadi seorang juru masak. Padahal biasanya, Flave yang bersemangat mengajak Anno untuk makan diluar alih-alih memasak sendiri di rumah. Yeah, khusus Natal kali ini sih sebenarnya, ia memasak Payaya—yang biasanya terdiri dari nasi, sea food, dan daging ayam. Resepnya sendiri sih baru dikirim oleh Mom yang ternyata sudah pulang terlebih dahulu ke Spanyol. Ah, aneh rasanya tinggal berdua bersama kakak yang secara tampang agak jauh. Hahaha.. Bercanda kok. Apa rasanya seperti tinggal dengan suami sendiri ya?
Jauh amat kau memikirkan soal itu, Flavarel.
"Thanks," jawabannya simple, bukan? Well, bukannya Flave sedang irit bicara sih sebetulnya, hanya saja—apa lagi yang bisa ia katakan selain 'terima kasih' atas pujian yang diberikan kakaknya itu? Coba saja kalau kau menjawabnya dengan, 'pergi sana, aku sudah tidak sudi melihatmu lagi!'—itu kurang ajar namanya, tahu. Matanya mengerjap pelan dan menilik kearah kakaknya yang kini mulai usil mengambil satu sendok payaya yang sebetulnya belum disajikan itu. "Hoy! Tunggu dulu sambil menonton televisi, apa susahnya sih?" ujarnya dengan nada mezzosopran yang sedikit meninggi sambil menepuk pergelangan lengan atas Anno dengan agak kencang. Tahu rasa kalau merasa sedikit sakit, usil begitu. Dan lagi-lagi kakaknya hanya pasang cengiran lebar yang—rasanya—mengundang Flave untuk menabok pipinya.
Bukan menampar, tampar sama tabok itu beda.
...
Apa barangkali sama ya?
"Voy a obedecer lo que dices, querida1," balasnya dengan nada jahil sambil mengecup pipi kirinya. Ah dasar! Sumpah, rasanya ia ingin menabok pipinya sekali saja. But—err—that remind herself to a visit to the Three Broomstick some time ago, dimana ia mencium pipi kanan Kevin. Bisakah itu dianggap ciuman persahabatan? Tetapi—yeah—he called Flave as a 'darling', do you know that? And that means, laki-laki itu menganggapnya bahkan lebih dari sekedar sahabat. What else, if not a girlfriend?
"Té extrańo, Querido."
"—I miss you too, Dear."*
Ia butuh bicara hanya empat mata dengan Winchester.
*****
"Oh, hey, kemarin aku baru saja bertemu dengan teman lamaku. Kau tahu si Escàrcega yang tomboy itu kan? Ah, tujuh tahun lamanya aku tidak bertemu dengannya, dia malah kelihatan tambah cantik, seriously. Rasanya—"
"Sang-hee mau dikemanakan, mi querido hermano2?" tanyanya penasaran setelah ia menyuapi dirinya dengan satu sendok makan nasi dan daging ayam yang baru saja ia masak—beberapa menit yang lalu. Kalau dilihat-lihat, ia memasak dengan porsi tiga orang. Oh, biasalah, terkadang lelaki suka makan lebih banyak ketimbang perempuan. Ahaha.. Sengaja ia potong mengenai cerita Anno tentang kemarin ketika ia pergi ke Starbucks karena—yeah—you know what. Anno sempat naksir Sang-hee—yang notabene sahabatnya dari asrama Gryffindor—dan kini mulai berpaling ke Savana Escàrcega? Ckckck.. Dasar mata keranjang. Sekalinya yang tidak diharapkan mendatanginya, langsung berpaling ke yang lain. Ada-ada saja. "Kau bilang kau lebih menyukai gadis Asia, bagaimana sih?" Flave langsung pura-pura memasang tampang mencurigakan pada Anno. "Tapi siapa yang tahu juga kalau dia juga memiliki tampang yang lumayan? Selama tujuh tahun aku tidak bertemu dengannya semenjak lulus dari Hogwarts. Dios, terlebih lagi dia juga berasal dari Spanyol. So, bisa jadi memiliki kesukaan yang sama, rite?"
"—Lelaki itu, kalau sudah menemukan orang yang cocok dengannya, bisa jadi kalau menceritakannya kau akan menganggapnya cerewet."
Terima kasih untuk Sierra McKannon atas teorinya, kalau begitu. Hahaha..
"Lo que cada vez que usted dice, mi hermano3," ujarnya sambil menyantap kembali Payaya buatannya. Mubazir kalau tidak dinikmati. Terlebih lagi hari ini adalah hari natal. Meskipun hanya dinikmati berdua saja—uh well, natal bersama kakak yang menyebalkan rasanya menyenangkan juga, by the way—setidaknya ada makna yang terselip didalamnya, rite? Kekeluargaan, sangat dipegang teguh oleh keluarga Montez.
¡Feliz Navidad!4
————————————————————————
OoC:
1I will obey what you say, dear.
2my dearest brother
3Whatever you say, my brother.
4Merry Christmas!
*from Another Day thread.
Labels: anno, flave, graduated from hogwarts, house
as written on; Tuesday, April 28, 2009
1:01 AM | 0 comments
Be Mine Forever — 2
Kau punya feeling yang buruk, dear. Tidak ada orang lain yang berlalu lalang disekitar sini. Coba lihat ke seberang dan kau akan melihat beberapa orang sedang berjalan kesana-sini. Dan kalau kau melihat ke kejauhan sana, kau bisa melihat sepasang kekasih—masih muda sih—tengah bermesraan ria sepanjang jalan. Nah, kau sudah mendapat kesimpulannya, Montez?
Dia tak punya bakat meramal dengan baik. Dammit.
But yeah, beruntung ia memiliki retina yang masih berjalan dengan baik. Ahaha.. Kau tahu maksudnya kan? Tak mungkin ia menganggap sepasang kekasih yang kira-kira sepuluh langkah lagi akan berpapasan dengan gadis Latin itu—dua orang yang sedang bertengkar. Yang perempuan—rambut pirang kecoklatan dengan manik hijau keabuan yang membuatnya menjadi tambah terlihat sangat cantik (meskipun pada kenyataan, perempuan itu memang cantik, artis mungkin?) memakai jaket tebal berwarna putih tulang yang agak sedikit kontras dengan kulitnya yang kuning langsat. Gadis Asia mungkin? Yang laki-laki—bertubuh atletis, rambut hitam cepak, memiliki warna bola mata biru laut dengan sorotan agak tajam (ia tak mengerti kenapa perempuan menyukai lelaki dengan tatapan tajam—yang menurut Flave mirip setan itu?) dan berpenampilan casual. Serba cokelat, benar-benar sangat kontras dengan kulit lelaki itu yang putih pucat.
Semacam vampire? Mungkin kau tahu artikel Daily Prophet yang membahas kerjasama Kementrian Sihir dengan kumpulan vampir yang bermarkas di Volterra, Italia—pernah membacanya kan? Itu bahkan sempat ia perbincangkan dengan beberapa orang rekan divisinya—Sierra McKannon, bukan Serafina McKelsie yang katanya sekarang mulai meniti karier sebagai model, cih. Gadis itu—yang ternyata sama-sama berasal dari Spanyol—hanya membeberkan berita tersebut, karena ia memang tahu banyak tentang kerjasama itu.
Oh well, ya sudahlah, peduli amat tentang masalah Volturi itu.
Lagi-lagi ia celingukan melihat sekitar jalanan Crimmscott yang oh-my-God-tempat-ini-bahkan-mirip-kuburan ini. Hanya ada satu bus yang lewat di jalan itu dan beberapa sepeda antik berkeliaran disana. Dirinya mencurigai seseorang yang ada di bus itu sedang memperhatikannya. Uh yeah, kau kepedean, Flave. Dan ia sampai lupa kalau ia mau memesan sesuatu di dalam. Nanti saja, toh tadi juga pelayannya datang dan ia menolaknya dengan halus—hanya dengan kata-kata seperti, "Urm.. Nanti saja, aku sedang menunggu seseorang," yang sebenarnya—alasan itu terlalu dibuat-buat. Hey, Flavarel Montez, kau datang kesini sendirian, dengan tujuan menikmati teh yang dihidangkan disini sendirian. Sejak kapan kau menunggu seseorang—kecuali barusan ada orang yang menghubungimu entah itu kakakmu atau Sierra yang ingin menemanimu di tempat seperti ini—itu merupakan alasan yang—aneh. Apapunlah yang bisa kau sebut.
"Ehm, maaf, Nona. Sepertinya Anda menempati tempat saya."
Nah kan, bahkan kau menempati tempat orang lain—meskipun tidak ada sesuatu yang menjadi ciri kalau meja yang ia tempati saat itu reserved. Tanpa banyak basa-basi, ia langsung bangkit dari tempat duduknya. "Sorry kalau aku menempati tempatmu," ujarnya tanpa menoleh sedikitpun ke belakang. Well, sepertinya setelah ia pergi dari tempat duduk ini, ia akan langsung memesan dan mencari tempat duduk yang lainnya. Kau memang bodoh, Montez. Dan sekarang, ia baru mengalihkan pandangannya terhadap orang tersebut. Kau tahu siapa dia?
"Kau?" senyuman sumringah langsung mengembang. Dijahili itu—malah membuatnya merasa aneh. Ingin tertawa, tapi ia tahan. Buat apa coba?
Dia tak punya bakat meramal dengan baik. Dammit.
But yeah, beruntung ia memiliki retina yang masih berjalan dengan baik. Ahaha.. Kau tahu maksudnya kan? Tak mungkin ia menganggap sepasang kekasih yang kira-kira sepuluh langkah lagi akan berpapasan dengan gadis Latin itu—dua orang yang sedang bertengkar. Yang perempuan—rambut pirang kecoklatan dengan manik hijau keabuan yang membuatnya menjadi tambah terlihat sangat cantik (meskipun pada kenyataan, perempuan itu memang cantik, artis mungkin?) memakai jaket tebal berwarna putih tulang yang agak sedikit kontras dengan kulitnya yang kuning langsat. Gadis Asia mungkin? Yang laki-laki—bertubuh atletis, rambut hitam cepak, memiliki warna bola mata biru laut dengan sorotan agak tajam (ia tak mengerti kenapa perempuan menyukai lelaki dengan tatapan tajam—yang menurut Flave mirip setan itu?) dan berpenampilan casual. Serba cokelat, benar-benar sangat kontras dengan kulit lelaki itu yang putih pucat.
Semacam vampire? Mungkin kau tahu artikel Daily Prophet yang membahas kerjasama Kementrian Sihir dengan kumpulan vampir yang bermarkas di Volterra, Italia—pernah membacanya kan? Itu bahkan sempat ia perbincangkan dengan beberapa orang rekan divisinya—Sierra McKannon, bukan Serafina McKelsie yang katanya sekarang mulai meniti karier sebagai model, cih. Gadis itu—yang ternyata sama-sama berasal dari Spanyol—hanya membeberkan berita tersebut, karena ia memang tahu banyak tentang kerjasama itu.
Oh well, ya sudahlah, peduli amat tentang masalah Volturi itu.
Lagi-lagi ia celingukan melihat sekitar jalanan Crimmscott yang oh-my-God-tempat-ini-bahkan-mirip-kuburan ini. Hanya ada satu bus yang lewat di jalan itu dan beberapa sepeda antik berkeliaran disana. Dirinya mencurigai seseorang yang ada di bus itu sedang memperhatikannya. Uh yeah, kau kepedean, Flave. Dan ia sampai lupa kalau ia mau memesan sesuatu di dalam. Nanti saja, toh tadi juga pelayannya datang dan ia menolaknya dengan halus—hanya dengan kata-kata seperti, "Urm.. Nanti saja, aku sedang menunggu seseorang," yang sebenarnya—alasan itu terlalu dibuat-buat. Hey, Flavarel Montez, kau datang kesini sendirian, dengan tujuan menikmati teh yang dihidangkan disini sendirian. Sejak kapan kau menunggu seseorang—kecuali barusan ada orang yang menghubungimu entah itu kakakmu atau Sierra yang ingin menemanimu di tempat seperti ini—itu merupakan alasan yang—aneh. Apapunlah yang bisa kau sebut.
"Ehm, maaf, Nona. Sepertinya Anda menempati tempat saya."
Nah kan, bahkan kau menempati tempat orang lain—meskipun tidak ada sesuatu yang menjadi ciri kalau meja yang ia tempati saat itu reserved. Tanpa banyak basa-basi, ia langsung bangkit dari tempat duduknya. "Sorry kalau aku menempati tempatmu," ujarnya tanpa menoleh sedikitpun ke belakang. Well, sepertinya setelah ia pergi dari tempat duduk ini, ia akan langsung memesan dan mencari tempat duduk yang lainnya. Kau memang bodoh, Montez. Dan sekarang, ia baru mengalihkan pandangannya terhadap orang tersebut. Kau tahu siapa dia?
"Kau?" senyuman sumringah langsung mengembang. Dijahili itu—malah membuatnya merasa aneh. Ingin tertawa, tapi ia tahan. Buat apa coba?
Labels: flave, graduated from hogwarts, kevin, plot
12:58 AM | 0 comments
Be Mine Forever — 1
Plot again—bersama Chajar =)) Dan untuk kesekian kalinya, gw menjadi thread starter di thread yang bersetting di The Windmill Tea Company ini. Eh, tapi serius loh tempat ini ada di Inggris. Tadinya, pengen settingnya di Starbucks =)) Oh, well, jadi kebanyakan ngomong yang engga-engga disini. Pokoknya tunggu deh sampe inti ceritanya—nanti barangkali—nongol *kedip-kedip*
Kesampingkan sejenak semua hal yang mungkin terjadi di Kementrian Sihir—terlebih lagi divisinya sedang mengalami kesibukkan luar biasa—dan beri waktu untuk Flave beristirahat.
Yeah, istirahat. Lepaskan semua penat yang memenuhi seluruh syaraf otakmu dan nikmati udara segar diluar sana—meskipun kau sendiri tahu kalau jalanan London kini agak sedikit tercemar oleh polusi udara yang diakibatkan kendaraan-kendaraan bermotor. Uh oh, dan sejak kapan kau menjadi pengamat lingkungan—Flavarel Allesha Montez? Barangkali sejak dirinya lulus dari Hogwarts—yang menurutnya udaranya cukup bersih—dan kini harus menghadapi banyak waktunya di Kementrian dan dunia Muggle, jadi ia banyak-banyak membandingkan dunia Muggle dengan dunia sihir sana—yang sebetulnya keadaannya sedang sangat terancam dengan adanya You-Know-Who. Ah sudahlah, yang seperti itu jangan dibahas lagi. Kau tahu sendiri kan kalau Flave ingin bersantai sejenak?
Ngomong-ngomong, akhir musim dingin seperti ini kenapa cuacanya agak tidak mendukung ya? Oh, dear, lama-lama kau dipindahkan juga ke Divisi Cuaca. Well, sebenarnya bagaimana Flave tidak bisa mengalihkan pandangannya ke jalanan Crimscott yang agak mulai sepi. Terlihat dari iris cokelatnya, hanya ada satu mobil yang melintas di jalan itu dan kemudian beberapa pejalan kaki. Kedua tangannya berusaha kembali merapatkan jaket tebal warna hitamnya dan merapikan rambutnya yang kini malah agak sedikit lurus. Hmm.. Padahal sewaktu kemarin rambutnya masih biasa saja, tuh, bergelombang dan agak berantakan. Oh, jangan bilang kalau kemarin-kemarin ia sempat memakeover dirinya agar terlihat lebih feminin.
Flave itu—semi-tomboy.
Ia tidak pernah suka make-up sebetulnya. Pantas saja kalau wajahnya bahkan tidak terlalu kotor. Hanya saja mungkin karena pernikahan Potter dan Evans dua tahun—atau tiga sih?—lalu yang mengharuskan ia memakai make-up—tipis, by the way, bayangkan Flave datang dengan dandanan menor dia bakal ditertawai seharian. Hmm.. Ngomong-ngomong soal itu, ia jadi keingatan Sang-hee. Bukannya apa-apa. Kakaknya yang super bawel minta ampun itu katanya mulai naksir Sang-hee. Tapi entahlah bagi perempuan Korea itu sendiri. Dan sekarangpun, kakaknya sedang berjalan-jalan lagi keliling dunia. Tujuannya? Mencari pacar. Gila kan? Sangat.
Bahkan selain itu sebetulnya ia sangat tidak suka memakai perhiasan.
Lah loh, kenapa juga ia masih memakai kalung pemberian entah-dari-siapa itu?
Entahlah, aku suka saja dengan kalung ini.
The Windmill Tea Company, bukan perusahaan teh sih sebetulnya, hanya sebuah kedai teh bernuansa klasik yang sering dikunjungi oleh Mom akhir-akhir ini. Katanya sih, Earl Grey Tea-nya lumayan enak. Ah, coba sajalah. Ia langsung mengambil kursi yang sudah disediakan di luar kedai. Sepertinya asik menikmati teh diluar ketimbang didalam.
Entah kenapa sepertinya ia mendengar suara langkah kaki mendekat padanya. Hanya perasaan atau.. Apa?
Kesampingkan sejenak semua hal yang mungkin terjadi di Kementrian Sihir—terlebih lagi divisinya sedang mengalami kesibukkan luar biasa—dan beri waktu untuk Flave beristirahat.
Yeah, istirahat. Lepaskan semua penat yang memenuhi seluruh syaraf otakmu dan nikmati udara segar diluar sana—meskipun kau sendiri tahu kalau jalanan London kini agak sedikit tercemar oleh polusi udara yang diakibatkan kendaraan-kendaraan bermotor. Uh oh, dan sejak kapan kau menjadi pengamat lingkungan—Flavarel Allesha Montez? Barangkali sejak dirinya lulus dari Hogwarts—yang menurutnya udaranya cukup bersih—dan kini harus menghadapi banyak waktunya di Kementrian dan dunia Muggle, jadi ia banyak-banyak membandingkan dunia Muggle dengan dunia sihir sana—yang sebetulnya keadaannya sedang sangat terancam dengan adanya You-Know-Who. Ah sudahlah, yang seperti itu jangan dibahas lagi. Kau tahu sendiri kan kalau Flave ingin bersantai sejenak?
Ngomong-ngomong, akhir musim dingin seperti ini kenapa cuacanya agak tidak mendukung ya? Oh, dear, lama-lama kau dipindahkan juga ke Divisi Cuaca. Well, sebenarnya bagaimana Flave tidak bisa mengalihkan pandangannya ke jalanan Crimscott yang agak mulai sepi. Terlihat dari iris cokelatnya, hanya ada satu mobil yang melintas di jalan itu dan kemudian beberapa pejalan kaki. Kedua tangannya berusaha kembali merapatkan jaket tebal warna hitamnya dan merapikan rambutnya yang kini malah agak sedikit lurus. Hmm.. Padahal sewaktu kemarin rambutnya masih biasa saja, tuh, bergelombang dan agak berantakan. Oh, jangan bilang kalau kemarin-kemarin ia sempat memakeover dirinya agar terlihat lebih feminin.
Flave itu—semi-tomboy.
Ia tidak pernah suka make-up sebetulnya. Pantas saja kalau wajahnya bahkan tidak terlalu kotor. Hanya saja mungkin karena pernikahan Potter dan Evans dua tahun—atau tiga sih?—lalu yang mengharuskan ia memakai make-up—tipis, by the way, bayangkan Flave datang dengan dandanan menor dia bakal ditertawai seharian. Hmm.. Ngomong-ngomong soal itu, ia jadi keingatan Sang-hee. Bukannya apa-apa. Kakaknya yang super bawel minta ampun itu katanya mulai naksir Sang-hee. Tapi entahlah bagi perempuan Korea itu sendiri. Dan sekarangpun, kakaknya sedang berjalan-jalan lagi keliling dunia. Tujuannya? Mencari pacar. Gila kan? Sangat.
Bahkan selain itu sebetulnya ia sangat tidak suka memakai perhiasan.
Lah loh, kenapa juga ia masih memakai kalung pemberian entah-dari-siapa itu?
Entahlah, aku suka saja dengan kalung ini.
The Windmill Tea Company, bukan perusahaan teh sih sebetulnya, hanya sebuah kedai teh bernuansa klasik yang sering dikunjungi oleh Mom akhir-akhir ini. Katanya sih, Earl Grey Tea-nya lumayan enak. Ah, coba sajalah. Ia langsung mengambil kursi yang sudah disediakan di luar kedai. Sepertinya asik menikmati teh diluar ketimbang didalam.
Entah kenapa sepertinya ia mendengar suara langkah kaki mendekat padanya. Hanya perasaan atau.. Apa?
Labels: flave, graduated from hogwarts, kevin, plot
12:53 AM | 0 comments
Spain is falling in love with Korea (?)
"Yeah! Hari ini pulang ke Chelsea!"
"Anno! Jangan berlebihan kau! Kalau kau sudah punya pacar, tahu rasa deh!"
"Eh, by the way, kau sendiri sudah punya pacar belum?"
(menggeleng dengan ragu) "Kau sendiri?"
"Nampaknya aku ingin memacari temanmu itu.."
"Teman yang mana?"
"Waktu kemarin itu loh! Aku mengantarmu dan temanmu ke pernikahan Potter—" (menggaruk bagian belakang kepalanya)
(matanya membelalak, seakan tak percaya) "SANG-HEE!?"
Giliran Mom yang mengendarai mobil Toyota Corona keluaran terbaru menuju Chelsea. Setidaknya villa milik mereka tidak disewakan lagi untuk sementara waktu. Barangkali sampai Flave mengikuti pelatihan—yeah, kau tahu sendiri kan kalau setelah lulus dari Hogwarts ia akan bersekolah lagi di Pusat Pelatihan Sihir?—dan sampai Anno mendapatkan pacar. OMG, asal kalian tahu saja, Anno bahkan sudah berkepala dua dan belum punya pacar. Sementara Flave sendiri—err—masa pendekatan dengan.. Yeah, kau tahu siapa itu dia kan? Bukan Dia-yang-lebih-baik-tidak-usah-punya-nama-deh itu, for your information.
Masalah siapa yang ingin dipacari oleh Anno saat di Guoman Tower, sungguh diluar dugaannya. Flave tidak percaya akan hal itu sebelumnya. Park Sang-hee, gadis Korea yang berasrama Gryffindor yang lumayan dekat dengannya itu, bersanding dengan Flavanno Montez.. Sama dengan—entahlah. Memikirkannya saja pasti sudah kelewat aneh. Memang sih, gadis Korea yang satu itu terlihat sangat cantik. Tapi kalau bersama dengan Anno yang ketampanannya dibawah standar itu—"Sorry bro', terkadang adikmu ini minta dihajar, memang,"—rasanya.. Luar biasa (tidak) mungkin!—"Oke, bro'. Hajar saja adikmu ini sekarang juga." Memasuki wilayah Fulham, Flave langsung ingin berbicara pada kakaknya yang satu itu yang kebetulan saja sedang duduk di sebelahnya—di jok belakang, by the way. Di depan? Ada Flavena yang memaksakan dirinya untuk berkunjung ke Chelsea meskipun kondisi tubuhnya kurang meyakinkan bagi kembarannya sendiri.
"So, kau benar-benar serius ingin memacari Sang-hee?" ujarnya dengan nada datar dengan tatapan memandang jendela disebelah kanannya. Vena yang sedari tadi hanya duduk terdiam, kini nampaknya menoleh kearah saudara kembarnya itu. "Who's Sang-hee, by the way?" suara lirih itu terdengar dari gadis berkulit agak pucat itu. Gadis berbalut jaket tebal itu langsung tersenyum ringkih pada Flave. "Teman satu angkatan. Tampaknya kakak kita yang satu ini senang dengan perempuan Asia.." ia mengedipkan mata kirinya pada Anno yang pura-pura tidak mendengar perkataan Flave barusan. "Uhuk!—Haha.." Vena tertawa kecil yang diawali dengan batuk. Yang penting jangan sampai dirinya langsung jatuh pingsan.
Ngomong-ngomong, cuacanya mendung.
*****
Ruang tengah yang bersebelahan dengan kamar Flave. Ia baru saja mengirim surat untuk Sang-hee supaya ia mampir ke villanya. Kau tahu kenapa? Sebenarnya karena bujukan dari Anno yang ingin bertemu lagi dengan Sang-hee untuk kedua kalinya. Ah dasar, ada-ada saja kakaknya yang satu itu. Flave jadi bingung sendiri, serius. Apa Anno mengidap penyakit semacam love at the first sight sehingga ia sampai cinta mati—serius, itu berlebihan sekali—pada Sang-hee? Who knows?
Tunggu, ROFL itu apa? Rolling on the Floor?
"Puas kau sekarang, eh?" ujar Flave ketus pada Anno yang diam-diam memperhatikan di belakangnya. Huh, hanya karena ia akan menulis surat untuk Sang-hee saja, mukanya sampai mesem-mesem tidak jelas layaknya orang gila. Dan Anno hanya mengangguk puas sambil mengacak-acak rambut adiknya itu. Vena yang melihat itu dari kejauhan hanya tersenyum meringkih—lagi—sambil mendorong kursi rodanya menuju mereka berdua. "Kalian mirip anak kecil, sungguh," gumamnya datar dengan sorot tajam pada mereka berdua. "TIDAK! DIA YANG MIRIP ANAK KECIL!" jawab mereka berdua serempak. Sepertinya hampir membuat Mom yang sedang memasak di dapur hampir merasa jantungan mendengar teriakan tersebut.
Keluarga yang bahagia—tepatnya terlalu bahagia.
"Outstanding untukmu, Flavarel! Wakakakakak!!"
"Serius, kau ingin memacari Sang-hee?"
(mesem-mesem) "Of course, kenapa tidak? Mumpung orangnya cantik begitu.."
"Dasar kau, mementingkan kecantikan saja. Payah."
"Aku yakin anaknya pasti sangat periang sekali. Aku memang suka cewek seperti itu kok!" (nyengir lebar)
"Kalau kubilang dia sudah punya pacar, bagaimana?"
"Pacar? Siapa namanya!? Kau tahu tidak?"
(memandang ragu pada Anno) "Alaistair kalau tidak salah."
"..."
"Kenapa memangnya, huh?"
"AKU SANGAT YAKIN AKU AKAN MENDAPATKAN GADIS ITU!" (tersenyum seperti setan)
"Kau.. Berlebihan!"
"Anno! Jangan berlebihan kau! Kalau kau sudah punya pacar, tahu rasa deh!"
"Eh, by the way, kau sendiri sudah punya pacar belum?"
(menggeleng dengan ragu) "Kau sendiri?"
"Nampaknya aku ingin memacari temanmu itu.."
"Teman yang mana?"
"Waktu kemarin itu loh! Aku mengantarmu dan temanmu ke pernikahan Potter—" (menggaruk bagian belakang kepalanya)
(matanya membelalak, seakan tak percaya) "SANG-HEE!?"
Giliran Mom yang mengendarai mobil Toyota Corona keluaran terbaru menuju Chelsea. Setidaknya villa milik mereka tidak disewakan lagi untuk sementara waktu. Barangkali sampai Flave mengikuti pelatihan—yeah, kau tahu sendiri kan kalau setelah lulus dari Hogwarts ia akan bersekolah lagi di Pusat Pelatihan Sihir?—dan sampai Anno mendapatkan pacar. OMG, asal kalian tahu saja, Anno bahkan sudah berkepala dua dan belum punya pacar. Sementara Flave sendiri—err—masa pendekatan dengan.. Yeah, kau tahu siapa itu dia kan? Bukan Dia-yang-lebih-baik-tidak-usah-punya-nama-deh itu, for your information.
Masalah siapa yang ingin dipacari oleh Anno saat di Guoman Tower, sungguh diluar dugaannya. Flave tidak percaya akan hal itu sebelumnya. Park Sang-hee, gadis Korea yang berasrama Gryffindor yang lumayan dekat dengannya itu, bersanding dengan Flavanno Montez.. Sama dengan—entahlah. Memikirkannya saja pasti sudah kelewat aneh. Memang sih, gadis Korea yang satu itu terlihat sangat cantik. Tapi kalau bersama dengan Anno yang ketampanannya dibawah standar itu—"Sorry bro', terkadang adikmu ini minta dihajar, memang,"—rasanya.. Luar biasa (tidak) mungkin!—"Oke, bro'. Hajar saja adikmu ini sekarang juga." Memasuki wilayah Fulham, Flave langsung ingin berbicara pada kakaknya yang satu itu yang kebetulan saja sedang duduk di sebelahnya—di jok belakang, by the way. Di depan? Ada Flavena yang memaksakan dirinya untuk berkunjung ke Chelsea meskipun kondisi tubuhnya kurang meyakinkan bagi kembarannya sendiri.
"So, kau benar-benar serius ingin memacari Sang-hee?" ujarnya dengan nada datar dengan tatapan memandang jendela disebelah kanannya. Vena yang sedari tadi hanya duduk terdiam, kini nampaknya menoleh kearah saudara kembarnya itu. "Who's Sang-hee, by the way?" suara lirih itu terdengar dari gadis berkulit agak pucat itu. Gadis berbalut jaket tebal itu langsung tersenyum ringkih pada Flave. "Teman satu angkatan. Tampaknya kakak kita yang satu ini senang dengan perempuan Asia.." ia mengedipkan mata kirinya pada Anno yang pura-pura tidak mendengar perkataan Flave barusan. "Uhuk!—Haha.." Vena tertawa kecil yang diawali dengan batuk. Yang penting jangan sampai dirinya langsung jatuh pingsan.
Ngomong-ngomong, cuacanya mendung.
*****
Ruang tengah yang bersebelahan dengan kamar Flave. Ia baru saja mengirim surat untuk Sang-hee supaya ia mampir ke villanya. Kau tahu kenapa? Sebenarnya karena bujukan dari Anno yang ingin bertemu lagi dengan Sang-hee untuk kedua kalinya. Ah dasar, ada-ada saja kakaknya yang satu itu. Flave jadi bingung sendiri, serius. Apa Anno mengidap penyakit semacam love at the first sight sehingga ia sampai cinta mati—serius, itu berlebihan sekali—pada Sang-hee? Who knows?
Dear Sang-hee, wherever you are (hehe..),
Long time no chat, sista'! Hehe.. How are you today? Are you okay? How about your 'complicated' relationship with Alaistair? (Well, sebenarnya itu pertanyaan dari kakakku. Cemburu, sepertinya) Okay, cukup dengan basa-basinya. Ah ya, you're invited to my villa! Haha.. Seriously, aku ingin kau datang ke rumahku. Karena.. Kau akan tahu sendiri alasannya.Because i need you, Sang-hee!Hmph, itu kakakmu yang menulis dengan asal-asalan. Okay, see ya'!
Regards,
Flavarel Montezfeaturing her brother. Wakakakak..
P. S.: Dios, kemampuan bahasa Spanyolku menurun. ROFL.
Tunggu, ROFL itu apa? Rolling on the Floor?
"Puas kau sekarang, eh?" ujar Flave ketus pada Anno yang diam-diam memperhatikan di belakangnya. Huh, hanya karena ia akan menulis surat untuk Sang-hee saja, mukanya sampai mesem-mesem tidak jelas layaknya orang gila. Dan Anno hanya mengangguk puas sambil mengacak-acak rambut adiknya itu. Vena yang melihat itu dari kejauhan hanya tersenyum meringkih—lagi—sambil mendorong kursi rodanya menuju mereka berdua. "Kalian mirip anak kecil, sungguh," gumamnya datar dengan sorot tajam pada mereka berdua. "TIDAK! DIA YANG MIRIP ANAK KECIL!" jawab mereka berdua serempak. Sepertinya hampir membuat Mom yang sedang memasak di dapur hampir merasa jantungan mendengar teriakan tersebut.
Keluarga yang bahagia—tepatnya terlalu bahagia.
"Outstanding untukmu, Flavarel! Wakakakakak!!"
"Serius, kau ingin memacari Sang-hee?"
(mesem-mesem) "Of course, kenapa tidak? Mumpung orangnya cantik begitu.."
"Dasar kau, mementingkan kecantikan saja. Payah."
"Aku yakin anaknya pasti sangat periang sekali. Aku memang suka cewek seperti itu kok!" (nyengir lebar)
"Kalau kubilang dia sudah punya pacar, bagaimana?"
"Pacar? Siapa namanya!? Kau tahu tidak?"
(memandang ragu pada Anno) "Alaistair kalau tidak salah."
"..."
"Kenapa memangnya, huh?"
"AKU SANGAT YAKIN AKU AKAN MENDAPATKAN GADIS ITU!" (tersenyum seperti setan)
"Kau.. Berlebihan!"
Labels: anno, flave, graduated from hogwarts, house
12:47 AM | 0 comments
Estoy pensando en eso
12 Desember 1980. Sore menjelang malam.
"Belakangan ini kau selalu menyinggungku soal pacar. Ada apa memangnya?" hanya itu kata-kata yang terlontar dari mulut Flave. Beberapa hari ini—setelah akhirnya Anno berpikiran kalau mengharapkan Sang-hee sama saja dengan sia-sia—kakaknya yang satu itu selalu menanyakan tentang pacar. Oh well, memang apa gunanya pacar sih bagi Flave dan juga Anno? Lain orang lain jawaban, rite? Flave, yang hanya memakai t-shirt biru muda polos—ah kebetulan saja didalam villa ini hangat—dan celana training berwarna putih itu, menyenderkan dirinya ke tembok ruang tengah yang merupakan ruangan favoritnya. Yeah, barangkali selain karena jaraknya yang dekat dengan kamar tempat ini juga nyaman dan hangat daripada ruangan lain. Mata cokelat pekatnya memandang kearah mata hazel kakaknya yang penampilannya kali ini agak berantakan. Dasar laki-laki.
"Flavarel, dear, kau sudah tujuh belas tahun kemudian juga sudah lulus Hogwarts dan kau belum punya pacar?" —berdehem sebentar sambil tersenyum agak mengejek— "kau aneh, Flavarel." Dan selesailah sudah kalimatnya yang satu itu. Memang ada benarnya juga sih perkataan Anno barusan. Dia sudah lulus dari Hogwarts. Dia sudah tujuh belas tahun dan tak ada salahnya untuk merasakan yang namanya indahnya pacaran sebelum akhirnya menikah. Ahaha.. Berlebihan kau, Flave. "Memangnya kau sendiri sudah punya pacar?" —okelah, Anno. Untuk urusan pesona dalam mencari pacar, kau memang juaranya, bro'— "Kau sendiri juga sering menanyakan tentang.." dan bibirnya keburu tertutup oleh jari telunjuk milik kakaknya.
Flave segera beranjak dari tempat itu. Berusaha keluar dari situasi yang membuatnya jengah. Kakaknya terlalu banyak bertanya, apalagi masalah pacar. Mau dicarikan sekalian? Berjalan menuju dapur yang jaraknya hanya sekitar lima langkah dari ruang tengah tersebut. Alih-alih mengeluarkan diri dari situasi seperti itu, ia mengambil beberapa biskuit buatan rumah yang baru saja dibuat oleh Mom. Oh, where's her mom right now? Pergi lagi bersama Flavena-kah? "Lulus Hogwarts satu perempuan sudah kugaet, kau tahu?" Anno yang kini mengikutinya—meskipun Flave membelakanginya, sekali lagi kukatakan, mencoba menghindar dari pertanyaan-pertanyaan konyolnya—dan membelai sayang rambut Flave yang sedikit acak-acakan itu. Flave masih saja membuatkan kopi cappuccino—homemade selalu yang terbaik, you know?—untuk dirinya sendiri. "Oh, I see.." —aku bahkan tidak tahu ya, kalau ternyata selama kau di Hogwarts memiliki banyak gaetan, ujarnya dalam hati.
"Jadi jawab pertanyaanku," —jeda sebentar, menepuk kedua bahu Flave dari belakang— "kau sudah punya pacar?"
"..."
"Hmm?"
"Aku tidak yakin jawabannya benar, Anno."
"Jadi kau sudah punya pacar apa belum, huh?"
Oke, pertanyaan yang sangat susah dijawab sebetulnya. Kau tahu sendiri kan kalau akhir-akhir ini kedekatannya dengan Kevin Winchester.. Err—bisa dikatakan melebihi kedekatan sebagai teman. Ah ya, kau mengerti maksudnya kan? Tapi, Flave bisa saja menepis itu semua. Ia bisa saja berteriak kalau ia belum punya pasangan kekasih seperti beberapa teman seangkatan lainnya. Mizu dengan Haruhi, Cheezta dengan Ardith—si Tuan sok Terhormat itu (masih ingat juga dengan panggilan itu waktu tahun kedua), Yusuke—yang masih amnesia sepertinya—dengan Rei, Lulu dengan Stanley, dan yang lainnya tidak Flave ketahui. Salahkan dia yang jarang mendengar gosip dari Serafina McKelsie yang tukang gosip paling terkenal seantero Hogwarts. Oh ya, kembali ke persoalan. Ia bisa saja menganggap dirinya tidak sedang dekat dengan lelaki manapun, tapi kedekatannya dengan Kevin bisa terbaca dengan jelas. Terlebih saat reuni dadakan di Diagon Alley.
Oke, cukup.
"Belum, sepertinya,"
Kebohongan terbesarmu, Flavarel Allesha Montez, pada kakakmu sendiri.
"Belakangan ini kau selalu menyinggungku soal pacar. Ada apa memangnya?" hanya itu kata-kata yang terlontar dari mulut Flave. Beberapa hari ini—setelah akhirnya Anno berpikiran kalau mengharapkan Sang-hee sama saja dengan sia-sia—kakaknya yang satu itu selalu menanyakan tentang pacar. Oh well, memang apa gunanya pacar sih bagi Flave dan juga Anno? Lain orang lain jawaban, rite? Flave, yang hanya memakai t-shirt biru muda polos—ah kebetulan saja didalam villa ini hangat—dan celana training berwarna putih itu, menyenderkan dirinya ke tembok ruang tengah yang merupakan ruangan favoritnya. Yeah, barangkali selain karena jaraknya yang dekat dengan kamar tempat ini juga nyaman dan hangat daripada ruangan lain. Mata cokelat pekatnya memandang kearah mata hazel kakaknya yang penampilannya kali ini agak berantakan. Dasar laki-laki.
"Flavarel, dear, kau sudah tujuh belas tahun kemudian juga sudah lulus Hogwarts dan kau belum punya pacar?" —berdehem sebentar sambil tersenyum agak mengejek— "kau aneh, Flavarel." Dan selesailah sudah kalimatnya yang satu itu. Memang ada benarnya juga sih perkataan Anno barusan. Dia sudah lulus dari Hogwarts. Dia sudah tujuh belas tahun dan tak ada salahnya untuk merasakan yang namanya indahnya pacaran sebelum akhirnya menikah. Ahaha.. Berlebihan kau, Flave. "Memangnya kau sendiri sudah punya pacar?" —okelah, Anno. Untuk urusan pesona dalam mencari pacar, kau memang juaranya, bro'— "Kau sendiri juga sering menanyakan tentang.." dan bibirnya keburu tertutup oleh jari telunjuk milik kakaknya.
Flave segera beranjak dari tempat itu. Berusaha keluar dari situasi yang membuatnya jengah. Kakaknya terlalu banyak bertanya, apalagi masalah pacar. Mau dicarikan sekalian? Berjalan menuju dapur yang jaraknya hanya sekitar lima langkah dari ruang tengah tersebut. Alih-alih mengeluarkan diri dari situasi seperti itu, ia mengambil beberapa biskuit buatan rumah yang baru saja dibuat oleh Mom. Oh, where's her mom right now? Pergi lagi bersama Flavena-kah? "Lulus Hogwarts satu perempuan sudah kugaet, kau tahu?" Anno yang kini mengikutinya—meskipun Flave membelakanginya, sekali lagi kukatakan, mencoba menghindar dari pertanyaan-pertanyaan konyolnya—dan membelai sayang rambut Flave yang sedikit acak-acakan itu. Flave masih saja membuatkan kopi cappuccino—homemade selalu yang terbaik, you know?—untuk dirinya sendiri. "Oh, I see.." —aku bahkan tidak tahu ya, kalau ternyata selama kau di Hogwarts memiliki banyak gaetan, ujarnya dalam hati.
"Jadi jawab pertanyaanku," —jeda sebentar, menepuk kedua bahu Flave dari belakang— "kau sudah punya pacar?"
"..."
"Hmm?"
"Aku tidak yakin jawabannya benar, Anno."
"Jadi kau sudah punya pacar apa belum, huh?"
Oke, pertanyaan yang sangat susah dijawab sebetulnya. Kau tahu sendiri kan kalau akhir-akhir ini kedekatannya dengan Kevin Winchester.. Err—bisa dikatakan melebihi kedekatan sebagai teman. Ah ya, kau mengerti maksudnya kan? Tapi, Flave bisa saja menepis itu semua. Ia bisa saja berteriak kalau ia belum punya pasangan kekasih seperti beberapa teman seangkatan lainnya. Mizu dengan Haruhi, Cheezta dengan Ardith—si Tuan sok Terhormat itu (masih ingat juga dengan panggilan itu waktu tahun kedua), Yusuke—yang masih amnesia sepertinya—dengan Rei, Lulu dengan Stanley, dan yang lainnya tidak Flave ketahui. Salahkan dia yang jarang mendengar gosip dari Serafina McKelsie yang tukang gosip paling terkenal seantero Hogwarts. Oh ya, kembali ke persoalan. Ia bisa saja menganggap dirinya tidak sedang dekat dengan lelaki manapun, tapi kedekatannya dengan Kevin bisa terbaca dengan jelas. Terlebih saat reuni dadakan di Diagon Alley.
Oke, cukup.
"Belum, sepertinya,"
Kebohongan terbesarmu, Flavarel Allesha Montez, pada kakakmu sendiri.
Labels: flave, graduated from hogwarts, house
as written on; Friday, April 24, 2009
2:44 AM | 0 comments
Another Day — 2
"Hmm.. I see," hanya kata-kata itu yang ia ucapkan untuk menanggapi perkataan Mizu. Tapi mungkin barangkali beberapa orang juga akan datang menghampiri tempat ini, terutama yang sudah lulus dari Hogwarts—sama seperti waktu di Diagon Alley tahun lalu. Mengulang perkenalan lah—didasari dari Francis yang mengajak mereka mengulang kembali perkenalan sekaligus berusaha agar Yusuke 'keluar' dari amnesianya—pokoknya sampai jalanan yang seharusnya dipenuhi oleh anak-anak calon murid sekolah yang dikepalai oleh Profesor Dumbledore malah menjadi tambah ramai. Nostalgila, ahahahaha..
"Té extrańo—"
Suara itu, bohong kalau dia lupa siapa pemilik suara itu. Ia langsung menolehkan kepalanya menuju lelaki tersebut. Kau tahu siapa dia kan?
"—Querido."
Lelaki rambut ikal berwarna cokelat itu—Kevin. Winchester.
"Belakangan ini kau selalu menyinggungku soal pacar. Ada apa memangnya?"
(tersenyum jahil) "Flavarel, dear, kau sudah tujuh belas tahun kemudian juga sudah lulus Hogwarts dan kau belum punya pacar?"
"Eh? Memangnya kau sendiri sudah punya pacar? Kau sendiri juga sering menanyakan tentang—" (mencibir)
"Woohoo. Jangan salah. Lulus Hogwarts satu perempuan sudah kugaet, kau tahu?"
"Oh, I see.."
"Jadi jawab pertanyaanku," (menepuk kedua bahu Flave) "kau sudah punya pacar?"
"..."
"Hmm?"
"Aku tidak yakin jawabannya benar, Anno."
Jujur sejujur-jujurnya, ia bahkan bingung mau menjawab apa. Flave hanya tersenyum kecil dan malah mencubit pipinya—seolah dia adalah bayi. "Haruskah kubilang kalau kau memang gombal?" ia langsung terkekeh kecil tanpa memperdulikan respon balik dari pria tersebut. Haruskah Flave menyebutnya sebagai pacar, padahal—kalau menurut Flave sendiri—mereka belum resmi berpacaran? "But I miss you too," —tak ada angin tak ada hujan, ia mengecup pipi kanan Kevin— "Dear.." Ia tidak mau disebut orang yang mengumbar kemesraan di tempat umum. Jadi, ya, wajar saja kalau kecupan itu tak berlangsung lama. Pipinya mendadak langsung menjadi merah semu.
Dan membicarakan topik yang diangkat oleh senior Goldwin barusan, nampaknya itu membuat beberapa orang—maksudnya beberapa orang angkatannya dan angkatan sebelumnya berdatangan, meskipun ia sendiri tahu kalau itu memang kebetulan. Kebetulan yang terjadi dua kali. Senior Recha McFadden—mantan ketua Charm and Spell club dan alumni Slytherin—baru saja menawarkan semua orang lulusan Hogwarts itu (termasuk dirinya sendiri, of course) untuk duduk. Yeah, mengapa sedari tadi kita hanya berdiri saja, padahal mungkin beberapa orang pegal untuk berdiri dalam jangka waktu yang agak lama. Mulai banyak lagi yang berdatangan. Cheezta, Lulu, Yusuke, Rei, dan Stan. Duo pasangan incest dari Gryffindor. Stan dan Lulu, juga Yusuke dan Rei. Lucu rasanya melihat mereka berdua saling berdekatan satu sama lain. Haha.. Ngomong apalagi kau ini, Flave?
Ia menoleh kepada seseorang yang menyahut keras tepat dibelakangnya.
Bernadette? Orang yang pernah ia temui di pelataran Albert Memorial itu?
Ia hanya menoleh sebentar sampai ia merasa kalau ia sedang dilirik oleh Cheezta. Karena kedekatannya dengan Kevin, hm? "Hai Cheezta," sapanya sambil menepuk bahu teman sekamarnya selama tujuh tahun itu. Flave tak akan pernah lupa dengan masa-masa mereka bersama itu. Melirik sedikit kearah Kevin yang bertemu Cheezta yang notabene adalah sahabatnya. Flave langsung mengalihkan perhatiannya ketika senior McFadden menanyakan tentang Phillipe Blanche kepada Lulu. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan oleh seniornya itu—sangat terbaca dari matanya. "Ada masalah dengan Blanche?" tanyanya dengan nada penasaran. Oke, sebut ia sok kenal sok dekat. Tapi, bagi Flave, seluruh anak yang tergabung dalam angkatannya adalah temannya juga.
"Jadi kau sudah punya pacar apa belum, huh?"
(menunduk sambil tersenyum malu) "Belum, sepertinya.."
Jadi kau anggap Kevin itu siapa, huh? Sekedar teman?
"Té extrańo—"
Suara itu, bohong kalau dia lupa siapa pemilik suara itu. Ia langsung menolehkan kepalanya menuju lelaki tersebut. Kau tahu siapa dia kan?
"—Querido."
Lelaki rambut ikal berwarna cokelat itu—Kevin. Winchester.
"Belakangan ini kau selalu menyinggungku soal pacar. Ada apa memangnya?"
(tersenyum jahil) "Flavarel, dear, kau sudah tujuh belas tahun kemudian juga sudah lulus Hogwarts dan kau belum punya pacar?"
"Eh? Memangnya kau sendiri sudah punya pacar? Kau sendiri juga sering menanyakan tentang—" (mencibir)
"Woohoo. Jangan salah. Lulus Hogwarts satu perempuan sudah kugaet, kau tahu?"
"Oh, I see.."
"Jadi jawab pertanyaanku," (menepuk kedua bahu Flave) "kau sudah punya pacar?"
"..."
"Hmm?"
"Aku tidak yakin jawabannya benar, Anno."
Jujur sejujur-jujurnya, ia bahkan bingung mau menjawab apa. Flave hanya tersenyum kecil dan malah mencubit pipinya—seolah dia adalah bayi. "Haruskah kubilang kalau kau memang gombal?" ia langsung terkekeh kecil tanpa memperdulikan respon balik dari pria tersebut. Haruskah Flave menyebutnya sebagai pacar, padahal—kalau menurut Flave sendiri—mereka belum resmi berpacaran? "But I miss you too," —tak ada angin tak ada hujan, ia mengecup pipi kanan Kevin— "Dear.." Ia tidak mau disebut orang yang mengumbar kemesraan di tempat umum. Jadi, ya, wajar saja kalau kecupan itu tak berlangsung lama. Pipinya mendadak langsung menjadi merah semu.
Dan membicarakan topik yang diangkat oleh senior Goldwin barusan, nampaknya itu membuat beberapa orang—maksudnya beberapa orang angkatannya dan angkatan sebelumnya berdatangan, meskipun ia sendiri tahu kalau itu memang kebetulan. Kebetulan yang terjadi dua kali. Senior Recha McFadden—mantan ketua Charm and Spell club dan alumni Slytherin—baru saja menawarkan semua orang lulusan Hogwarts itu (termasuk dirinya sendiri, of course) untuk duduk. Yeah, mengapa sedari tadi kita hanya berdiri saja, padahal mungkin beberapa orang pegal untuk berdiri dalam jangka waktu yang agak lama. Mulai banyak lagi yang berdatangan. Cheezta, Lulu, Yusuke, Rei, dan Stan. Duo pasangan incest dari Gryffindor. Stan dan Lulu, juga Yusuke dan Rei. Lucu rasanya melihat mereka berdua saling berdekatan satu sama lain. Haha.. Ngomong apalagi kau ini, Flave?
Ia menoleh kepada seseorang yang menyahut keras tepat dibelakangnya.
Bernadette? Orang yang pernah ia temui di pelataran Albert Memorial itu?
Ia hanya menoleh sebentar sampai ia merasa kalau ia sedang dilirik oleh Cheezta. Karena kedekatannya dengan Kevin, hm? "Hai Cheezta," sapanya sambil menepuk bahu teman sekamarnya selama tujuh tahun itu. Flave tak akan pernah lupa dengan masa-masa mereka bersama itu. Melirik sedikit kearah Kevin yang bertemu Cheezta yang notabene adalah sahabatnya. Flave langsung mengalihkan perhatiannya ketika senior McFadden menanyakan tentang Phillipe Blanche kepada Lulu. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan oleh seniornya itu—sangat terbaca dari matanya. "Ada masalah dengan Blanche?" tanyanya dengan nada penasaran. Oke, sebut ia sok kenal sok dekat. Tapi, bagi Flave, seluruh anak yang tergabung dalam angkatannya adalah temannya juga.
"Jadi kau sudah punya pacar apa belum, huh?"
(menunduk sambil tersenyum malu) "Belum, sepertinya.."
Jadi kau anggap Kevin itu siapa, huh? Sekedar teman?
Labels: flave, graduated from hogwarts, reunion
2:39 AM | 0 comments
Another Day — 1
Eaaa~ =)) Reuni dadakan lagi yang kini diadakan di Three Broomstick. Ah, many thanks buat Mizu yang udah bikin thread ini sehingga akhirnya gw ada kerjaan juga (baca: ngerepp as Flave yang notabene adalah siswa PPS 1980) dan melupakan sejenak dua anak yang nyangsang di tahun pertama. Haha.. *digapruk*
Apa kabarnya Hogwarts sekarang ya? Masih baik-baik saja seperti dulukah?
Segala macam pertanyaan mengenai Hogwarts beserta seluruh keajaiban yang termasuk didalamnya langsung mendadak muncul di benak Flave. Jujur, Flave kangen dengan Hogwarts. Ah iya, sampai lupa. Sekarang musim dingin, dan biasanya murid-murid kelas tiga keatas selalu mengunjungi Hogsmeade, desa penyihir yang terkenal itu. Kenapa ia tidak kesana saja sekarang? Beruntunglah Flave yang sudah lulus, kini bisa memanfaatkan kemampuannya untuk berapparate kesana kemari—ke beberapa tempat tertentu. Gila saja kalau kau berapparate ke tempat umum yang dikunjungi banyak Muggle, dan kau penyihir sendirian? Tindakan yang keterlaluan itu namanya.
POP!
"Jangan lupa titipkan pesanku pada—eh?" suara Anno masih terngiang-ngiang di telinganya, seperti seekor nyamuk yang mendengung persis di telinganya, mengganggu pendengaran saja. Flave sudah tahu kok apa yang akan ia katakan selanjutnya. Euh, dasar kakaknya sekarang mulai berkelakuan manja pada adiknya sendiri. Maklum sajalah,orang yang dilanda mabuk asmara—kata-kata macam apa pula itu?
*****
High Street, Hogsmeade.
Rasa-rasanya Hogsmeade tidak pernah sesepi ini. Sejauh yang Flave tahu, tempat ini biasanya ramai oleh anak-anak Hogwarts kelas tiga keatas untuk mengikuti kunjungan ke desa ini. Apa mungkin karena takut terjadinya penyerangan tiba-tiba dari antek Dia-yang-tidak-boleh-disebut-namanya yang menamakan dirinya Pelahap Maut—kenapa tidak ada Pelahap Hidup saja? Kalau Flave sih ya pelahap makanan; ah meracau saja kau, Flave. Oke, kembali ke permasalahan. Flave yang kini mulai melepaskan tudung capuchon biru tuanya—kalau dilihat dari jauh seperti warna hitam, hanya membisu melihat situasi kondisi tempat tersebut. Iris coklatnya—dengan mudahnya—menangkap apa yang ia lihat. Sepi, seriusan. Jejak langkah kaki yang hanya beberapa sangat terlihat, padahal hari itu tidak bersalju. Atau barusan bersalju, tapi saat Flave datang tidak bersalju lagi?
Let's go around theworld Hogsmeade!
The Three Broomstick. Jujur, sepertinya sekalipun ia belum berkunjung kesana. Ah payahnya Flave ini, betul tidak? Sering ke Hogsmeade tetapi belum pernah sekalipun mengunjungi tempat minum paling nyaman tersebut. Ah ya, berterima kasihlah kepada Madam Rosmerta—empunya tempat tersebut, barangkali—yang membuat suasana tempat itu bisa dibilang sangat nyaman oleh beberapa orang yang pernah kesana.
Masuk saja, Flave, dan nikmati sendiri kenyamanan yang ditawarkan The Three Broomstick.
Dentingan lonceng terdengar mendengung di telinganya. Ya Tuhan, apa ini memang bunyinya seperti itu, atau telinga Flave yang sedang mengalami kelainan kecil? Entahlah, yang jelas nanti bisa diatasi dengan sendirinya. Sama sepinya dengan keadaan di luar sana. Hanya saja ada beberapa pengunjung yang datang kesitu. Flave jadi berpikir, apakah mulai tahun ini tidak akan ada lagi kunjungan ke Hogsmeade? Sayang sekali padahal, Flave ingin sekali bereuni lagi dengan anak-anak musang. Haha.. Terutama—Flave yakin semua musang juga sangat ingin bertemu dengan remaja tersebut—Balin Al-Kazaf, pemimpin Bayi Musang—Bamus—yang merangkap Prefek dan Kapten Quidditch. Hahaha.. Memang kebanggaan Hufflepuff sih dia itu.
"Kok—kayaknya kenal kamu, deh? Hoh? Halo Paman Dumbledore... rambut Anda kenapa jadi hitam begini? Pakai obat anti-keriput darima—na?"
Eh? Jadi Dumbledore ada disini juga? Terlebih lagi, kepala sekolah itu mulai menyemir rambutnya?
"Apa yang kau lakukan—Miss Kurata? dan kau Miss Winterfield?? kenapa kalian disini?"
Err—reuni kecil-kecilan lagi seperti yang terjadi di Diagon Alley tahun lalu? Penasaran, ia segera ikut dalam kerubungan orang tersebut. Hey, itu.. Mizu, senior Naoko, senior Evania, senior Arzu, dan Madam Poppy. Ah senangnya bisa bertemu mereka lagi. "Hai semua," —ia tersenyum ramah ketika ia bergabung dengan kerubungan tersebut, sangat Huffle sekali— "reuni kecil-kecilan—lagi?" tanyanya penasaran.
Setidaknya disini tidak membuat Counterphobianya muncul lagi. Haha..
Apa kabarnya Hogwarts sekarang ya? Masih baik-baik saja seperti dulukah?
Segala macam pertanyaan mengenai Hogwarts beserta seluruh keajaiban yang termasuk didalamnya langsung mendadak muncul di benak Flave. Jujur, Flave kangen dengan Hogwarts. Ah iya, sampai lupa. Sekarang musim dingin, dan biasanya murid-murid kelas tiga keatas selalu mengunjungi Hogsmeade, desa penyihir yang terkenal itu. Kenapa ia tidak kesana saja sekarang? Beruntunglah Flave yang sudah lulus, kini bisa memanfaatkan kemampuannya untuk berapparate kesana kemari—ke beberapa tempat tertentu. Gila saja kalau kau berapparate ke tempat umum yang dikunjungi banyak Muggle, dan kau penyihir sendirian? Tindakan yang keterlaluan itu namanya.
POP!
"Jangan lupa titipkan pesanku pada—eh?" suara Anno masih terngiang-ngiang di telinganya, seperti seekor nyamuk yang mendengung persis di telinganya, mengganggu pendengaran saja. Flave sudah tahu kok apa yang akan ia katakan selanjutnya. Euh, dasar kakaknya sekarang mulai berkelakuan manja pada adiknya sendiri. Maklum sajalah,orang yang dilanda mabuk asmara—kata-kata macam apa pula itu?
*****
High Street, Hogsmeade.
Rasa-rasanya Hogsmeade tidak pernah sesepi ini. Sejauh yang Flave tahu, tempat ini biasanya ramai oleh anak-anak Hogwarts kelas tiga keatas untuk mengikuti kunjungan ke desa ini. Apa mungkin karena takut terjadinya penyerangan tiba-tiba dari antek Dia-yang-tidak-boleh-disebut-namanya yang menamakan dirinya Pelahap Maut—kenapa tidak ada Pelahap Hidup saja? Kalau Flave sih ya pelahap makanan; ah meracau saja kau, Flave. Oke, kembali ke permasalahan. Flave yang kini mulai melepaskan tudung capuchon biru tuanya—kalau dilihat dari jauh seperti warna hitam, hanya membisu melihat situasi kondisi tempat tersebut. Iris coklatnya—dengan mudahnya—menangkap apa yang ia lihat. Sepi, seriusan. Jejak langkah kaki yang hanya beberapa sangat terlihat, padahal hari itu tidak bersalju. Atau barusan bersalju, tapi saat Flave datang tidak bersalju lagi?
Let's go around the
The Three Broomstick. Jujur, sepertinya sekalipun ia belum berkunjung kesana. Ah payahnya Flave ini, betul tidak? Sering ke Hogsmeade tetapi belum pernah sekalipun mengunjungi tempat minum paling nyaman tersebut. Ah ya, berterima kasihlah kepada Madam Rosmerta—empunya tempat tersebut, barangkali—yang membuat suasana tempat itu bisa dibilang sangat nyaman oleh beberapa orang yang pernah kesana.
Masuk saja, Flave, dan nikmati sendiri kenyamanan yang ditawarkan The Three Broomstick.
Dentingan lonceng terdengar mendengung di telinganya. Ya Tuhan, apa ini memang bunyinya seperti itu, atau telinga Flave yang sedang mengalami kelainan kecil? Entahlah, yang jelas nanti bisa diatasi dengan sendirinya. Sama sepinya dengan keadaan di luar sana. Hanya saja ada beberapa pengunjung yang datang kesitu. Flave jadi berpikir, apakah mulai tahun ini tidak akan ada lagi kunjungan ke Hogsmeade? Sayang sekali padahal, Flave ingin sekali bereuni lagi dengan anak-anak musang. Haha.. Terutama—Flave yakin semua musang juga sangat ingin bertemu dengan remaja tersebut—Balin Al-Kazaf, pemimpin Bayi Musang—Bamus—yang merangkap Prefek dan Kapten Quidditch. Hahaha.. Memang kebanggaan Hufflepuff sih dia itu.
"Kok—kayaknya kenal kamu, deh? Hoh? Halo Paman Dumbledore... rambut Anda kenapa jadi hitam begini? Pakai obat anti-keriput darima—na?"
Eh? Jadi Dumbledore ada disini juga? Terlebih lagi, kepala sekolah itu mulai menyemir rambutnya?
"Apa yang kau lakukan—Miss Kurata? dan kau Miss Winterfield?? kenapa kalian disini?"
Err—reuni kecil-kecilan lagi seperti yang terjadi di Diagon Alley tahun lalu? Penasaran, ia segera ikut dalam kerubungan orang tersebut. Hey, itu.. Mizu, senior Naoko, senior Evania, senior Arzu, dan Madam Poppy. Ah senangnya bisa bertemu mereka lagi. "Hai semua," —ia tersenyum ramah ketika ia bergabung dengan kerubungan tersebut, sangat Huffle sekali— "reuni kecil-kecilan—lagi?" tanyanya penasaran.
Setidaknya disini tidak membuat Counterphobianya muncul lagi. Haha..
Labels: flave, graduated from hogwarts, reunion
2:36 AM | 0 comments
Hello, You Found Me — 2
Jadi, apa yang akan dia lakukan disini?
Tidak ada.
...
Tidak ada. Lagipula untuk apa dia datang kesini? Menunggu Winchester datang mengagetkannya dan kemudian mengecup keningnya, yang pada akhirnya pertemuan itu berubah menjadi sebuah kencan, sepertinya bukan hal yang mungkin ia lakukan pada saat itu. Dan bisa dibilang, ia akan sangat ge-er kalo memang itulah yang terjadi dalam beberapa detik nanti. Matanya masih terpaku pada Albert Memorial. Menatapnya dengan tatapan kosong, pikirannya pergi ke lain tujuan. Padahal kenapa tadi dia tidak ikut dengan Anno saja, pergi ke cafetaria dekat Diana Memorial Playground dan menikmati udara siang menjelang sore bersama kakaknya sambil barangkali menyeruput teh kesukaannya. Yeah, kadang otaknya tidak bisa diajak berkompromi seperti itu. So, jangan salahkan Flave.
"Hi..." sapa seseorang. Suaranya terdengar familiar, tapi sebetulnya ia tidak yakin kalau ia sangat mengenal suara itu. But, hey, suara itu mirip seperti.. "Kev—" okay, ia sangat mengharapkan orang itu datang; terlanjur kangen. "—senior Alfa?" volume suaranya sedikit diperbesar. Tidak ia sangka kalau seniornya akan berkunjung kesini juga. Diluar dugaan; sangat. Seorang dari beberapa senior Hufflepuff yang jarang sekali ia temui, sejak dirinya bertemu dengan senior Alfa di—err, dia lupa. Barangkali waktu pesta awal tahun ajaran sehabis ia mengikuti seleksi asrama yangditayangkan secara live dihadapan semua murid-murid Hogwarts. Seperti seseorang yang sedang diadili di sebuah kantor pengadilan atau apapun itu namanya.. Oh, maaf saja kalau berlebihan. "Apa kabar, emm—Senior?" basa-basi yang basi.
Wajar kan menanyakan kabar kepada orang yang sepertinya sudah sangat jarang ia temui itu?
Yeah, tapi basi.
Untuk membuka topik, bukan masalah kan? Lagipula, buat apa juga langsung menanyakan tentang para antek Dia-yang-lebih-baik-tidak-usah-punya-nama-deh (versi Flave) yang sedang—berjaya?
...
Flave wins the competitions. Bahkan pertanyaan seputar itupun tidak pernah terlintas dalam pikirannya sama sekali. Serius. Matanya yang sedari tadi berputar tidak jelas—yang barangkali menyebabkan senior Alfa menganggap Flave mengidap penyakit mata yang kritis sehingga membutuhkan perawatan dari dokter yang berpengalaman barangkali selama satu abad (berlebihan, lagi)—kini hanya mengerling sebentar pada orang yang sedang duduk di bangku panjang yang berjarak.. Dekat lah. Perlu diberitahu secara spesifik berapa jarak antara dirinya dengan bangku tersebut? Ribet. Oke, kembali membahas orang itu. Yeah, orang itu yang sedang duduk di sebuah bangku panjang yang tidak Flave sadari sebelumnya sambil melihat sebuah buku—kalau di Hogwarts, barangkali inilah tipe anak Ravenclaw—dan langsung menegakkan kepalanya.
Satu orang lagi yang ia kenal di Hogwarts. "Bernadette?"
Sok kenal sok dekat—
—dan satu lagi—
—Flave bagaikan perawan di sarang penyamun.
Tidak ada.
...
Tidak ada. Lagipula untuk apa dia datang kesini? Menunggu Winchester datang mengagetkannya dan kemudian mengecup keningnya, yang pada akhirnya pertemuan itu berubah menjadi sebuah kencan, sepertinya bukan hal yang mungkin ia lakukan pada saat itu. Dan bisa dibilang, ia akan sangat ge-er kalo memang itulah yang terjadi dalam beberapa detik nanti. Matanya masih terpaku pada Albert Memorial. Menatapnya dengan tatapan kosong, pikirannya pergi ke lain tujuan. Padahal kenapa tadi dia tidak ikut dengan Anno saja, pergi ke cafetaria dekat Diana Memorial Playground dan menikmati udara siang menjelang sore bersama kakaknya sambil barangkali menyeruput teh kesukaannya. Yeah, kadang otaknya tidak bisa diajak berkompromi seperti itu. So, jangan salahkan Flave.
"Hi..." sapa seseorang. Suaranya terdengar familiar, tapi sebetulnya ia tidak yakin kalau ia sangat mengenal suara itu. But, hey, suara itu mirip seperti.. "Kev—" okay, ia sangat mengharapkan orang itu datang; terlanjur kangen. "—senior Alfa?" volume suaranya sedikit diperbesar. Tidak ia sangka kalau seniornya akan berkunjung kesini juga. Diluar dugaan; sangat. Seorang dari beberapa senior Hufflepuff yang jarang sekali ia temui, sejak dirinya bertemu dengan senior Alfa di—err, dia lupa. Barangkali waktu pesta awal tahun ajaran sehabis ia mengikuti seleksi asrama yangditayangkan secara live dihadapan semua murid-murid Hogwarts. Seperti seseorang yang sedang diadili di sebuah kantor pengadilan atau apapun itu namanya.. Oh, maaf saja kalau berlebihan. "Apa kabar, emm—Senior?" basa-basi yang basi.
Wajar kan menanyakan kabar kepada orang yang sepertinya sudah sangat jarang ia temui itu?
Yeah, tapi basi.
Untuk membuka topik, bukan masalah kan? Lagipula, buat apa juga langsung menanyakan tentang para antek Dia-yang-lebih-baik-tidak-usah-punya-nama-deh (versi Flave) yang sedang—berjaya?
...
Flave wins the competitions. Bahkan pertanyaan seputar itupun tidak pernah terlintas dalam pikirannya sama sekali. Serius. Matanya yang sedari tadi berputar tidak jelas—yang barangkali menyebabkan senior Alfa menganggap Flave mengidap penyakit mata yang kritis sehingga membutuhkan perawatan dari dokter yang berpengalaman barangkali selama satu abad (berlebihan, lagi)—kini hanya mengerling sebentar pada orang yang sedang duduk di bangku panjang yang berjarak.. Dekat lah. Perlu diberitahu secara spesifik berapa jarak antara dirinya dengan bangku tersebut? Ribet. Oke, kembali membahas orang itu. Yeah, orang itu yang sedang duduk di sebuah bangku panjang yang tidak Flave sadari sebelumnya sambil melihat sebuah buku—kalau di Hogwarts, barangkali inilah tipe anak Ravenclaw—dan langsung menegakkan kepalanya.
Satu orang lagi yang ia kenal di Hogwarts. "Bernadette?"
Sok kenal sok dekat—
—dan satu lagi—
—Flave bagaikan perawan di sarang penyamun.
Labels: flave, graduated from hogwarts, little reunion
2:30 AM | 0 comments
Hello, You Found Me — 1
Guoman Tower (formally Tower Thistle), St Katherine's Way, City of London, E1W 1LD
"Jadi, Flavarel, tidak apa-apa kan kita menginap disini untuk sementara?" suara lembut itu menggetarkan gendang telinga Flave. Gadis berusia delapan belas tahun itu hanya bisa mengangguk pelan dan tersenyum manis pada Mom. Sebenarnya, Flave bisa saja langsung pulang ke villanya di Chelsea. Hanya saja dengan alasan klasik dari Mom—disewakan, yeah, bukan masalah kan?—mereka bertiga (Mom, Anno, dan Flave) akhirnya memutuskan untuk menginap di hotel bintang empat. Wow.. Dekat dengan London Bridge pula. Sangat dekat malahan, kau hanya bisa berjalan dua menit untuk sampai di London Bridge dan menikmati pemandangan dermaga St. Katharine yang indah. Cepat-cepat ia melangkah menuju kamar yang sudah dipesan oleh Mom. Barusan kata Mom, mereka akan jalan-jalan berkeliling daerah London.
Bersama kakak laki-lakinya yang super menyebalkan, Anno. Naik mobil pribadinya, tentu saja. Kenapa tidak Apparate saja sekalian? Toh, mereka sama-sama bersekolah di Hogwarts ini, kok!
"So, kemana temanmu yang di Hogwarts itu? Err—siapa sih namanya?"
Kakaknya tiba-tiba membuka pembicaraan dengan menanyakan teman Flave. Teman Hogwarts yang mana? Rasa-rasanya Flave punya banyak teman di sekolah lamanya itu, meski tidak terlalu sering bersosialisasi. Dan rasanya.. Anno belum pernah bertemu dengan siapapun temannya yang satu sekolah dengannya itu. "Yang mana—awas!" Flave sedikit mengagetkan kakaknya yang sedang menyetir itu. Bagaimana tidak coba? Anno terlihat tidak terlalu konsentrasi menyetir sampai hampir menyerempet bus nomor 10 dengan tujuan Hammersmith – Kings Cross. Fiuh. "Sudah kubilang kan? Kalau kau masih capek, kenapa juga harus mengantarku ke Kensington?" kini Flave menggerutu pada kakaknya. Tatapannya masih lurus kedepan, takut kejadian itu terulang lagi. "Hampir saja.." gumam Anno. Ah, dasar tidak nyambung! Ditanya malah menjawab yang aneh-aneh.
Kensington Garden
Ah, sampai juga di tempat ini. Flave langsung menarik nafas panjang ketika ia turun dari mobil kakaknya yang hampir menyerempet bus itu. Begitu pula dengan Anno yang dengan jahilnya mengikuti setiap gerak-gerik yang Flave lakukan. Mengetahui itu, ia langsung melirik tajam kearah Anno. Oh well, mari kita lupakan soal mobil-yang-hampir-menyerempet-bus-yang-menuju-King's-Cross tadi. Anno yang tadi mengandeng tangan Flave—bisa dikatakan seperti orang yang berpacaran—langsung pergi menuju cafe yang terletak didekat Diana Memorial Playground. Ah, ya sudahlah.
Sementara Flave hanya melangkah pelan menuju Albert Memorial yang katanya terdapat berbagai macam patung yang menarik. Langkahnya semakin pelan ketika ia mengingat pertemuan terakhirnya dengan seluruh keluarga besar Hufflepuff. Yeah, seperti yang kukatakan sebelumnya, terlalu berat untuk meninggalkan mereka. Mereka memang sudah menjadi keluarga kedua bagi Flave. Keluarga dimana mereka berbagi suka dan duka. Hmm.. Yeah, walau bagaimanapun, hari itu akan datang juga. Mungkin perasaan Flave akan sama dengan para seniornya yang terlebih dahulu meninggalkan Hogwarts. Apa mungkin perasaan itu langsung hilang begitu saja?
Ia berharap ada seseorang yang datang kesini. Semoga saja.. dia yang datang.
Ngomong-ngomong, pertanyaan yang tadi Flave tanyakan belum dijawab juga oleh Anno. Sial.
"Jadi, Flavarel, tidak apa-apa kan kita menginap disini untuk sementara?" suara lembut itu menggetarkan gendang telinga Flave. Gadis berusia delapan belas tahun itu hanya bisa mengangguk pelan dan tersenyum manis pada Mom. Sebenarnya, Flave bisa saja langsung pulang ke villanya di Chelsea. Hanya saja dengan alasan klasik dari Mom—disewakan, yeah, bukan masalah kan?—mereka bertiga (Mom, Anno, dan Flave) akhirnya memutuskan untuk menginap di hotel bintang empat. Wow.. Dekat dengan London Bridge pula. Sangat dekat malahan, kau hanya bisa berjalan dua menit untuk sampai di London Bridge dan menikmati pemandangan dermaga St. Katharine yang indah. Cepat-cepat ia melangkah menuju kamar yang sudah dipesan oleh Mom. Barusan kata Mom, mereka akan jalan-jalan berkeliling daerah London.
Bersama kakak laki-lakinya yang super menyebalkan, Anno. Naik mobil pribadinya, tentu saja. Kenapa tidak Apparate saja sekalian? Toh, mereka sama-sama bersekolah di Hogwarts ini, kok!
"So, kemana temanmu yang di Hogwarts itu? Err—siapa sih namanya?"
Kakaknya tiba-tiba membuka pembicaraan dengan menanyakan teman Flave. Teman Hogwarts yang mana? Rasa-rasanya Flave punya banyak teman di sekolah lamanya itu, meski tidak terlalu sering bersosialisasi. Dan rasanya.. Anno belum pernah bertemu dengan siapapun temannya yang satu sekolah dengannya itu. "Yang mana—awas!" Flave sedikit mengagetkan kakaknya yang sedang menyetir itu. Bagaimana tidak coba? Anno terlihat tidak terlalu konsentrasi menyetir sampai hampir menyerempet bus nomor 10 dengan tujuan Hammersmith – Kings Cross. Fiuh. "Sudah kubilang kan? Kalau kau masih capek, kenapa juga harus mengantarku ke Kensington?" kini Flave menggerutu pada kakaknya. Tatapannya masih lurus kedepan, takut kejadian itu terulang lagi. "Hampir saja.." gumam Anno. Ah, dasar tidak nyambung! Ditanya malah menjawab yang aneh-aneh.
Kensington Garden
Ah, sampai juga di tempat ini. Flave langsung menarik nafas panjang ketika ia turun dari mobil kakaknya yang hampir menyerempet bus itu. Begitu pula dengan Anno yang dengan jahilnya mengikuti setiap gerak-gerik yang Flave lakukan. Mengetahui itu, ia langsung melirik tajam kearah Anno. Oh well, mari kita lupakan soal mobil-yang-hampir-menyerempet-bus-yang-menuju-King's-Cross tadi. Anno yang tadi mengandeng tangan Flave—bisa dikatakan seperti orang yang berpacaran—langsung pergi menuju cafe yang terletak didekat Diana Memorial Playground. Ah, ya sudahlah.
Sementara Flave hanya melangkah pelan menuju Albert Memorial yang katanya terdapat berbagai macam patung yang menarik. Langkahnya semakin pelan ketika ia mengingat pertemuan terakhirnya dengan seluruh keluarga besar Hufflepuff. Yeah, seperti yang kukatakan sebelumnya, terlalu berat untuk meninggalkan mereka. Mereka memang sudah menjadi keluarga kedua bagi Flave. Keluarga dimana mereka berbagi suka dan duka. Hmm.. Yeah, walau bagaimanapun, hari itu akan datang juga. Mungkin perasaan Flave akan sama dengan para seniornya yang terlebih dahulu meninggalkan Hogwarts. Apa mungkin perasaan itu langsung hilang begitu saja?
Ia berharap ada seseorang yang datang kesini. Semoga saja.. dia yang datang.
Ngomong-ngomong, pertanyaan yang tadi Flave tanyakan belum dijawab juga oleh Anno. Sial.
Labels: flave, graduated from hogwarts, little reunion